Koridor.co.id — JAKARTA – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan peran krusial perguruan tinggi dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat.
Penegasan ini disampaikan Agus Jabo saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat XI (SNasPPM XI) yang diselenggarakan Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW) Tuban. Seminar yang mengusung tema ‘Peran Strategis Pendidikan Tinggi untuk Membangun Generasi Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045’ ini digelar secara hybrid, dengan Agus Jabo mengikuti secara daring dari kantor Kementerian Sosial di Jakarta.
Agus Jabo menjelaskan bahwa pendidikan memiliki keterkaitan erat dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Ia menggarisbawahi bahwa kemiskinan tidak hanya menyangkut aspek pendapatan, tetapi juga mencakup akses terhadap pendidikan, kesehatan, gizi, keterampilan, modal, dan kesempatan kerja.
“Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah alat perjuangan sosial, alat mobilisasi sosial, dan alat pembebasan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan,” ujar Agus Jabo dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026).
Dalam konteks ini, ia menyoroti program Sekolah Rakyat sebagai salah satu inisiatif pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Menurutnya, Sekolah Rakyat lebih dari sekadar penyediaan fasilitas fisik, melainkan sebuah gerakan sosial yang bertujuan memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
“Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah. Sekolah Rakyat adalah gerakan sosial, gerakan pembebasan melawan kemiskinan, gerakan untuk memuliakan rakyat, dan gerakan untuk membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin,” katanya.
Agus Jabo mendorong perguruan tinggi untuk melampaui batas-batas akademis dan memastikan bahwa ilmu pengetahuan serta hasil riset memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya relevansi aplikasi ilmu pengetahuan di tengah persoalan rakyat.
“Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berputar di ruang seminar, riset tidak boleh hanya berhenti di jurnal, mahasiswa tidak boleh hanya mengejar nilai, dosen tidak boleh hanya mengejar publikasi. Karena ilmu pengetahuan yang tidak menyentuh persoalan rakyat akan kehilangan sebagian dari maknanya,” tegasnya.
Ia mengusulkan agar keberhasilan perguruan tinggi diukur tidak hanya dari jumlah lulusan atau publikasi penelitian, tetapi lebih kepada perubahan positif yang berhasil diciptakan bagi masyarakat. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah seberapa banyak petani, nelayan, pelaku UMKM, dan masyarakat miskin yang produktivitasnya meningkat berkat dukungan dari kampus dan lulusannya.
Agus Jabo melihat potensi besar dalam kolaborasi antara Kementerian Sosial (Kemensos) dan perguruan tinggi, terutama dalam program pemberdayaan masyarakat. Kemensos memiliki data sasaran program, pendamping sosial, sentra layanan, dan instrumen sosial lainnya, sementara perguruan tinggi memiliki keunggulan dalam ilmu pengetahuan, sumber daya dosen dan mahasiswa, laboratorium, serta kapabilitas riset dan inovasi.
“Kalau kekuatan ini kita gabungkan, kita bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Kemensos membawa persoalan nyata, kampus membawa ilmu pengetahuan, dunia usaha membawa modal dan pasar, pemerintah daerah membawa potensi wilayah, masyarakat akan menjadi pelaku utamanya. Inilah yang saya sebut sebagai ekosistem pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.
Kendati demikian, Agus Jabo menegaskan bahwa perlindungan sosial tetap menjadi prioritas bagi masyarakat yang menghadapi krisis dan membutuhkan bantuan segera. Namun, intervensi sosial harus diarahkan untuk mencapai kemandirian masyarakat.
“Tugas kita bukan membuat masyarakat harus menunggu bantuan sosial. Tugas kita adalah membuat masyarakat bisa berdaya dan mandiri, hidup sejahtera,” kata Agus Jabo.
Oleh karena itu, Kemensos mendorong pendekatan pemberdayaan ekonomi yang mengintegrasikan kewirausahaan, bantuan modal, dan pelatihan keterampilan. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendampingan berkelanjutan, mulai dari asesmen kebutuhan, pelatihan, praktik, fasilitasi akses modal dan pasar, pengembangan usaha, hingga proses evaluasi dan graduasi.
Ia juga mengajak perguruan tinggi untuk membangun gerakan ‘Kampus Berdaya Menuju Masyarakat Mandiri’ melalui program-program seperti desa binaan, UMKM binaan, laboratorium kewirausahaan sosial, serta program pemberdayaan yang melibatkan mahasiswa secara langsung.
“Bukan berapa banyak kegiatan yang kita lakukan, tetapi berapa banyak pendapatan masyarakat meningkat, berapa banyak usaha tumbuh, berapa banyak lapangan kerja kita ciptakan, berapa banyak keluarga keluar dari kemiskinan, dan berapa keluarga yang sudah berdaya dan mandiri,” tegasnya.
Agus Jabo berharap perguruan tinggi mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki produktivitas, karakter kuat, kreativitas, serta kepedulian mendalam terhadap persoalan masyarakat.
“Dari kampus kita bangun ilmu, dari ilmu kita bangun inovasi, dari inovasi kita bangun produksi, dari produksi kita bangun kemandirian dan kesejahteraan. Dan dari kesejahteraan rakyat, kita bangun Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Ikuti Koridor.co.id
