Koridor.co.id — JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali bersama Jenderal TNI Purnawirawan Agum Gumelar melakukan kunjungan ke Kraton Majapahit yang berlokasi di Jakarta Timur. Kedatangan mereka disambut langsung oleh pendiri Kraton Majapahit, A.M. Hendropriyono.
Kedua tamu kehormatan tiba di lokasi pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.50 WIB. Setelah disambut oleh Hendropriyono, mereka diajak untuk berkeliling kompleks kraton. Selama tur, Hendropriyono memandu mereka melihat berbagai arsitektur dan patung, sembari memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarahnya.
Salah satu penjelasan yang diberikan adalah mengenai patung pasukan Mongol. Hendropriyono menceritakan peristiwa penyerangan pasukan Mongol ke Singasari pada tahun 1293, yang kemudian berhasil dipatahkan oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Raden Wijaya dalam sebuah pertempuran yang dikenal sebagai Perang Segitiga.
Menurut Hendropriyono, Kraton Majapahit ini memiliki kaitan erat dengan sejarah kejayaan angkatan laut nenek moyang bangsa Indonesia. Ia menekankan relevansi sejarah maritim ini bagi rekan-rekannya di TNI Angkatan Laut. “Ini memang ada kaitannya saya informasikan dan mungkin ingatkan dengan armada laut terbesar di Asia Tenggara yang namanya Majapahit. Majapahit itu menjadi satu kekuatan mandala, yaitu suatu kekuatan yang mempunyai pengaruh pada daerah-daerah di hampir seluruh Asia Tenggara,” ujar Hendropriyono dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa Kraton Majapahit didirikan dengan tujuan agar setiap pengunjung dapat lebih mengenal sejarah Indonesia. “Saya dan kawan-kawan dan keluarga di sini kita membuat keraton ini untuk sekedar mengingat bahwa bangsa kita ini adalah bangsa yang besar. Yang tidak benar seperti digembar-gemborkan di forum internasional bahwa bangsa barat yang kolonialisme dulu datang ke sini untuk membikin kita beradab,” ungkapnya.
Hendropriyono juga menyebutkan bahwa Kraton Majapahit telah menerima banyak kunjungan dari berbagai kalangan, mulai dari siswa hingga mahasiswa. Meskipun informasi sejarah kini mudah diakses melalui internet, Hendropriyono meyakini pembelajaran langsung memberikan pengalaman yang lebih berkesan. “Jadi berbondong-bondong dan gantian dari UI sudah, Universitas Jakarta, kemudian dari Padjadjaran, Diponegoro, dan anak-anak SMA, SMP, SD, bahkan Taman Kanak-kanak ke sini. Dan mereka terpacu setelah melihat ini lalu mereka baru lihat Google, karena sebetulnya kan ada semua di Google, hanya malas untuk melihat Google,” jelasnya.
Ia melanjutkan, “Yang dilihat kan main play game aja, tidak mau lihat sejarah. Tapi dengan melihat satu-satu, lihat Hayam Wuruk, lihat Majapahit, mereka buka, buka Google, buka YouTube. Alhamdulillah saya melihat banyak sekali kemajuan respon dari mereka.”
Ikuti Koridor.co.id
