— JAKARTA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara langsung mendatangi Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memastikan tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) memaksimalkan pendampingan dan layanan kesehatan bagi warga yang terdampak gempa bumi. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, terutama lansia yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

“Bukan hanya kebutuhan logistik yang harus kita pikirkan. Layanan kesehatan dan pendampingan psikososial juga penting, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” ujar Khofifah dalam keterangan tertulis pada Senin (24/8/2026).

Penyerahan bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Provinsi Jatim dan program Corporate Social Responsibility (CSR) ini berlangsung di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, pada Minggu (23/8).

Untuk mengoptimalkan dukungan, Pemprov Jatim telah mengerahkan tim LDP yang beranggotakan lima orang. Tim ini telah berada di lokasi selama tiga hari untuk memberikan pendampingan kepada warga terdampak, khususnya anak-anak dan lansia.

“Kami mengirim tim LDP, Layanan Dukungan Psikososial. Tim LDP ini ada 5 orang yang sudah 3 hari berada di sini. Ini tim trauma healing. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada anak-anak, bapak-ibu dan lansia. Mereka membutuhkan waktu untuk mendapatkan pendampingan, konseling dan trauma healing,” jelas Khofifah.

Pendampingan psikososial bagi lansia difokuskan untuk membantu mereka menenangkan perasaan, mengurangi kepanikan, dan meredakan dampak stres pasca-bencana. Tim LDP juga menerapkan teknik defusing dan debriefing sebagai bagian dari upaya pencegahan trauma lanjutan atau *secondary trauma*.

Pendekatan ini melibatkan pemberian ruang bagi lansia untuk menceritakan pengalaman mereka, sekaligus membantu mengelola rasa takut dan kepanikan setelah gempa.

Khofifah menekankan bahwa pendampingan psikososial memerlukan proses berkelanjutan. Selama warga masih berada dalam situasi bencana dan pengungsian, dukungan ini harus terus diberikan.

“Prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini membutuhkan waktu. Karena itu, selama masih dalam situasi bencana dan pengungsian, pendampingan perlu terus dilakukan agar anak-anak, bapak-ibu dan lansia bisa kembali kuat,” katanya.

Selain dukungan psikososial, Khofifah juga memastikan lansia di pengungsian tetap menerima layanan kesehatan yang memadai. Pemantauan kesehatan sangat penting bagi mereka yang berada dalam situasi pengungsian pasca-gempa.

Sebelumnya, Pemprov Jatim telah mengirimkan tujuh dokter ortopedi serta 10 dokter dan perawat untuk memperkuat pelayanan kesehatan di RSUD Ruteng. Sebanyak 14 jenis obat-obatan esensial juga telah dikirim untuk mendukung penanganan kesehatan di lapangan.

“Untuk para lansia, mereka membutuhkan perhatian dan pendampingan. Kita berharap layanan kesehatan bisa berjalan dengan baik sehingga mereka merasa lebih aman dan tidak sendiri dalam menghadapi situasi ini,” imbuhnya.

Khofifah menambahkan bahwa penanganan warga terdampak gempa membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, relawan, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing demi kelancaran proses pemulihan.

“Kita semua bersaudara. Mudah-mudahan yang sakit segera sembuh dan seluruh warga diberikan kekuatan. Yang penting sekarang bagaimana kita bersama-sama memberikan penguatan agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi ujian ini,” pungkas Khofifah.