— JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memberikan gambaran mengenai kebijakan dividennya untuk tahun buku 2026, termasuk potensi sumber pendanaannya. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Indonesia, Arthur Angelo Syailendra, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen menyajikan imbal hasil yang menarik bagi para pemegang saham sembari tetap menjaga kapabilitas investasi dan kesehatan neraca keuangan.

“Komitmen tersebut ditopang oleh arus kas kami yang sehat serta penerapan belanja modal (capital expenditure/capex) yang semakin disiplin dan terarah,” ujar Arthur dalam sebuah konferensi pers virtual pada Senin (7/9/2026).

Selain komitmen terkait dividen, Arthur menambahkan, Telkom juga tengah menjalankan transformasi dan inisiatif *unlocking value* yang diharapkan dapat memperkuat fleksibilitas finansial perseroan.

Sumber Dana Potensial

Arthur menjelaskan, apabila Telkom menerima dana dari hasil divestasi atau monetisasi aset, kebijakan penggunaannya akan dievaluasi secara menyeluruh oleh perseroan. Evaluasi ini mencakup apakah dana tersebut akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan investasi dan memperkuat neraca, atau bahkan digunakan sebagai tambahan imbal hasil bagi para pemegang saham.

“Yang jelas, kebijakan dan besaran dividen akan tetap mempertimbangkan kinerja keuangan, kebutuhan pendanaan, serta persetujuan pemegang saham dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham),” imbuh Arthur.

Rasio Pembayaran Dividen

Mengenai rasio pembayaran dividen, Arthur menegaskan bahwa Telkom secara prinsip akan berupaya memberikan periode terbaik bagi para pemangku kepentingan dan pemegang saham dengan fokus pada pembagian dividen tunai.

“Per-asumsi kami, total dividen yang akan dibagikan berdasarkan dividen payout ratio sebesar 60% hingga 90% dari laba bersih,” papar Arthur.

Lebih lanjut, Telkom akan menyeimbangkan pertumbuhan dividen per saham dengan kebutuhan ekspansi dan investasi perusahaan, kinerja yang dicapai, kondisi pasar, serta aspirasi para pemegang saham.

Berdasarkan laporan keuangan Telkom yang berakhir pada 30 Juni 2026, pendapatan perseroan tercatat tumbuh sebesar 3,84% dari Rp73 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp75,8 triliun. Margin EBITDA terjaga di posisi 49,4%.

Kinerja positif ini diikuti dengan kenaikan laba usaha menjadi Rp20,13 triliun pada semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp19,2 triliun. Hal ini turut mengerek laba bersih TLKM menjadi Rp10,63 triliun pada semester I-2026, dengan arus kas perseroan yang menguat sebesar 7% secara tahunan.