— JAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah beralih dari erupsi menerus menjadi letusan bertipe strombolian. Perubahan karakteristik letusan ini menandai akhir dari fase erupsi yang berlangsung cukup panjang.

Menurut keterangan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), letusan strombolian merupakan salah satu jenis erupsi gunung berapi. Fenomena ini ditandai dengan semburan lava pijar yang berasal dari magma dangkal. Umumnya, tipe erupsi ini sering ditemukan pada gunung api yang aktif di tepi benua atau di daratan benua.

Definisi serupa juga diungkapkan oleh U.S. Geological Survey (USGS). Badan geologi Amerika Serikat tersebut mengartikan strombolian sebagai tipe erupsi yang mengeluarkan lava cair secara berselang-seling dari lubang erupsi atau kawah.

Ciri utama dari letusan strombolian adalah adanya letupan-letupan eksplosif berskala kecil hingga sedang yang terjadi secara berkala atau intermiten. Material pijar seperti bom vulkanik, lapili, dan scoria kerap dilontarkan ke udara dari kawah.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa letusan strombolian terjadi akibat interaksi antara magma cair dengan tekanan gas yang bersifat sedang. “Akibat magma cair dengan tekanan gas sedang,” ujar Teuku dalam sebuah konferensi pers daring.

Ia menambahkan bahwa letusan tipe strombolian bersifat eksplosif ringan dengan interval waktu yang relatif teratur dan berulang. “Jadi terjadi letusan-letusan yang kecil yang berulang secara teratur kemudian ini yang memunculkan kembang api lava, bom vulkanik dan lapili ke udara,” jelasnya.

Erupsi Gunung Anak Krakatau Berganti Jadi Strombolian

Episode erupsi menerus yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau, yang berlokasi di Lampung Selatan, telah berakhir setelah berlangsung selama 25 jam. Karakteristik erupsi gunung api tersebut kini menunjukkan perubahan.

Badan Geologi melalui akun media sosialnya, @badan.geologi, melaporkan bahwa tiga kali letusan strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir. Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sendiri dimulai pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.

Aktivitas letusan strombolian dapat berlangsung dalam durasi yang sangat lama, di mana sistem erupsi dapat berulang kali mengatur ulang dirinya sendiri. “Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunung api Anak Krakatau saat ini untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang,” demikian keterangan dari Badan Geologi.