— JAKARTA – Badan Geologi (BG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan terkait fenomena sejumlah gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi secara bersamaan. Penjelasan ini disampaikan menyusul keresahan masyarakat terkait aktivitas vulkanik beberapa gunung yang meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Melalui akun media sosial Threads @badan.geologi, Badan Geologi menegaskan bahwa erupsi simultan ini bukanlah hal yang aneh. Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik memiliki banyak gunung berapi aktif, sehingga sangat memungkinkan beberapa di antaranya mengalami erupsi pada hari yang sama secara alami.

Beberapa gunung yang dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas dan erupsi meliputi Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Merapi di Yogyakarta, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara.

Badan Geologi menekankan bahwa erupsi beberapa gunung api yang terjadi pada waktu yang berdekatan merupakan aktivitas vulkanis yang alami dan tidak saling memicu satu sama lain. Setiap gunung memiliki karakteristiknya sendiri, dan erupsi bisa menjadi bagian dari aktivitas rutin tanpa harus berskala besar.

Pihak Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan perubahan signifikan pada aktivitas gunung berapi dan mematuhi rekomendasi radius jarak aman yang telah ditetapkan. “Beberapa gunungapi memang dapat erupsi pada hari yang sama secara alami dan ini tidak memicu aktivitas satu gunung dengan gunung lainnya. Hal ini karena erupsi gunungapi adalah hal yang wajar, mengingat kita berada pada daerah cincin api pasifik yang memiliki banyak gunungapi,” jelasnya.

Perubahan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Dalam keterangannya, Badan Geologi juga menyoroti perubahan karakteristik erupsi pada Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan. Setelah mengalami episode erupsi menerus selama 25 jam, gunung ini kini menunjukkan aktivitas letusan Strombolian.

Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Kembalinya erupsi Strombolian ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang.

Letusan Strombolian sendiri merupakan jenis letusan gunung berapi dengan ledakan yang relatif ringan dan dapat berlangsung dalam durasi yang lama. Aktivitas ini memungkinkan sistem erupsi untuk mengatur ulang dirinya berulang kali.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga (Level III). Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk menjaga jarak aman sejauh 3 kilometer dari gunung tersebut dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Ancaman bahaya utama erupsi meliputi lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi.