Koridor.co.id — JAKARTA – Saham emiten yang terafiliasi dengan Boy Thohir, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), menunjukkan performa impresif dengan membukukan kenaikan 40,62% dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Performa ini membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi sebelumnya.
Sebelumnya, saham AADI sempat mengalami koreksi signifikan, anjlok dari level Rp 11.600 per lembar pada 30 April 2026 menjadi Rp 7.450 pada 8 Juni 2026. Namun, tren tersebut berbalik arah, dan kini saham Adaro Andalan Indonesia telah berhasil merangkak naik ke posisi Rp 11.250 per Jumat, 4 September 2026.
Kinerja kuat yang dicatatkan perusahaan batu bara termal besar nasional ini pada paruh pertama tahun 2026 menjadi katalisator utama lonjakan harga sahamnya. Para analis pun memproyeksikan target harga saham AADI akan terus meningkat.
Berdasarkan riset yang dirilis oleh Mandiri Sekuritas (Mansek), AADI berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 330 juta pada kuartal II-2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 42% secara tahunan (year-on-year) dan lonjakan 131% secara kuartalan (quarter-on-quarter). Pertumbuhan ini turut mendongkrak laba bersih semester I-2026 menjadi US$ 473 juta, atau tumbuh 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perolehan ini melampaui proyeksi Mansek dan konsensus analis, masing-masing sebesar 53% dan 63%.
Menurut Mansek, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) batu bara sebesar 21% secara tahunan, sementara volume penjualan tercatat tumbuh 2%.
“Pendapatan AADI pada kuartal II-2026 mencapai US$ 1,5 miliar, naik 22% secara tahunan. Akumulasi pendapatan semester I-2026 mencapai US$ 2,5 miliar, tumbuh 6%, setara dengan 51% dan 47% dari proyeksi Mansek dan konsensus untuk setahun penuh,” demikian kutipan dari riset Mansek yang dipublikasikan pada Senin, 31 Agustus 2026.
Kinerja Operasional dan Target Harga AADI
Lebih lanjut, Mansek mencatat bahwa volume penjualan batu bara AADI pada semester I-2026 mencapai 33,5 juta ton, sedikit menurun 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, ASP batu bara mengalami kenaikan 10% menjadi US$ 71,1 per ton.
Mansek memprediksi biaya kas (cash cost) AADI di luar royalti berada di kisaran US$ 38,9 per ton. Perusahaan ini mendistribusikan 30% dari total penjualannya ke pasar domestik, sementara sisanya diekspor ke berbagai negara. Pasar ekspor terbesarnya adalah India dan China, yang masing-masing menyerap 19% dan 9% dari total volume ekspor.
Dengan mempertimbangkan kinerja dan prospek perusahaan, Mansek menetapkan rekomendasi ‘buy’ untuk saham AADI dengan target harga Rp 13.500. Analis menyukai AADI karena dinilai memiliki struktur biaya yang efisien dan risiko pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang rendah.
Ikuti Koridor.co.id
