Koridor.co.id — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terkini penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia. Khusus di Kalimantan Barat (Kalbar), tercatat sebanyak 2.610 titik panas atau hotspot terdeteksi.
Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengungkapkan bahwa selain hotspot, terdapat pula 64 titik api atau firespot yang mengindikasikan kebakaran seluas lebih dari 38.310 hektare. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang di Kalbar menyusut drastis hingga di bawah 1 kilometer.
Meskipun demikian, hujan dilaporkan telah turun di sejumlah kabupaten di Kalbar berkat operasi modifikasi cuaca (OMC). Di Kalimantan Tengah, BNPB mencatat 2.110 hotspot dan 55 firespot dengan indikasi lahan terbakar seluas lebih dari 7.634 hektare. Jarak pandang di Kalteng dilaporkan normal, di atas 10 km.
Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 817 hotspot dan 1.995 firespot, dengan indikasi luas lahan terbakar mencapai lebih dari 9.605 hektare dan jarak pandang di atas 9 km.
Di Sumatera Selatan, ditemukan 1.438 hotspot dan 25 firespot, mengindikasikan lahan terbakar seluas lebih dari 1.926 hektare. Jarak pandang di wilayah ini sekitar 3 km. Provinsi Riau mencatat 225 hotspot dan 10 firespot, dengan indikasi lahan terbakar lebih dari 16.439 hektare dan jarak pandang di atas 1 km.
Hujan juga dilaporkan terjadi di beberapa kabupaten di Riau berkat OMC. Di Jambi, BNPB menemukan 134 hotspot dan 11 firespot, dengan indikasi luas lahan terbakar lebih dari 954 hektare dan jarak pandang 1 km.
Petugas gabungan terus berupaya memadamkan api, termasuk melalui operasi water bombing yang telah mengangkut dan menyebarkan sekitar 4,6 juta liter air di enam provinsi prioritas. Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala signifikan, terutama pada kebakaran lahan gambut yang membutuhkan banyak air dan sulit dijangkau karena sumber air yang menyusut.
Faktor cuaca dan iklim juga menjadi tantangan dalam melakukan operasi udara, termasuk dalam mencari titik-titik awan yang ideal. Jarak pandang yang terbatas juga menjadi faktor penting yang memengaruhi efektivitas operasi pemadaman udara.
Ikuti Koridor.co.id
