Koridor.co.id — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda serta potensi dampak sebaran abu vulkaniknya ke wilayah ibu kota. Pemantauan ini dilakukan seiring dengan adanya erupsi yang tercatat pada Minggu (6/9/2026) pukul 07.10 WIB.
Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 16 detik. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini tetap berada pada Level III atau Siaga. Potensi ancaman utama di sekitar kawah gunung berapi ini adalah aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Oleh karena itu, masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas erupsi serupa pada pukul 09.03 WIB dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan durasi sekitar 29 detik. Hingga pemantauan dilakukan, tidak ditemukan anomali signifikan pada rekaman seismograf BMKG dan tidak ada kenaikan muka air laut yang berarti.
Zona sebaran abu vulkanik terpantau meluas, bahkan telah mencapai Kabupaten Purbalingga di Jawa Tengah dan sebagian wilayah DKI Jakarta. Menanggapi situasi ini, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengimbau warga untuk tetap tenang namun tetap waspada.
“Warga Jakarta kami minta tetap tenang, tetapi waspada. Ikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BPBD, dan Pemprov. Jangan mudah percaya kabar yang belum terverifikasi. Kesehatan dan keselamatan warga adalah prioritas kami,” ujar Chico Hakim.
Pemprov DKI Jakarta juga memberikan sejumlah imbauan kepada warga. Di antaranya adalah penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah, mengurangi kegiatan di luar ruangan jika tidak mendesak, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi untuk mencegah abu vulkanik masuk ke dalam rumah. Warga juga diimbau untuk menggunakan kacamata pelindung guna mencegah iritasi mata, tidak mengucek mata jika terkena abu, segera membilasnya dengan air bersih, menutup makanan dan minuman, serta membersihkan abu dengan cara basah untuk menghindari menyapu kering.
Selain itu, pengendara diimbau untuk berhati-hati saat berkendara karena jarak pandang yang berkurang dan potensi jalanan yang licin akibat abu. Warga yang mengalami sesak napas, iritasi mata berat, atau keluhan kesehatan lainnya disarankan untuk segera mencari pertolongan medis. Pemantauan informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah sangat penting, dan warga dapat menghubungi layanan Jakarta Siaga 112 jika dalam keadaan darurat.
Pemprov DKI Jakarta menyatakan akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait dan akan menyampaikan perkembangan terbaru secara berkala mengenai situasi Gunung Anak Krakatau.
Ikuti Koridor.co.id
