Koridor.co.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi pergerakan angin sebagai faktor utama yang menyebabkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan meluas hingga ke negara tetangga.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa asap tersebut terbawa oleh pola angin musiman yang rutin terjadi. “Asap karhutla sampai ke negara tetangga karena terbawa angin,” kata Ardhasena dalam keterangan di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Kondisi angin musiman ini memungkinkan asap dari wilayah Indonesia berpotensi mencapai kawasan negara lain. Ardhasena menambahkan, “Angin musiman yang rutin terjadi.”
Koordinasi penanganan dan antisipasi dampak asap karhutla saat ini berada di bawah kendali Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB mengimbau negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, untuk tidak saling menyalahkan terkait dampak asap tersebut.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, menekankan bahwa karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun negara. Oleh karena itu, penanganannya memerlukan upaya bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif. “Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas,” ujarnya.
Berton mengakui pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap dampak asap lintas batas. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla. “Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla,” ungkapnya.
Penanganan karhutla meliputi pemadaman darat, patroli, pemadaman udara, water bombing, operasi modifikasi cuaca, serta penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan juga terus dilakukan.
Pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk operasi karhutla di enam provinsi prioritas, dengan 30 pesawat beroperasi di Kalimantan dan 22 pesawat di Sumatra. Kekuatan TNI AU juga ditingkatkan untuk memperkuat operasi penanganan di wilayah Kalimantan. “Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan,” jelas Berton.
Ikuti Koridor.co.id
