— Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi gangguan kesehatan akibat sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa, melainkan campuran kompleks mineral, bebatuan, hingga partikel kaca yang sangat berbahaya jika terhirup. Paparan abu ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan memperburuk kondisi penderita penyakit paru kronik.

Menurut Prof Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), partikel abu vulkanik yang masuk ke saluran napas dapat menimbulkan gejala seperti batuk, iritasi tenggorokan, hingga gangguan yang menyerupai bronkitis. “Abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan dan partikel kaca yang keluar waktu letusan gunung berapi,” ujar Tjandra.

Risiko kesehatan menjadi lebih tinggi bagi individu yang telah memiliki riwayat penyakit paru kronik. Paparan abu vulkanik dapat memperparah kondisi penderita asma bronkial maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Dampak negatifnya tidak terbatas pada sistem pernapasan, abu vulkanik juga berpotensi mengiritasi mata dan kulit. Apabila material ini mencemari sumber air dan makanan, masyarakat juga berisiko mengalami gangguan saluran pencernaan.

Dalam situasi ekstrem, menghirup abu vulkanik dalam jumlah yang sangat besar, terutama bagi mereka yang berada dekat dengan lokasi letusan, dapat menyebabkan asfiksia. Kondisi ini adalah kekurangan oksigen yang dapat menimbulkan sensasi seperti tercekik.

Erupsi Terkuat Tahun Ini

Peringatan ini dikeluarkan menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung terus-menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa rangkaian erupsi pada 4–5 September merupakan aktivitas dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026 sejak gunung berapi tersebut ditetapkan berstatus Siaga. Erupsi ini ditandai dengan semburan lava (lava fountain), dentuman keras, dan suara gemuruh yang terdengar hingga wilayah Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.

Abu vulkanik kemudian terbawa oleh arah angin. Pada Sabtu (05/09/2026) malam, hujan abu tipis dilaporkan terjadi di pesisir Banten. Keesokan harinya, Minggu (06/09/2026) pagi, abu vulkanik dilaporkan telah mencapai Karang Tengah, Kota Tangerang, yang berbatasan langsung dengan Jakarta. Analisis lebih lanjut dari PVMBG dan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin mengidentifikasi sebaran abu pada berbagai ketinggian yang meluas ke wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan daerah lainnya.

Dampak sebaran abu vulkanik bahkan sempat mengganggu operasional penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta terpaksa ditutup sementara pada Minggu (06/09/2026) dari pukul 01.30 hingga 05.30 WIB. Penutupan ini dilakukan setelah pengujian ‘paper test’ menunjukkan indikasi positif adanya abu vulkanik di sekitar bandara. Sedikitnya 33 penerbangan dilaporkan terdampak berdasarkan pemantauan hingga Sabtu malam.

Meskipun aktivitas vulkanik terpantau tinggi, status Gunung Anak Krakatau hingga saat ini tetap berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. PVMBG juga menegaskan bahwa berdasarkan kondisi tubuh gunung saat ini, aktivitas erupsi tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Lima Langkah Perlindungan dari Abu Vulkanik

Menghadapi kemungkinan sebaran abu yang lebih luas, Prof Tjandra Yoga Aditama menyarankan lima langkah perlindungan bagi masyarakat. Pertama, penting untuk terus mengikuti informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga terkait mengenai perkembangan erupsi dan konsentrasi abu di wilayah masing-masing.

Kedua, penggunaan masker sangat disarankan, terutama saat konsentrasi abu meningkat dan bagi penderita penyakit paru kronik. Jika terpapar abu dalam jumlah cukup banyak, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diimbau untuk mengenakan kacamata pelindung dan pakaian berlengan panjang.

Ketiga, aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan sebaiknya dibatasi apabila konsentrasi abu meningkat. Semakin berat aktivitas seseorang, semakin besar pula kebutuhan pernapasannya, sehingga potensi masuknya partikel berbahaya melalui saluran pernapasan perlu diwaspadai.

Keempat, bagi mereka yang baru kembali dari aktivitas di luar rumah, disarankan untuk segera membersihkan diri dan mencuci pakaian yang terpapar abu. Langkah sederhana ini penting untuk mengurangi paparan lanjutan di dalam rumah.

Kelima, jika kadar abu di luar rumah sudah sangat mengkhawatirkan, rumah disarankan untuk ditutup rapat demi mencegah masuknya material vulkanik. Namun, Prof Tjandra menilai langkah penutupan rumah secara rapat belum menjadi prioritas untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Minggu pagi (06/09/2026).

Ia menekankan agar masyarakat tidak panik, namun tetap memperhatikan perkembangan informasi resmi karena arah dan konsentrasi sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu. “Mudah-mudahan situasi tidak memburuk di hari-hari mendatang,” ujarnya.

Prof Tjandra juga mengingatkan masyarakat yang mulai merasakan keluhan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik untuk segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Menjaga pola hidup sehat juga penting untuk memelihara kondisi dan daya tahan tubuh.