Koridor.co.id — JAKARTA – SMK Negeri 2 Garut berhasil menorehkan sejarah dengan meraih gelar juara pertama dalam Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) MPR RI Tingkat Nasional Tahun 2026. Prestasi ini menjadi yang pertama kali diraih oleh sekolah tersebut dalam ajang LKBB-PB.
Ketua Dewan Juri sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia (PPI), Widi Keswianto, mengumumkan capaian ini setelah proses seleksi yang melibatkan 30 sekolah dari 30 provinsi di Jakarta pada Sabtu (5/9/2025). Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat MPR RI, termasuk Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
Dewan juri yang bertugas dalam penilaian terdiri dari unsur TNI Mayor Krisman Syahputra, unsur Polri Aiptu Agus Haryadi, serta perwakilan dari PPI seperti Bondan Setio Darmawan, Doni Rampansyah, Fhaiz Alifa, dan Arya Pratama.
“Baik, kita masuk di Juara 1. Silakan tarik napas dulu, adik-adik sekalian. Juaranya adalah di antara yang belum dipanggil. Dari Provinsi Jawa Barat, nomor tampil 24, diwakili oleh SMK Negeri 2 Garut,” ujar Widi pada Sabtu (6/9/2026), disambut sorak kebahagiaan.
Juara kedua diraih oleh SMA Negeri 1 Kendari dari Sulawesi Tenggara, sementara juara ketiga jatuh pada SMA Negeri 1 Pangkalan Bun dari Kalimantan Tengah. Tiga sekolah lainnya berhasil meraih gelar juara harapan, yaitu SMA Negeri 1 Gianyar (Bali), SMA Negeri 99 Jakarta (DKI Jakarta), dan SMA Negeri 3 Langsa (Aceh).
Widi Keswianto menyampaikan kebanggaannya atas dedikasi luar biasa dari 30 kontingen provinsi yang telah melalui seleksi ketat dari tingkat kabupaten hingga provinsi. Ia mengapresiasi semangat para peserta yang menunjukkan kebanggaan atas partisipasi mereka.
Kompetisi ini dirancang untuk mengintegrasikan kedisiplinan aturan baku dengan ruang kreativitas generasi muda, khususnya dalam hal formasi dan yel-yel bertema wawasan kebangsaan. “Dengan tidak menyalahi aturan baku dan tata upacara, ada waktu di mana mereka diperbolehkan melakukan aktivitas kreativitas, yang bentuknya berupa barisan-barisan yang mereka kombinasikan untuk mengatur formasi,” jelasnya.
Widi juga menyoroti perjuangan gigih peserta dari daerah terpencil yang menempuh perjalanan jauh untuk hadir di ‘Rumah Rakyat’. Ia mengungkapkan bahwa ada peserta yang harus menempuh perjalanan lebih dari 10 jam hanya untuk mencapai bandara, menunjukkan betapa jauhnya asal para wakil provinsi ini.
Pengalaman berharga ini diharapkan dapat mempererat pertemanan lintas daerah dan memperkuat tekad MPR RI untuk memperluas partisipasi hingga seluruh provinsi pada pelaksanaan LKBB-PB MPR RI tahun mendatang.
Komandan Pleton SMK Negeri 2 Garut, Rival Kartono, mengungkapkan bahwa kemenangan ini bukanlah hal yang mudah diraih. Ia menceritakan kisah inspiratif tentang ketekunan, adaptasi, dan tekad kuat timnya, yang berangkat dengan keterbatasan pengalaman di kancah nasional.
“Perjuangan dari Paskibra SMK Negeri 2 Garut untuk menuju ke tingkat nasional ini tidaklah mudah. Dikarenakan kita juga tidak punya basic dan tidak pernah mengikuti kegiatan lomba pengibaran ini, jadi kita sangat kesusahan untuk menyesuaikan bagaimana peraturan atau tata cara yang benar itu seperti apa,” tutur Rival.
Tanpa latar belakang pengalaman bertanding di tingkat nasional, tim SMK Negeri 2 Garut berinisiatif mencari sumber belajar mandiri. Mereka mempelajari teknik baris-berbaris melalui video di YouTube dan aktif berkonsultasi dengan senior dari Purna Paskibraka Indonesia (PPI).
“Kita mencari informasi itu dengan cara seperti menonton video di YouTube dan kita bertanya kepada Purna Paskibraka Indonesia. Untuk tantangannya alhamdulillah tidak ada, tapi kita ingin menampilkan yang terbaik,” ungkapnya.
Tekad kuat ini diterjemahkan melalui disiplin latihan yang sangat ketat. Selama sebulan penuh menjelang perlombaan, tim meluangkan waktu istirahat akhir pekan demi menyempurnakan setiap gerakan. “Kita terus latihan, mungkin selama satu bulan penuh ini tidak ada libur, walaupun weekend juga kita tetap latihan,” kata Rival.
Ujian mental dan fisik semakin teruji ketika mereka harus menghadapi penyesuaian teknis di lapangan. Perubahan spesifikasi teknis tiang bendera sempat menjadi tantangan tersendiri yang menuntut daya adaptasi tinggi dalam waktu singkat. “Sama kita juga ganti-ganti tiang, soalnya ada dari informasi 10 meter, terus ganti lagi jadi 17 meter. Kita mencoba untuk beradaptasi, menyesuaikan untuk pengibarannya,” tutupnya.
Ikuti Koridor.co.id
