— Investor asing menunjukkan minat baru terhadap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan melakukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 83,2 miliar dalam periode 31 Agustus hingga 4 September 2026. Perubahan sentimen ini sangat kontras dengan pekan sebelumnya, di mana investor asing justru tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 132,1 miliar.

Transaksi pembelian oleh investor asing ini terjadi di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI). Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 2,3 triliun di seluruh pasar BEI dalam sepekan terakhir, melanjutkan tren positif dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp 279,2 miliar.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 4 September 2026, saham BUMI berhasil menguat 1,9% ke level Rp 210. Kenaikan ini melanjutkan tren positif BUMI dalam sepekan terakhir yang melonjak 10,5%, dan dalam sebulan terakhir yang mencapai 25%. Namun, jika dilihat secara year-to-date (ytd), saham BUMI masih tercatat mengalami penurunan sebesar 42,6%.

Di tengah pergerakan harga tersebut, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BUMI dengan target harga yang ambisius di Rp 300. Target harga ini mengindikasikan potensi kenaikan hingga 42,8% dari harga penutupan terakhir.

Target harga tersebut didasarkan pada metode valuasi sum of the parts (SOTP), yang menghitung nilai perusahaan dengan menjumlahkan nilai dari setiap unit bisnis dan asetnya. Samuel Sekuritas memproyeksikan kinerja Bumi Resources akan semakin membaik pada kuartal III-2026 dan berlanjut hingga akhir tahun.

Prospek positif BUMI didukung oleh beberapa faktor. Peningkatan produksi emas Wolfram menjadi salah satu katalis utama, bersama dengan pemulihan laba PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Selain itu, potensi penurunan biaya operasional seiring meredanya harga bahan bakar juga diperkirakan akan memberikan kontribusi positif.

Bagi bisnis batu bara, prospek BUMI turut ditopang oleh potensi kenaikan harga akibat fenomena El Nino. Volume produksi juga dinilai relatif terlindungi melalui pemanfaatan conveyor belt.

Samuel Sekuritas menguraikan bahwa transformasi operasional Bumi Resources berjalan melalui dua jalur strategis. Pertama, ekspansi bisnis emas melalui akuisisi perusahaan seperti Wolfram yang mulai berproduksi pada akhir Mei 2026, serta Loyal Metal Mining yang rampung pada Agustus 2026. Kedua, penguatan kinerja bisnis batu bara yang diharapkan seiring kenaikan harga akibat El Nino, sementara penggunaan conveyor belt diharapkan menjaga ketahanan operasional dari sisi volume.

Lebih lanjut, Samuel Sekuritas memperkirakan produksi Wolfram akan terus meningkat seiring perbaikan kadar bijih yang masuk ke fasilitas pengolahan. Peralihan sumber material dari stockpile ke bijih hasil penambangan menjadi pendorong utama peningkatan ini. Produksi Wolfram diproyeksikan masih sesuai jalur untuk mencapai target produksi setara tembaga sebanyak 15 kiloton (kt) pada tahun 2026.

Meskipun demikian, Samuel Sekuritas juga menyoroti beberapa risiko yang patut diwaspadai. Salah satunya adalah kemungkinan pelemahan harga batu bara dalam jangka pendek sebelum dampak El Nino terasa, yang mungkin dipicu oleh penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada Juli 2026. Risiko lain mencakup potensi keterlambatan eksekusi akuisisi yang sedang dijalankan BUMI, serta kemungkinan perlambatan peningkatan produksi Wolfram atau penurunan harga emas yang dapat menekan prospek perusahaan.