Koridor.co.id — JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami perubahan arah yang cukup signifikan pada Jumat, 4 September 2026. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 63,59 miliar. Akibatnya, harga saham BBCA ditutup melemah 1,11% ke level Rp 6.700.
Perubahan ini terjadi setelah tren positif yang terlihat beberapa hari sebelumnya. Sejak 28 Agustus hingga 3 September 2026, saham BCA secara konsisten diburu investor asing dengan total akumulasi pembelian bersih (net buy) mencapai Rp 1,14 triliun. Periode ini juga diwarnai kenaikan harga saham pada 1-3 September.
Meskipun sempat terjadi pelemahan di akhir pekan, secara keseluruhan, saham BBCA berhasil mencatat kenaikan sebesar 3,47% sepanjang pekan lalu (31 Agustus – 4 September 2026). Net buy investor asing pada periode tersebut mencapai Rp 820,17 miliar, menjadi yang terbesar dibandingkan pekan-pekan sebelumnya di tahun 2026.
Perlu dicatat, saham emiten bank besar ini telah membukukan net buy asing setiap pekannya sejak akhir Juli 2026.
Rekomendasi Saham BBCA
Di tengah fluktuasi ini, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Perusahaan sekuritas tersebut menetapkan target harga yang ambisius sebesar Rp 9.480 per saham. Angka ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hingga 41,5% dari harga penutupan terakhir.
Target harga tersebut didasarkan pada valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury Sekuritas menilai bahwa kepercayaan pasar saat ini tengah mengalami penurunan. Namun, kondisi valuasi yang ada membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham, terutama jika katalis positif mulai muncul dan terealisasi.
Potensi Katalis Positif
Beberapa katalis positif diidentifikasi oleh KB Valbury dapat mendukung pergerakan saham BBCA. Salah satunya adalah potensi pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat Net Interest Margin (NIM).
Faktor lain yang diperhitungkan adalah cost of credit (CoC) yang berpotensi lebih rendah dari perkiraan. Hal ini dapat terjadi apabila kebutuhan pembentukan pencadangan tetap terbatas dan kualitas aset terus menunjukkan perbaikan.
Perbaikan sentimen pasar, baik di tingkat domestik maupun global, juga dianggap sebagai katalis yang signifikan.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meskipun demikian, KB Valbury juga mencatat sejumlah risiko yang dapat menekan proyeksi saham BBCA. Risiko utama meliputi pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari perkiraan.
Selain itu, biaya pendanaan serta CoC yang berpotensi lebih tinggi dari estimasi juga dapat membebani kinerja BCA. Penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan turut menjadi faktor risiko lainnya.
KB Valbury juga menyoroti potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko yang perlu dicermati terhadap proyeksi saham BCA (BBCA).
Ikuti Koridor.co.id
