— JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9) telah menimbulkan dampak signifikan di berbagai sektor. Gemuruh dan getaran akibat aktivitas vulkanik ini menyebar hingga wilayah Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, mempengaruhi operasional penerbangan, kualitas udara, hingga kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Ribuan penerbangan terpaksa ditunda akibat sebaran abu vulkanik yang mengganggu aktivitas di sejumlah bandara. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaporkan bahwa delapan bandara di Indonesia terdampak, dengan enam di antaranya masih ditutup hingga Senin (7/9) pagi. Penutupan bandara ini diperpanjang hingga pukul 09.00 WIB.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, merinci bandara yang terdampak penutupan: Soekarno-Hatta (CGK), Halim Perdanakusuma (HLP), Radin Inten II Lampung (TKG), Husein Sastranegara (BDO), Budiarto Curug (RTO), dan Pondok Cabe (PCB). Seluruhnya mengalami penutupan operasional antara pukul 23.20 hingga 08.59 WIB.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menyatakan bahwa sekitar 1.558 penerbangan tertunda, berdampak pada 170.000 penumpang. Ia menegaskan maskapai wajib memenuhi hak-hak penumpang sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk memberikan informasi dan pilihan penanganan. Pemerintah juga telah menyiapkan bandara alternatif seperti Kertajati, Juanda, YIA, serta bandara di Semarang dan Solo, lengkap dengan fasilitas transportasi darat gratis bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan.

Udara Jakarta Terdampak Abu Vulkanik

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Pemantauan BMKG pada pukul 04.00 WIB menunjukkan dua klaster sebaran abu vulkanik. Klaster pertama bergerak ke timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya hingga ketinggian 20.000 kaki. Klaster kedua bergerak ke barat daya hingga barat laut dengan ketinggian hingga 50.000 kaki, meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat wilayah tersebut.

Menyikapi kondisi ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna meminimalkan paparan abu vulkanik. Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menekankan pentingnya melindungi keluarga, terutama anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengambil langkah dengan menggencarkan operasi modifikasi cuaca di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan bahwa operasi ini bertujuan menciptakan kondisi yang lebih kondusif, terutama di DKI Jakarta, mengingat banyaknya abu vulkanik di lingkungan pemukiman. Pesawat untuk operasi modifikasi cuaca telah disiapkan di Pondok Cabe dan akan dilaksanakan hingga malam hari.

Sekolah Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau juga dirasakan di sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan bahwa sekolah di daerah yang terdampak berat oleh erupsi dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Banten, seperti Kabupaten Serang, dan di Lampung, meliputi Tanggamus, Bandar Lampung, serta Lampung Selatan.

Keselamatan warga sekolah, siswa, dan guru menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, wilayah yang terdampak cukup berat diizinkan untuk menyesuaikan kegiatan belajar mulai Senin (7/9). Pemprov DKI Jakarta secara resmi menerapkan PJJ untuk seluruh sekolah mulai Senin, 7 September 2026, guna memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan nyaman.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana, menjelaskan bahwa proses pembelajaran tetap berjalan meskipun dilakukan dari rumah. Pemprov Banten juga mengeluarkan Surat Edaran penerapan PJJ untuk jenjang SMA, SMK, dan SKh selama tiga hari, mulai Senin (7/9) hingga Rabu (9/9), berdasarkan arahan Gubernur Banten. Keputusan ini diambil demi menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik serta warga sekolah.

Kebijakan serupa juga diterapkan di wilayah lain seperti Kota Depok dan Bogor, yang mengalihkan proses belajar mengajar ke rumah sebagai respons terhadap sebaran abu vulkanik pascaerupsi Gunung Anak Krakatau.