Koridor.co.id — JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt peak (GWp) yang dimulai hari ini. Acara seremoni ini akan berlangsung di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, yang berlokasi di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Tujuannya adalah untuk memperkuat kemandirian serta ketahanan energi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Prasetyo menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan instruksi agar pembangunan PLTS berkapasitas 100 GWp ini dipercepat dan ditargetkan selesai pada tahun 2029. Dengan terealisasinya program ini, efisiensi biaya listrik diproyeksikan dapat mencapai Rp73,9 triliun per tahun.
Lebih lanjut, Prasetyo memaparkan bahwa pemerintah menargetkan pembangunan PLTS sebesar 30 GWp dan penghentian operasional 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Indonesia sendiri memiliki potensi energi surya yang sangat besar, diperkirakan mencapai 3.294 GWp. Namun, kapasitas terpasang hingga April 2026 baru mencapai sekitar 1,5 GWp.
Program pembangunan PLTS ini akan dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama direncanakan membangun 17 GWp, diikuti oleh Tahap II sebesar 18 GWp, dan Tahap III sebesar 30 GWp.
“Program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru melalui investasi pembangkit, baterai, dan jaringan, penguatan industri solar PV dalam negeri, serta penciptaan green jobs,” ujar Prasetyo.
Ia menambahkan, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan pekerjaan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 760 ribu di antaranya berpotensi menjadi pekerjaan hijau atau green jobs.
Ikuti Koridor.co.id
