— JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, memperkenalkan inovasi signifikan dalam pengelolaan peserta. Untuk pertama kalinya, sistem berbasis chip dan kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh para santri diperkenalkan untuk mempermudah jalannya muktamar.

Pengembangan teknologi ini dipimpin oleh Gus Robin, yang bekerja sama dengan tim santri dalam mempersiapkan aspek teknologi untuk Muktamar ke-35 NU. Ketua Panitia Muktamar sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menekankan pentingnya adopsi teknologi dalam penyelenggaraan muktamar.

Menurut Gus Ipul, pemanfaatan teknologi ini merupakan bagian dari upaya panitia untuk menciptakan penyelenggaraan yang lebih tertib, akurat, dan terukur. Sistem ini memungkinkan panitia untuk memverifikasi identitas dan status kepesertaan setiap peserta secara presisi. Selain itu, sistem ini juga dapat mendeteksi keberadaan peserta, lokasi, serta forum atau persidangan yang mereka ikuti selama muktamar berlangsung.

Penerapan teknologi tidak hanya terbatas pada proses registrasi, tetapi juga dirancang untuk mendukung tata kelola peserta sepanjang rangkaian acara. “Datanya sudah ada, DPT-nya sudah ditetapkan, nama-nama pengurus yang menjadi peserta juga semuanya sudah tertera dengan jelas. Dengan begitu diharapkan tidak ada peserta susupan, tidak ada peserta pengganti. Semuanya adalah peserta yang benar-benar memenuhi syarat,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis.

Gus Ipul menambahkan bahwa penggunaan teknologi ini akan membuat pelayanan kepada peserta menjadi lebih efisien. Saat registrasi, peserta akan melalui proses verifikasi sebelum diarahkan ke wilayah dan cabang masing-masing. “Insyaallah kalau semua disiplin dan tertib, tidak akan ada antrean. Nyaman dan juga presisi karena semuanya sudah sesuai dengan data,” tuturnya.

Dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU, panitia telah menyiapkan empat pilar kesiapan utama. Pertama, kesiapan fisik lokasi acara, mencakup arena pembukaan, tempat persidangan, registrasi, akomodasi, dan fasilitas pendukung lainnya. Kedua, logistik muktamar, yang meliputi kebutuhan peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Ketiga adalah tata kelola muktamar, yang mencakup registrasi, pembagian peserta, persidangan, serta pengaturan berbagai kegiatan. Keempat, sumber daya manusia dan sistem teknologi, yang didukung oleh sistem berbasis chip dan AI yang dikembangkan oleh para santri di bawah koordinasi Gus Robin. Kombinasi kesiapan fisik, logistik, tata kelola, dan teknologi ini diharapkan menciptakan acara yang tertib dan nyaman bagi seluruh peserta.

Gus Ipul menyampaikan bahwa seluruh perangkat utama penyelenggaraan kini telah memasuki tahap final. “Akomodasi peserta sudah siap, tempat-tempat sidang sudah siap, berbagai fasilitas yang dibutuhkan muktamar juga semuanya telah siap,” katanya.

Muktamar ke-35 ini menandai awal abad kedua Nahdlatul Ulama dan menjadi momen kembalinya forum tertinggi organisasi ke Jombang, kota kelahiran para pendiri NU. “Inilah awal abad kedua Nahdlatul Ulama. Muktamar kembali ke pangkuan muassis, kembali ke pangkuan para pendiri Nahdlatul Ulama,” pungkas Gus Ipul.