— JAKARTA – Sektor pangan Indonesia, khususnya komoditas beras, dinilai relatif siap menghadapi kekeringan panjang akibat fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga Februari 2027. Dengan kondisi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang melimpah, impor beras untuk pemenuhan kebutuhan tahun 2026 dinilai belum diperlukan.

Meskipun demikian, tren kenaikan harga beras saat ini perlu diwaspadai. Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Dwi Andreas Santosa, menyatakan bahwa Indonesia beruntung memiliki stok CBP yang cukup besar di tengah ancaman El Nino.

Menurut Andreas, stok CBP di Perum Bulog sempat dilaporkan mencapai sekitar 5,2 juta ton. “Kalau dari sisi stok beras, pemerintah siap menghadapi kemarau panjang tahun ini. Pemerintah memiliki stok besar ya, yang kalau dikurangi bansos yang sekarang ini sedang dibagikan, mungkin masih sekitar 4 juta ton lebih di akhir tahun ini. Jadi, kalau dari stok pangan pemerintah, aman,” ujar Andreas.

Ia menambahkan, Indonesia tahun ini tidak perlu melakukan impor beras. “Karena stok banyak, tahun ini, kita masih belum perlu sampai impor beras,” katanya. Meskipun terdapat risiko penurunan produksi beras pada 2026 akibat kemarau yang dibarengi El Nino, stok yang melimpah diharapkan dapat menutupi berkurangnya hasil panen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada rilis terakhir menunjukkan adanya penurunan produksi beras yang sangat kecil pada periode Januari-Oktober 2026. Pengamatan di jaringan tani Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) juga mengindikasikan adanya penurunan produksi tahun ini.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 3 September 2026 melaporkan bahwa El Nino yang telah terbentuk kuat akan semakin intensif dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena ini berpotensi meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan panas ekstrem. WMO memperkirakan hampir 100% El Nino akan bertahan hingga Februari 2027, dipicu oleh suhu laut yang sangat hangat di wilayah Pasifik tropis.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, seperti dikutip dari Antara, Minggu (06/09/2026), mengingatkan bahwa kekeringan dan banjir telah menimbulkan gangguan dan kerusakan yang dampaknya akan kian besar seiring menguatnya El Nino. “El Nino yang luar biasa ini menuntut persiapan dan respons luar biasa,” katanya. WMO bekerja sama dengan layanan meteorologi nasional untuk memperkuat kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini, namun kekuatan El Nino tidak otomatis menentukan tingkat keparahan dampaknya di setiap wilayah.

Meskipun ketersediaan stok mencukupi, Andreas yang juga Ketua Umum AB2TI menyoroti kenaikan harga pangan, khususnya beras, sebagai hal yang perlu disikapi dari peringatan WMO. “Ya pasti, kenaikan harga beras perlu diwaspadai,” ujarnya.

Data BPS menunjukkan, harga beras telah mengalami kenaikan selama delapan bulan berturut-turut. Fenomena ini bahkan menjadi salah satu penyebab ketidakpuasan publik tertinggi terhadap pemerintah. “Sudah delapan bulan ini, beras naik terus harganya, ini perlu perhatian,” tandas Andreas.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu ketika produksi beras meningkat tinggi namun harga juga ikut naik, berbagai upaya stabilisasi dan perbaikan tata kelola perberasan perlu dilakukan. “Kalau masyarakat ingat tahun lalu, kenaikan produksi sangat tinggi, hal sama terjadi, di Januari-Agustus harga beras naik terus, September stabil, Oktober baru turun sedikit. Sekarang sudah naik terus, itu yang perlu diperhatikan pemerintah. Jangan sampai masyarakat bertanya, stok beras sangat besar tapi kenapa harganya naik,” jelasnya.

Pasokan Ritel Modern

Dalam upaya mengantisipasi kenaikan inflasi pangan, Perum Bulog akan menggelontorkan sekitar 110 ribu ton beras ke jaringan ritel modern dalam satu bulan ke depan. Pasokan ini terdiri atas 75 ribu ton kelompok premium dan 35 ribu ton medium.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan bahwa Bulog telah berkoordinasi dengan jaringan ritel modern di seluruh Indonesia untuk memperkuat pasokan di pasar. Pasokan beras tersebut akan disalurkan secara bertahap melalui jaringan ritel modern maupun pasar-pasar yang menjadi titik pemantauan harga pangan.

“Penguatan distribusi ini sekaligus menjadi instrumen Bulog untuk memperbesar pasokan di tingkat konsumen ketika terjadi tekanan harga,” ungkap Rizal. Langkah ini didukung oleh stok beras pemerintah yang kuat. Per 5 September 2026, stok CBP yang dikelola Bulog mencapai 4,9 juta ton di seluruh Indonesia.

Pada bagian hilir, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) periode 2026 hingga 5 September telah mencapai 756 ribu ton. Kekuatan stok dan realisasi penyaluran ini memberikan ruang bagi Bulog untuk mengintervensi pasar secara terukur demi menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras bagi masyarakat.

Selain itu, Bulog pekan lalu juga menggelar Gerakan Pangan Murah/Operasi Pasar serentak di seluruh Indonesia, sekaligus melakukan pengawasan langsung di lapangan.