Koridor.co.id — Gubernur Bali Wayan Koster menekankan pentingnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) berjalan selaras dengan kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi tidak boleh sampai menghilangkan nilai, identitas, tradisi, karakter masyarakat, serta keharmonisan hubungan manusia dengan alam.
“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” ujar Koster dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Penegasan ini disampaikan Koster saat membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9). Kegiatan tersebut mengusung tema ‘Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan’.
Koster mengungkapkan bahwa prinsip keselarasan ini menjadi krusial dalam pengembangan lingkungan binaan Bali di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan iklim, ancaman bencana, serta berbagai tantangan pembangunan di masa depan. Oleh karena itu, pembangunan Bali harus tetap berakar pada karakter dan jati diri pulau tersebut, sesuai dengan arahan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025-2125 yang berfokus pada penjagaan berkelanjutan alam, manusia, dan kebudayaan Bali.
Nilai-nilai Sad Kerthi, lanjut Koster, juga perlu dijadikan landasan etis dan ekologis dalam pengembangan lingkungan binaan Bali. Tujuannya adalah agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kebudayaan.
Dalam sambutannya, Koster juga mendorong perguruan tinggi dan para peneliti untuk terus menggali serta mengembangkan pengetahuan lokal Bali, termasuk Arsitektur Tradisional Bali dan sistem Subak, melalui riset, inovasi, dan pemanfaatan teknologi. Ia menekankan bahwa “Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan.”
Lebih lanjut, Koster meminta agar riset mengenai lingkungan binaan tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Hasil penelitian harus dapat diterjemahkan menjadi solusi konkret, seperti prototipe, desain, standar, kebijakan, teknologi, hingga model pembangunan yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Upaya ini diarahkan untuk mewujudkan lingkungan binaan Bali yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim serta bencana, sekaligus hijau, rendah karbon, dan berkelanjutan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Koster menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, arsitek, perencana, dunia usaha, desa adat, masyarakat, dan generasi muda dalam membangun ekosistem inovasi lingkungan binaan. Melalui kolaborasi ini, ia berharap Bali dapat berkembang menjadi laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan yang mempertemukan kemajuan teknologi dan AI dengan kebudayaan, pengetahuan lokal, serta prinsip keberlanjutan.
“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” tegas Koster.
Agenda TI IPLBI Ke-14
Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, menyampaikan bahwa Temu Ilmiah IPLBI menjadi forum penting untuk mempertemukan berbagai perspektif, gagasan, hasil penelitian, dan praktik mengenai masa depan lingkungan binaan. TI IPLBI ke-14 diarahkan untuk mendorong kolaborasi antara teknologi, lokalitas, dan budaya secara kontekstual dan saling melengkapi, khususnya dalam menjawab tantangan pembangunan lingkungan binaan di masa depan.
Rangkaian TI IPLBI ke-14 berlangsung selama tiga hari, 3-5 September 2026, mencakup seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku, serta field trip arsitektur. Prof. Ni Ketut berharap penyelenggaraan acara ini dapat memperkuat kapasitas dan jejaring akademik, serta melahirkan penelitian dan praktik lingkungan binaan yang berkualitas, inovatif, dan berkelanjutan tanpa kehilangan karakter lokal.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua IPLBI Periode 2024-2027, Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo, bersama para peneliti, akademisi, arsitek, perencana, praktisi, serta peserta TI IPLBI ke-14.
Ikuti Koridor.co.id
