Koridor.co.id — PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) menargetkan jangkauan layanan 5G mereka akan merambah ke 101 kota di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2026. Dengan ekspansi ini, XL Axiata memproyeksikan dapat mencakup sekitar 50% dari total cakupan 5G nasional.
Untuk merealisasikan ambisi tersebut, perusahaan telah meningkatkan alokasi belanja modal (capitalized capex) dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun. Dana ini akan digunakan untuk mendukung operasional lebih dari 265 ribu BTS, perluasan layanan 5G, serta pemanfaatan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz.
Hingga paruh pertama 2026, layanan 5G XL Axiata telah tersedia di lebih dari 50 kota, didukung oleh sekitar 15 ribu BTS 5G, yang menjangkau 23% populasi nasional. Optimisme ini turut didorong oleh penambahan kapasitas spektrum dari lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) pada Juli lalu.
“Pada 5 Agustus, kami menerima izin untuk mengaktifkan spektrum baru. Dalam tiga minggu, semua situs sudah terhubung 5G. Dengan begitu, seluruh masyarakat Indonesia dapat merasakan pengalaman 5G yang lebih cepat, the real 5G and blanket 5G. Rencana awal kami adalah 88 kota, namun baru saja kami menyetujui perluasan target menjadi 101 kota,” ujar Direktur & Chief Technology Officer XL Axiata, Shurish Subbramaniam, dalam acara media gathering di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (4/9/2026).
Shurish menambahkan, beberapa kota yang akan mendapatkan sinyal 5G XL Axiata secara menyeluruh sebelum akhir tahun ini meliputi Lombok dan Malang.
Direktur dan Chief Regulatory Officer XL Axiata, Merza Fachys, menjelaskan bahwa cakupan 5G di 88 kota setara dengan menjangkau sekitar 50% populasi Indonesia. Dengan peningkatan target menjadi 101 kota, jangkauan jaringan 5G XL Axiata akan menjadi lebih luas dan masif.
“Jangkauan yang dibangun oleh XL Axiata bukan sekadar di pusat keramaian, tetapi mencakup seluruh area di satu kota. Di manapun kita berada di kota tersebut, jika kami telah menyatakan kota itu 5G, maka sinyal 5G kami sudah hadir di mana-mana,” tegas Merza.
Merza juga menuturkan bahwa perluasan jaringan 5G ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk terus membangun infrastruktur digital yang berkualitas, berkelanjutan, dan bertanggung jawab di Indonesia. Perusahaan bercita-cita agar layanan internet Indonesia masuk dalam tiga besar Asia dalam hal kecepatan dan kualitas.
“Mungkin banyak diberitakan tahun lalu bahwa peringkat Indonesia (kecepatan dan kualitas internet) masih rendah. XL Axiata bertekad ingin meningkatkan peringkat Indonesia. Setidaknya di Asia, yang tadinya di peringkat bawah bisa meningkat ke tingkat menengah. Harapannya bisa sampai ke tiga besar,” ucap Merza.
Roadmap 5G Indonesia
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berkomitmen untuk mempercepat peta jalan (roadmap) 5G guna menopang kebutuhan ekonomi digital. Targetnya, cakupan layanan 5G akan mendekati cakupan nasional pada 2029.
Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang telah mengubah arah pembangunan infrastruktur telekomunikasi Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi jaringan internet di Indonesia telah mencapai 81% dari total populasi pada 2026.
Sekretaris Jenderal Kominfo, Ismail, menyatakan bahwa konektivitas kini tidak lagi hanya dipandang sebagai sarana komunikasi, melainkan sebagai fondasi produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional di era AI.
“Roadmap 5G harus kita percepat. Kami berharap pada 2029 cakupan 5G di Indonesia terus berkembang hingga ke pelosok tanah air. Ini penting karena dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis AI, sehingga infrastruktur digital harus mampu mengimbangi kebutuhan tersebut,” kata Ismail dalam acara Digital Transformation Indonesia Conference and Expo (DTI-CX) 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (7/8/2026).
Ismail menambahkan, Indonesia telah memiliki fondasi infrastruktur digital yang kuat, dengan jaringan serat optik nasional yang membentang lebih dari satu juta kilometer, termasuk kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai pulau.
Pembangunan infrastruktur berikutnya difokuskan pada peningkatan kapasitas, kualitas, dan ketahanan jaringan agar mampu mendukung layanan digital generasi baru.
“Tantangan kita bukan lagi sekadar memperluas jaringan dasar. Yang kita bangun sekarang adalah infrastruktur yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI,” ujar Ismail.
Ismail menjelaskan bahwa perkembangan AI juga mengubah cara pembangunan industri telekomunikasi. Jika sebelumnya operator berfokus pada penyediaan kapasitas bandwidth, kini jaringan harus mampu menopang layanan AI cloud, komputasi berkinerja tinggi, Internet of Things (IoT), serta berbagai aplikasi digital yang meningkatkan produktivitas masyarakat dan dunia usaha.
“Dulu operator menjual bandwidth. Sekarang infrastruktur harus mampu mendukung layanan AI cloud dan berbagai aplikasi produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri,” ungkap Ismail.
Upaya Percepatan Implementasi 5G
Untuk mempercepat implementasi roadmap 5G, pemerintah terus menghadirkan kebijakan yang memberikan kepastian investasi bagi operator telekomunikasi. Salah satunya melalui penyediaan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dengan skema biaya yang lebih terjangkau.
“Kami baru saja merilis spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Pemerintah harus hadir memberikan ruang agar investasi infrastruktur digital dapat tumbuh lebih cepat,” jelas Ismail.
Selain penyediaan spektrum, pemerintah juga menyiapkan regulasi yang memberikan kepastian bagi investasi jangka panjang. Menurut Ismail, kepastian regulasi menjadi faktor penting agar industri telekomunikasi dapat terus memperluas jaringan sekaligus mengembangkan berbagai layanan digital baru.
Ikuti Koridor.co.id
