— Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih mengevaluasi nasib jalur sepeda seiring adanya wacana penghapusan. Sejumlah warga pun menyuarakan pandangan mereka mengenai kebijakan tersebut.

Kiki Muharram, warga Jakarta Selatan, menyatakan ketidaksetujuannya jika jalur sepeda dihapus. Ia berpendapat bahwa solusi lain harus dicari untuk mengatasi kemacetan di ibu kota, tanpa harus mengorbankan jalur sepeda.

“Nggak setuju. Cari solusi lain, jangan jalur sepeda dikorbankan gitu ya,” kata Kiki saat ditemui di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (23/8/2026).

Menurut Kiki, pengguna sepeda seharusnya mendapatkan prioritas di jalan, terutama mengingat semakin banyaknya orang yang menggunakan sepeda untuk mobilitas sehari-hari di Jakarta.

“Yang punya hak ya, menggunakan jalan. Apalagi sepeda itu kan harus diutamakan. Karena dia bukan transportasi bermesin. Jadi dia harus diutamakan, jadi kalau saya nggak setuju dengan dihapusnya jalur itu. Karena banyak orang sekarang, tetangga saya masih pakai sepeda. Dari Mampang ke Kuningan, jauh, kerja menggunakan sepeda,” jelasnya.

Kiki juga mencontohkan kebiasaan di luar negeri, di mana masyarakat didorong untuk menggunakan transportasi umum. Hal ini, menurutnya, bisa menjadi salah satu cara mengatasi kemacetan di Jakarta.

“Saya di luar negeri ya. Saya udah keliling-keliling dunia. Semua orang itu dari rumah itu naik mobil tuh ke stasiun kereta. Mereka parkir di stasiun kereta, seperti sekarang di Lebak Bulus, bagus tuh. Jadi dari rumah mereka ke tempat kerja itu, naruh mobilnya di stasiun. Masuk ke dalam kota naik kereta, naik mass transportation, transportasi umum. Jadi itu parkir mobil mahal, itu jadi mahal juga, parkir dimahalin, bensin mahal, jadi mereka lebih (pilih) pakai kereta,” ungkap dia.

Sementara itu, Reza, warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, menilai jalur sepeda perlu dipertahankan. Namun, ia mengusulkan agar pembatas jalur sepeda dapat dihilangkan untuk memberikan fleksibilitas bagi pengendara motor atau mobil saat kondisi sepi.

“Misal nggak dihapus juga, tetap ada, ya pengendara motor juga tetap bisa (lewat). Paling banyak (pesepeda) weekend gitu, ya. Kayak gini, kalau hari libur. Kalau olahraga sih jarang, sedikit, nggak begitu banyak. Kalau bariernya nggak ngaruh, hapus ajalah, nggak apa-apa,” katanya.

Daniel, warga Jakarta Timur, mengaku rutin menggunakan sepeda untuk berangkat kerja dan merasa jalur sepeda membuatnya lebih aman.

“Jadi harapannya sih kepada pemerintah daerah lebih memperhatikan lagi terhadap keselamatan pengendara sepeda terutama. Apalagi tadi saya sampaikan teman-teman kan masih banyak yang bike to work kan. Untuk menyiasati efisiensi anggaran itu, biaya hidup gitu kan,” imbuhnya.

Daniel menambahkan bahwa ia tidak akan menerobos jalur sepeda saat berkendara motor, karena hal itu merupakan prinsipnya untuk tidak merampas hak orang lain.

“Cuma dalam misal saya berkendara motor gitu, saya berusaha banget sih tidak menggunakan jalur orang seperti itu. Nggak mau mengambil hak orang gitu. Karena saya juga tahu rasanya diambil haknya gimana sih,” kata Daniel.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku berhati-hati dalam mengambil keputusan mengenai nasib jalur sepeda. Keputusan ini diambil menyusul adanya usulan penutupan jalur sepeda karena dinilai lebih banyak digunakan oleh pengendara motor.

Pramono menjelaskan bahwa saat ini ada dua pandangan yang berbeda terkait keberadaan jalur sepeda. Komunitas pesepeda, seperti Bike to Work, meminta jalur tersebut dipertahankan. Di sisi lain, sebagian masyarakat berpendapat bahwa jalur sepeda lebih sering digunakan oleh pengendara motor.

“Saya akan segera memutuskan untuk hal tersebut. Memang ada usulan, kalau usulannya dari komunitas sepeda, salah satunya Bike to Work, mereka sebenarnya meminta itu dipertahankan. Tapi usulan dari masyarakat, dari publik, merasa bahwa jalur itu lebih banyak digunakan seperti yang kamu sampaikan, menggunakan motor,” kata Pramono di Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

Sebagai seorang pesepeda, Pramono menegaskan bahwa ia perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan agar tidak terkesan memihak hobinya.

“Pasti teman-teman tahu saya ini pesepeda banget. Setiap minggu pasti saya bersepeda, sehingga dalam keputusan ini saya juga harus hati-hati,” ujarnya.

Pramono menambahkan bahwa ia biasanya menggunakan sepeda jenis road bike pada hari libur atau Sabtu pagi. Di luar waktu tersebut, ia mengaku sudah tidak bersepeda.

“Hati-hatinya kenapa? Supaya tidak terkesan bahwa karena saya hobi bersepeda, nggak mau menggunakan jalur itu karena memang cara saya bersepeda menggunakan road bike, dan itu biasanya hari libur atau hari Sabtu pagi. Di luar itu saya sekarang udah nggak pernah spedaan lagi. Jadi akan saya putuskan kemudian mengenai hal tersebut,” imbuhnya.