— JAKARTA – Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat bukan sekadar fasilitas pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya komprehensif untuk mendorong kemandirian keluarga secara menyeluruh.

Gus Ipul menekankan bahwa pendidikan adalah salah satu kunci utama untuk memutus mata rantai kemiskinan. Hal ini menjadi landasan pemerintah dalam menghadirkan program Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Membebaskan masyarakat dari kemiskinan merupakan amanat konstitusi. Negara juga berkewajiban memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar, kemudian memberikan mereka pendidikan. Karena pendidikan salah satu cara teruji dan terpuji untuk membuat seseorang memiliki ilmu untuk menghadapi masa depan,” ujar Gus Ipul dalam sesi Indonesia Punya Kita di detikcom, dikutip Minggu (23/8/2026).

Ia menambahkan, “Jadi kata kuncinya berdaulat. Kalau kita ingin adil, makmur, kata kunci yang pertama adalah pendidikan. Salah satu strategi Pak Presiden Prabowo dalam rangka memutus mata rantai kemiskinan ini adalah dengan menghadirkan pendidikan berkualitas, khususnya kepada keluarga yang paling tidak mampu.”

Perlindungan Bagi ‘The Invisible People’

Gus Ipul menjelaskan, Sekolah Rakyat hadir sebagai manifestasi nyata dari amanat konstitusi untuk memberikan perlindungan kepada kelompok paling rentan, yang kerap disebut sebagai ‘the invisible people’. Anak-anak yang mengalami putus sekolah atau kesulitan biaya pendidikan akibat kemiskinan ekstrem kini memperoleh fasilitas pendidikan berkualitas, meliputi asrama hingga seragam gratis.

“Presiden sering menyebut keluarga-keluarga yang sering penderitaannya tidak tampak, the invisible people. Bisa jadi orang yang tiap hari kita temui, mereka memiliki kesulitan hidup yang tidak ketahui. Data tidak menangkap itu,” jelas Gus Ipul.

Ia mencontohkan, “Misalnya, ada keluarga yang mungkin tidak sanggup membelikan seragam putra-putrinya. Atau tidak bisa menebus ijazah anaknya, bahkan tidak bisa mencukupi makan tiga kali sehari. Keluarga-keluarga seperti ini yang mendapatkan perhatian dari Bapak Presiden dalam rangka menindaklanjuti amanat konstitusi. Dan untuk pertama kalinya diselenggarakan melalui Sekolah Rakyat.”

Saat ini, lebih dari 43.000 siswa di berbagai wilayah Indonesia telah terdaftar dalam Sekolah Rakyat. Pemerintah menargetkan jumlah ini akan terus bertambah hingga mencapai hampir 200.000 siswa pada tahun mendatang.

“Sekarang sudah 43.000 lebih siswa seluruh Indonesia. Tahun depan mungkin sudah lebih dari 150.000 tambahannya, katakanlah sudah hampir 200.000 kalau sesuai target. Dan tentu ini akan terus bertambah karena target Bapak Presiden setiap kabupaten/kota itu ada satu gedung permanen Sekolah Rakyat yang menampung lebih dari 2.000 siswa di tingkat SMP-SMA,” paparnya.

Intervensi Orang Tua Melalui Pemberdayaan Sosial

Fokus pemerintah tidak hanya terbatas pada pendidikan anak. Gus Ipul menekankan pentingnya intervensi terhadap orang tua siswa agar keluarga tersebut mampu keluar dari garis kemiskinan.

Menurut Gus Ipul, pemberdayaan dapat diwujudkan dengan memperkuat tiga aspek utama: kemampuan atau keterampilan, aset, dan modal. Dengan pendekatan ini, diharapkan keluarga dapat meningkatkan penghasilan mereka dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial.

“Ada tiga yang kita perkuat. Pertama, ability atau keterampilannya, kapasitasnya ditingkatkan. Kedua, kalau dia mau usaha, asetnya diperkuat. Ketiga modalnya dicukupi, kemudian asetnya juga diperkuat,” paparnya.

Ia menambahkan, “Misalnya ada orang tua siswa ingin jualan bakso. Dia tentunya perlu modal, kita kasih modal. Setelah itu, dia butuh alat kerja seperti gerobak segala macam, itu aset kan. Jadi asetnya kita kuatin.”