Koridor.co.id — Nilai tukar rupiah (IDR) mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Senin, 7 September 2026, terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Berdasarkan data pasar spot exchange pada pukul 09.14 WIB, rupiah dibuka melemah 17 poin atau 0,1% ke posisi Rp 17.659 per dolar AS. Indeks Dolar tercatat turun tipis 0,02% di level 99,15.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah sempat menguat 37 poin (0,21%) dan ditutup pada level Rp 17.642 per dolar AS. Pergerakan rupiah di awal pekan ini dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati sejumlah data ekonomi AS yang diperkirakan dapat memengaruhi keputusan The Fed dalam pertemuan bulan September. Mata uang Asia secara umum cenderung bergerak konsolidasi terhadap dolar AS, namun masih merasakan tekanan akibat meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed.
Tim Global Economic & Markets Research Commonwealth Bank of Australia (CBA) memperkirakan indeks dolar AS berpotensi menguji level resistance 99,40 pada akhir pekan jika ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September semakin menguat.
Tunggu Data Inflasi AS
Data inflasi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor krusial yang akan menjadi perhatian pasar. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Agustus dijadwalkan rilis pada Jumat (11/9/2026). Data ini dinilai sebagai salah satu indikator utama dalam menentukan arah kebijakan The Fed pada September.
“Data CPI AS untuk Agustus merupakan input penting dalam keputusan The Fed pada September,” ujar tim riset CBA. Menurut CBA, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September saat ini masih berimbang, dengan probabilitas pasar berada di kisaran 50%.
Saat ini, indeks dolar AS berada di level 99,151. Dolar AS tercatat menguat 0,2% terhadap won Korea Selatan menjadi 1.346,50 won per dolar AS, sementara pergerakannya terhadap dolar Singapura dilaporkan stabil di level 1,2670 dolar Singapura.
Pergerakan mata uang regional ini menjadi perhatian pasar domestik. Penguatan dolar AS berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah, terutama jika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus meningkat. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS serta perkembangan ekspektasi kebijakan The Fed sebagai katalis utama pergerakan dolar AS dan rupiah sepanjang pekan ini.
Ikuti Koridor.co.id
