— Sampit – Pecinta reptil di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Hary Siswanto, melaporkan temuan menyedihkan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Ia menemukan sedikitnya 26 ekor satwa liar, didominasi reptil, mati terpanggang di sejumlah lokasi terdampak karhutla.

Dari total temuan tersebut, Hary merinci jenis satwa yang ditemukan mati. Ada 20 ekor sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air. Semuanya ditemukan dalam kondisi tubuh hangus terbakar.

Hary mengungkapkan bahwa temuan ini menyoroti sisi lain dari bencana karhutla yang jarang terekspos. Api yang melalap semak dan pepohonan tidak hanya menghancurkan vegetasi, tetapi juga memusnahkan habitat satwa yang bergantung pada kawasan tersebut.

Ia menyatakan keprihatinan mendalam atas jumlah satwa yang menjadi korban. Menurutnya, semakin luas area kebakaran, semakin besar pula ancaman terhadap kelestarian satwa liar. “Saya merasa sedih dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan ini. Satwa liar juga menjadi korban. Harapannya, satwa liar yang menjadi korban tidak terus bertambah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hary menegaskan bahwa kematian satwa liar akibat karhutla seharusnya tidak hanya dianggap sebagai dampak tambahan. Ia menekankan peran penting satwa liar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. “Bagaimanapun, satwa liar ini merupakan penyeimbang ekosistem,” katanya.

Temuan ini juga menarik perhatian Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah. Salah satu bangkai yang membuatnya terheran adalah biawak yang mati terbakar. Muriansyah menjelaskan bahwa biawak dikenal memiliki kemampuan bergerak cepat, yang secara teori seharusnya memberikan peluang untuk menjauh dari sumber api.

Namun, kondisi di lapangan yang penuh kobaran api bisa membuat satwa tersebut kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri. “Bisa-bisanya biawak terbakar jua. Padahal satwa ini terkenal cepat menyelamatkan diri,” ujarnya.

Muriansyah menduga biawak tersebut kemungkinan terjebak atau terkepung oleh api sehingga tidak menemukan jalur keluar dari kawasan yang terbakar. “Mungkin terkurung atau terjebak, jadi tidak ada celah lagi untuk menyelamatkan diri,” katanya.