Koridor.co.id — Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya sistem permakultur atau perancangan lingkungan yang ramah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan air, terutama di daerah-daerah yang mengalami penggundulan lahan. Menurutnya, upaya ini krusial untuk keberlanjutan sumber daya alam.
Dalam rapat koordinasi penanganan bencana gempa di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah telah membentuk tim khusus yang terdiri dari Universitas Pertahanan (Unhan), Kementerian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Kemendikti Saintek), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tim ini bertugas mempelajari metode percepatan penghijauan di berbagai negara.
“Saya telah membentuk waktu itu, Unhan, Dikti sama BRIN, untuk keliling beberapa negara, belajar bagaimana mempercepat penghijauan,” kata Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo menjelaskan rencana pemerintah untuk membangun fasilitas perbenihan atau nursery di setiap provinsi dan kabupaten. Fasilitas ini akan memproduksi bibit pohon dan tanaman yang produktif, serta pohon-pohon yang berfungsi menjaga ketersediaan air.
“Semua lahan yang terbuka, kita tanam pohon yang produktif, dan pohon-pohon untuk mengamankan air. Kemudian gunung-gunung, kita lakukan apa yang disebut permaculture,” ujarnya.
Pemerintah memproyeksikan hasil dari penerapan permakultur ini dapat dinikmati dalam kurun waktu 4 hingga 6 tahun mendatang. Dengan upaya yang konsisten, Prabowo yakin lahan-lahan yang sebelumnya gundul dapat kembali menghijau dalam dekade mendatang.
“Permaculture ini, memang tidak bisa langsung 1-2 tahun hasilnya, tapi kalau dilakukan dengan teliti, dalam 4-6 tahun, itu bisa menampung, menambah air di dalam bumi,” jelasnya.
“Ini sangat penting. Saya yakin dengan permaculture, daerah-daerah gundul ini dalam 10 tahun bisa hijau kembali. Jadi nanti, provinsi dan kabupaten, selain pertanian, tapi juga penghijauan kembali, menanam pohon dalam jumlah yang sangat banyak,” sambungnya.
Selain program fisik, Prabowo juga menyoroti pentingnya edukasi publik mengenai dampak negatif penggundulan lahan. Ia menekankan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda, mengenai esensi pohon sebagai sumber kehidupan.
“Dengan pendidikan, mulai dari anak-anak muda, anak-anak sekolahnya, bahwa tidak lagi boleh bakar atau tebang pohon seenaknya. Pohon adalah sumber kehidupan,” tegas Prabowo.
Prabowo mengakhiri pernyataannya dengan menekankan urgensi pelestarian hutan: “No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life.”
Ikuti Koridor.co.id
