— Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi primadona bagi investor asing dalam sepekan terakhir, seiring dengan tren pembelian bersih (net buy) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu (6/9/2026) menunjukkan, investor asing mencetak net buy saham BBRI sebesar Rp 1,4 triliun selama periode 31 Agustus hingga 4 September 2026 di pasar reguler.

Jumlah tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan saham-saham lain yang juga diminati investor asing. Posisi kedua ditempati saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net buy asing mencapai Rp 820,2 miliar, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net buy asing senilai Rp 687,6 miliar.

Secara keseluruhan, investor asing mencetak net buy sebesar Rp 2,3 triliun di seluruh pasar BEI dalam sepekan terakhir. Angka ini melanjutkan tren positif dari pekan sebelumnya yang mencatatkan net buy sebesar Rp 279,2 miliar.

Meskipun ditutup terkoreksi 0,59% ke level Rp 3.390 pada perdagangan Jumat (4/9/2026), saham BBRI menunjukkan performa impresif dalam jangka pendek. Saham BRI melonjak 6,2% dalam sepekan dan menguat 12,2% dalam sebulan terakhir. Namun, secara year-to-date (ytd), BBRI masih tercatat melemah 7,3%.

MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target ini mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027. MNC Sekuritas menilai pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP), efisiensi operasional yang berlanjut, serta kekuatan modal menjadi pilar utama ketahanan laba BBRI.

Namun, MNC Sekuritas juga mengidentifikasi risiko yang dapat memengaruhi proyeksi, antara lain perlambatan pertumbuhan kredit, pelemahan kondisi ekonomi makro, serta meningkatnya persaingan di segmen wholesale.

Senada dengan MNC Sekuritas, Pluang Maju Sekuritas juga merekomendasikan ‘buy’ untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.050 dalam horizon 12 bulan. Rekomendasi ini didasarkan pada keberlanjutan efisiensi biaya dana dan potensi pemulihan pertumbuhan kredit mikro yang dapat mendorong margin.

Pluang menyoroti tiga faktor utama yang mendukung rekomendasi mereka. Pertama, kualitas laba yang terus membaik, terlihat dari perbaikan BOPO dan cost to income ratio, yang tidak hanya ditopang oleh pertumbuhan kredit. Kedua, pergeseran prioritas manajemen dari fokus dividen jangka pendek ke investasi untuk pertumbuhan jangka panjang, yang tercermin dari rencana penurunan payout ratio. Ketiga, potensi kebangkitan kredit mikro yang secara historis menawarkan margin lebih tinggi.

Pluang juga mencatat beberapa katalis penting yang perlu dicermati, meliputi realisasi pertumbuhan kredit mikro dengan kualitas aset yang terjaga, konfirmasi target penurunan payout ratio dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), serta perbaikan lanjutan Net Interest Margin (NIM) seiring normalisasi biaya dana.