Koridor.co.id — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi incaran investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir, melanjutkan tren pembelian pada pekan sebelumnya. Dalam periode 31 Agustus hingga 4 September 2026, investor asing mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) saham BBCA senilai Rp 820,2 miliar di pasar reguler.
Sebelumnya, pada 24 hingga 28 Agustus 2026, investor asing juga telah melakukan pembelian bersih saham BBCA sebesar Rp 386,5 miliar. Secara keseluruhan, investor asing membukukan net buy senilai Rp 2,3 triliun di seluruh pasar BEI dalam sepekan terakhir, melanjutkan tren positif dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp 279,2 miliar.
Pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), saham BBCA ditutup terkoreksi 1,1% ke level Rp 6.700. Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir, saham BBCA tercatat menguat 3,4% dan dalam sebulan melonjak 6,3%. Namun, secara year-to-date (ytd), saham BBCA masih menunjukkan pelemahan sebesar 17%.
Menanggapi pergerakan saham BBCA, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ dengan menetapkan target harga yang ambisius di Rp 9.480. Target harga ini menyiratkan potensi kenaikan hingga 41,5% dari harga penutupan terakhir.
Target harga tersebut didasarkan pada valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali. KB Valbury menilai bahwa meskipun kepercayaan pasar sedang menurun, valuasi saat ini membuka peluang terjadinya ‘re-rating’ atau penilaian ulang valuasi saham jika katalis positif mulai terealisasi.
KB Valbury mengidentifikasi beberapa katalis positif yang dapat mendukung kinerja saham BBCA. Pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat Net Interest Margin (NIM). Selain itu, cost of credit (CoC) yang berpotensi lebih rendah dari perkiraan, didukung oleh kebutuhan pencadangan yang tetap terbatas dan kualitas aset yang terus membaik, juga menjadi faktor pendukung.
Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga menjadi katalis penting yang diperhitungkan oleh KB Valbury. Namun, firma analis tersebut juga mencatat sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi proyeksi BBCA. Risiko tersebut meliputi pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari perkiraan, serta biaya pendanaan dan CoC yang lebih tinggi dari estimasi.
Penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor risiko yang turut dicermati terhadap proyeksi saham BBCA.
Ikuti Koridor.co.id
