— JAKARTA – Investor asing mulai mencatatkan transaksi jual bersih atau net sell pada saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) selama pekan pertama September 2026. Perubahan ini menandai pembalikan arah setelah sepanjang Agustus 2026, investor asing justru melakukan aksi beli bersih atau net buy.

Data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu, 6 September 2026, menunjukkan bahwa investor asing melakukan net sell saham GGRM senilai Rp 14 miliar pada periode 1-4 September 2026 di pasar reguler Bursa Efek Indonesia. Situasi ini sangat berbeda dibandingkan dengan periode 1-31 Agustus 2026, ketika asing membukukan net buy saham GGRM sebesar Rp 179,2 miliar.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 4 September 2026, saham Gudang Garam (GGRM) melemah 1,1% ke level Rp 20.075. Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir, saham GGRM tercatat menguat 2,8%, dan dalam sebulan terakhir naik 2,9%. Kinerja saham GGRM sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd) juga impresif, dengan kenaikan mencapai 43,39%.

Rekomendasi ‘Buy’ dari MNC Sekuritas

Di tengah pergerakan pasar tersebut, MNC Sekuritas mengambil langkah strategis dengan meningkatkan rekomendasi saham GGRM dari hold menjadi buy. Perusahaan riset ini menetapkan target harga saham GGRM di angka Rp 24.700.

Target harga tersebut mengimplikasikan rasio valuasi price to earnings ratio (PE) sebesar 10,2 kali untuk proyeksi tahun 2026 dan 8,9 kali untuk tahun 2027. Sementara itu, rasio price to book value (PBV) diperkirakan masing-masing 0,7 kali untuk tahun 2026 dan 2027.

MNC Sekuritas mengakui adanya kehati-hatian terkait pemulihan permintaan produk rokok. Namun, perbaikan laba yang didorong oleh efisiensi biaya dan imbal hasil dividen yang menarik dinilai masih memberikan potensi kenaikan harga saham GGRM.

Proyeksi Laba Bersih Meningkat Tajam

MNC Sekuritas memperkirakan laba bersih Gudang Garam akan mengalami penguatan signifikan pada tahun 2026 dan terus bertumbuh pada 2027. Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh efisiensi biaya dan pemulihan margin. Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 4,6 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 5,3 triliun pada 2027.

Proyeksi laba bersih Gudang Garam tahun ini mengalami kenaikan sebesar 32,3% dari estimasi sebelumnya. Revisi positif juga terjadi pada estimasi laba bersih 2027, yang dinaikkan 20,9%. Dengan proyeksi tersebut, laba bersih emiten berkode saham GGRM pada 2026 diperkirakan melonjak 198,4% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 4,6 triliun. Pada 2027, laba bersih diproyeksikan kembali tumbuh 15,5% yoy menjadi Rp 5,3 triliun.

Peningkatan proyeksi ini mengikuti kinerja laba semester I-2026 yang jauh melampaui ekspektasi. Gudang Garam berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 3 triliun, melonjak tinggi 2.440,2% secara tahunan (yoy). Realisasi laba tersebut telah mencapai 64,1% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 68,5% dari estimasi konsensus untuk tahun 2026.

Efisiensi Biaya Dorong Laba

Lonjakan laba GGRM pada semester pertama terutama ditopang oleh efek basis rendah dan pemulihan margin yang kuat. Meskipun demikian, permintaan inti pasar masih menunjukkan pelemahan, yang tercermin dari penurunan pendapatan GGRM sebesar 7,2% yoy menjadi Rp 41,2 triliun.

Pemulihan laba bersih lebih banyak berasal dari strategi efisiensi biaya. Harga pokok penjualan (cost of goods sold/COGS) turun 13,3% yoy, angka ini lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatan. Beban cukai juga terpantau berkurang 14% yoy.

Secara bersamaan, beban operasional (operating expenses/opex) mengalami penurunan tajam sebesar 33,8% yoy. Penurunan ini sebagian besar disumbang oleh pengurangan beban karyawan sebesar 27,2% yoy. Dengan beban pokok pendapatan yang turun lebih cepat daripada pendapatan, ditambah dengan komposisi produk yang lebih baik, GGRM berhasil memulihkan marginnya. Penurunan opex kemudian semakin memperkuat perbaikan laba bersih perusahaan.