Koridor.co.id — HALMAHERA BARAT – Gunung Api Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dengan mencatat empat kali erupsi sepanjang Minggu (6/9/2026). Aktivitas ini terdeteksi sejak pagi hingga petang.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa rangkaian erupsi tersebut terekam jelas pada seismograf. Erupsi pertama terjadi pada pukul 10.04 WIT, melontarkan material vulkanik setinggi 1.925 meter di atas permukaan laut.
Selanjutnya, pada pukul 18.59 WIT, kolom abu erupsi teramati mencapai ketinggian sekitar 600 meter di atas puncak gunung. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu ini memiliki intensitas sedang hingga tebal dan mengarah ke timur laut serta utara. Erupsi terakhir ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 28 milimeter.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ibu, Richard Chaniago, menyatakan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik ini juga disertai dengan gempa-gempa vulkanik yang berlangsung secara terus-menerus. Dampak utama yang saat ini dirasakan oleh masyarakat adalah paparan abu vulkanik.
Masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker serta kacamata saat beraktivitas di luar rumah. Hal ini bertujuan untuk menghindari gangguan pernapasan dan iritasi mata akibat paparan debu vulkanik.
Saat ini, Gunung Ibu berada pada Status Level II atau ‘Waspada’. PVMBG merekomendasikan agar masyarakat yang berada di sekitar kaki gunung, termasuk wisatawan, tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah. Selain itu, perluasan sektoral sejauh 3,5 kilometer dari bukaan kawah bagian utara juga harus diwaspadai.
Meskipun demikian, aktivitas warga setempat dilaporkan masih berjalan normal. Masyarakat terus beraktivitas seperti biasa sambil mematuhi arahan dan imbauan yang diberikan oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ibu.
Gunung Api Ibu merupakan gunung api tipe strato yang berlokasi di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Gunung ini dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, dengan frekuensi erupsi skala kecil hingga sedang yang terjadi secara berkala. Karakteristik erupsi Gunung Ibu umumnya berupa lontaran abu vulkanik dan material pijar di sekitar area kawah.
Penetapan Status Level II (Waspada) dan pemetaan batas radius bahaya dilakukan oleh PVMBG untuk meminimalkan risiko bencana vulkanik bagi permukiman warga di sekitar kaki gunung. Pemantauan intensif melalui data seismik dan pengamatan visual terus dilakukan guna mengantisipasi eskalasi aktivitas vulkanik secara tiba-tiba.
Ikuti Koridor.co.id
