Koridor.co.id — Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengimbau masyarakat untuk menjaga ketenangan sembari meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kembali mengalami erupsi. Ia menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.
Imbauan ini disampaikan setelah Gubernur Mirza melakukan monitoring bersama Pangdam XXI Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, jajaran Kepolisian Daerah Lampung, BMKG, serta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Dalam pertemuan tersebut, mereka menerima laporan terkini dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD, BMKG, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, dan Dinas Lingkungan Hidup.
Berdasarkan data pemantauan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau mulai terjadi pada Jumat malam, 4 September 2026, sekitar pukul 24.00 WIB. Erupsi berlanjut pada Sabtu, 5 September 2026, dari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Meskipun sempat berhenti pada Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB, aktivitas erupsi kembali terdeteksi pada periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.
“Yang paling penting masyarakat tetap tenang, tetapi juga waspada. Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan memastikan informasi yang diterima masyarakat adalah informasi yang akurat,” ujar Mirza dalam keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).
Secara visual, Gunung Anak Krakatau terpantau tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Kondisi cuaca dilaporkan berawan dengan angin bertiup lemah dari arah timur laut dan barat laut. Terdeteksi adanya abu vulkanik yang bergerak ke arah barat daya dan sedikit ke barat laut, sesuai dengan pola angin pada periode sebelumnya.
Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 3-5 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Selain itu, disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama jika terjadi paparan abu vulkanik. Bagi yang terpaksa beraktivitas di luar, dianjurkan menggunakan masker atau pelindung pernapasan.
Lebih lanjut, masyarakat diminta untuk menutup pintu, jendela, ventilasi, serta celah masuk udara lainnya guna mencegah abu vulkanik masuk ke dalam rumah. Apabila mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, dianjurkan untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Gubernur Mirza menegaskan bahwa situasi ini tidak perlu menimbulkan kepanikan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan intensif dan secara berkala menyampaikan perkembangan situasi kepada publik.
“Masyarakat tidak perlu panik. Ikuti arahan dan informasi resmi dari pemerintah. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi,” tegas Mirza.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu fokus pemantauan gunung api aktif di Indonesia. Selain gunung ini, beberapa gunung api aktif lainnya yang juga dalam pengawasan meliputi Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-laki, dan Gunung Sinabung.
Pemerintah Provinsi Lampung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berkomitmen untuk terus memperbarui informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pembaruan informasi dijadwalkan secara berkala, termasuk melalui grup informasi pada pukul 18.00 WIB dan Instagram Story akun @bpbdlampung.
“Masyarakat diimbau untuk selalu mengutamakan keselamatan, membatasi aktivitas di kawasan yang berpotensi terdampak abu vulkanik, serta mengikuti perkembangan informasi hanya dari sumber resmi pemerintah dan instansi yang berwenang,” tutupnya.
Ikuti Koridor.co.id
