— Siswa-siswi kelas 3 SD Sekolah Global Sevilla menampilkan kebolehan dalam pertunjukan paduan suara pada ajang Festival Merah Putih 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah dalam mendukung ekspresi dan bakat anak sejak dini, sekaligus mengasah kepercayaan diri mereka.

Festival yang digelar di Bimasena The Dharmawangsa Jakarta ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Kementerian Ekonomi Kreatif, di antaranya Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif Dessy Ruhati, Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Jago Anggoro, serta Direktur Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif Romy Astuti.

Ketua Yayasan Budi Pekerti Luhur, Andrew J. Jules Soebali, menyampaikan bahwa makna kemerdekaan dalam dunia pendidikan seharusnya hadir melalui pengalaman langsung yang dapat dirasakan oleh anak di lingkungan sekolah. Menurutnya, pendidikan memegang peran krusial dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa.

“Dalam konteks pendidikan, kami memaknainya sebagai tanggung jawab untuk memastikan anak dapat merasakan kemerdekaan melalui kesempatan untuk belajar, bertanya, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan potensinya, sekaligus memahami tanggung jawab dari setiap pilihan. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan, tetapi ruang bagi anak untuk bertumbuh menjadi manusia yang sadar terhadap dirinya, orang lain, dan lingkungan di sekitarnya,” ujar Andrew.

Kepala Sekolah Global Sevilla, Purborini Sulistiyo, menjelaskan bahwa keikutsertaan siswa dalam Festival Merah Putih menjadi wadah penting untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari di luar lingkungan kelas. Hal ini juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk terbiasa tampil di muka umum.

“Kita juga kadang memberi kesempatan pada mereka untuk tampil di luar. Ini kan juga salah satu kesempatan mereka untuk belajar bagaimana mereka tampil di muka umum, meskipun orang tuanya juga menonton tapi ada banyak juga orang lain yang mungkin asing buat mereka. Jadi mereka nggak jago kandang, tampilnya hanya di sekolah aja,” jelas Rini.

Meskipun bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar dalam kegiatan belajar sehari-hari, siswa-siswi Global Sevilla tetap dibiasakan untuk membawakan lagu-lagu nasional Indonesia serta mengenal permainan tradisional. Hal ini bertujuan untuk menanamkan kecintaan pada budaya bangsa.

Rini menambahkan, ajang ini juga menjadi sarana melatih metode mindfulness yang diajarkan di sekolah. Metode ini melatih anak untuk hadir utuh (be present), menjaga fokus, menyadari perasaan, dan menikmati setiap momen yang dijalani.

“Dalam keseharian mereka, mereka diajar untuk selalu be present, selalu hadir utuh di setiap apa yang mereka lakukan, jadi mereka bisa lebih fokus. Mereka gampang untuk diajak kembali lagi, ‘Ayo yuk kita tarik napas, kita fokus mengerjakan apa’. Mereka juga enjoy the moment,” tambahnya.

Apresiasi dari Orang Tua Murid

Upaya sekolah dalam memadukan aspek akademik, pengembangan karakter, serta keberanian tampil di depan publik mendapat sambutan positif dari para wali murid. Ibu Lorens, salah satu orang tua siswa, menilai kesempatan tampil di panggung umum ini sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak di luar ranah akademis.

“Saya sebagai orang tua melihat ini sebagai sesuatu yang sangat positif tentunya. Selain hanya fokus dari sisi akademik, sekolah juga menunjukkan adanya fokus yang di luar akademik. Tentunya ini merupakan kesempatan untuk anak-anak kecil ini bisa menumbuhkan kepercayaan diri,” ungkap Lorens.

Lorens juga menambahkan bahwa penerapan prinsip mindfulness oleh sekolah membantu anak-anak dalam mengelola rasa gugup saat harus berhadapan dengan publik. Ia berharap kesempatan seperti ini dapat terus dihadirkan untuk memberikan pengalaman nyata bagi para siswa di luar lingkungan sekolah.

“Biasanya kalau yang di luar sekolah ada sedikit nervous-nya. Tapi mungkin itu salah satu gunanya mindfulness juga ya, mereka juga be present. Kalau nervous saya bilang ya nggak apa-apa, nervous itu wajar. Yang penting kan latihan, nanti berikan yang terbaik saja,” pungkasnya.