— Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung Selatan, masih berlangsung dan berdampak pada operasional penerbangan sejumlah bandara. Berdasarkan keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), empat bandara mengalami penutupan sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan, yaitu Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Budiarto Curug.

Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara pada pukul 02.08 hingga 13.30 WIB. Bandara Halim Perdanakusuma beroperasi kembali pada pukul 14.00 WIB setelah ditutup sejak 07.20 WIB. Sementara itu, Bandara Radin Inten II Lampung ditutup pada pukul 04.18-10.00 WIB, dan Bandara Budiarto Curug pada pukul 06.48-09.30 WIB. Penutupan ini dilakukan menyusul sebaran abu vulkanik di ruang udara yang dapat berubah mengikuti perkembangan.

Pemantauan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Pada periode pengamatan 5 September 2026, tercatat satu gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi sekitar enam jam. Fenomena pendaran merah, lava fountain, dan suara gemuruh juga teramati dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang.

Sebaran abu vulkanik terpantau mencapai ketinggian sekitar 14,6 kilometer di atas permukaan laut, dengan arah dominan ke barat hingga barat daya. Kondisi ini menunjukkan sebaran abu yang dinamis dan dapat berubah mengikuti aktivitas erupsi serta kondisi meteorologi. Pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi dampaknya terhadap wilayah daratan dan ruang udara.

Di wilayah daratan, abu vulkanik telah terpantau di sejumlah wilayah Banten, meliputi tujuh kecamatan di Kabupaten Serang: Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros, dan Padarincang. Kawasan pesisir Anyer dan Cinangka menjadi salah satu wilayah yang terdampak. Aktivitas erupsi juga dirasakan melalui suara gemuruh atau getaran di sejumlah wilayah pesisir Lampung dan Banten, serta dilaporkan terdengar di Kecamatan Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput.

PVMBG menduga suara gemuruh dan getaran berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus. Energi akustik yang besar dapat merambat ratusan kilometer akibat kondisi atmosfer. Tidak terdapat aktivitas gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.

Pemantauan juga dilakukan di beberapa wilayah Lampung, termasuk Kecamatan Punduh Pedada dan Rajabasa di Lampung Selatan, serta Kecamatan Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung di Tanggamus. Hingga kini, kondisi masyarakat masih relatif terkendali tanpa laporan korban jiwa atau kerusakan bangunan akibat erupsi.

Aktivitas erupsi ini merupakan kelanjutan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026. Pada 2 Juli 2026, tingkat aktivitas gunung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), status yang masih berlaku hingga kini.

Meskipun transportasi udara terdampak, transportasi laut di sekitar wilayah terdampak dilaporkan masih relatif aman. Jalur penyeberangan Merak-Bakauheni belum mengalami gangguan. Operator pelayaran dan pengguna jasa transportasi laut tetap perlu mengikuti arahan syahbandar.

BNPB bersama pemerintah daerah, PVMBG, Basarnas, dan unsur terkait terus memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan. Upaya koordinasi dan penanganan dilakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Pendistribusian masker dan penyediaan layanan kesehatan juga terus dilakukan untuk masyarakat di wilayah terdampak.

Badan Geologi menyampaikan bahwa aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi menyebabkan tsunami karena pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 2018 masih relatif kecil. Namun, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan mematuhi rekomendasi radius bahaya 3 kilometer dari kawah aktif.