— PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), emiten yang memiliki Rebecca Halim, istri Sugianto Kusuma atau Aguan, sebagai pemilik manfaat akhir, bersiap untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai hingga Rp 500 miliar. Keputusan ini diambil setelah perusahaan mencatat pertumbuhan laba yang kuat pada semester I-2026. Muncul pula target harga baru untuk saham ERAA.

Erajaya menargetkan untuk mengakuisisi hingga 797,5 juta saham ERAA, yang setara dengan 5% dari total saham yang beredar. Program buyback ini akan berlangsung selama tiga bulan, dimulai pada 4 September hingga 4 Desember 2026, dengan seluruh pendanaan berasal dari kas internal perusahaan.

Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, menekankan pentingnya kinerja keuangan dalam memahami aksi buyback saham ERAA. Menurutnya, buyback yang dilakukan saat laba dan penjualan perusahaan sedang tumbuh memiliki makna berbeda dibandingkan jika dilakukan saat kinerja sedang melemah.

“Dalam kondisi kinerja yang menguat, penggunaan kas untuk buyback saham dapat mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kondisi perseroan. Sebaliknya, buyback saat kinerja melemah berpotensi lebih banyak dibaca sebagai langkah defensif untuk menopang saham ketika katalis pertumbuhan terbatas,” ujar Jason di Jakarta, Minggu (6/9/2026).

Jason menjelaskan bahwa penggunaan kas internal sebesar Rp 500 miliar akan mengurangi aset dan ekuitas perusahaan sebesar nilai tersebut, ditambah biaya transaksi. Namun, ia meyakini aksi ini tidak akan memengaruhi kemampuan operasional ERAA dalam menghasilkan laba.

Manajemen Erajaya juga telah menegaskan bahwa laba bersih dan laba per saham (EPS) diproyeksikan tetap sejalan dengan target yang telah ditetapkan. Secara matematis, EPS bahkan berpotensi meningkat karena jumlah saham beredar akan berkurang setelah pelaksanaan buyback.

Rencana buyback ini muncul setelah ERAA membukukan laba bersih sebesar Rp 872,1 miliar pada semester I-2026, melonjak 43,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 605,8 miliar. Kenaikan laba ini juga turut mendongkrak laba per saham dasar ERAA dari Rp 36 menjadi Rp 50,09 per saham.

Selain itu, penjualan perseroan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 22,39%, mencapai Rp 42,9 triliun pada semester I-2026, naik dari Rp 35,05 triliun pada semester I-2025. Kondisi ini memberikan sentimen positif bagi saham ERAA.

Di sisi lain, saham ERAA juga mendapatkan katalis tambahan dari aktivitas investor asing. Selama periode 1 Agustus hingga 2 September 2026, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) sebanyak 377,9 juta saham ERAA. Total pembelian investor asing mencapai 982,6 juta saham, sementara penjualan tercatat sebanyak 604,7 juta saham. Akumulasi saham ERAA oleh investor asing ini terjadi menjelang pengumuman rencana buyback.

“Kombinasi akumulasi asing dan pembelian kembali saham oleh perusahaan menciptakan dua sumber permintaan yang dapat saling memperkuat dalam jangka pendek. Kondisi tersebut berbeda dari situasi ketika buyback menjadi satu-satunya penopang di tengah keluarnya dana investor asing,” papar Jason.

Rekomendasi Saham ERAA dan Target Harga

Pluang Maju Sekuritas memberikan rekomendasi ‘buy’ untuk saham ERAA dengan target harga Rp 700 dalam horizon investasi 12 bulan. Rekomendasi ini didasarkan pada tiga faktor utama.

Pertama, aksi buyback dilakukan saat momentum laba perusahaan sedang menguat, bukan sebagai respons terhadap pelemahan kinerja. Kedua, terdapat kombinasi antara akumulasi investor asing dan aksi pembelian saham oleh perseroan yang memberikan sinyal positif kuat ketika terjadi hampir bersamaan. Ketiga, nilai maksimal buyback yang hanya sekitar 1,7% dari total aset ERAA menunjukkan bahwa aksi tersebut bersifat strategis dan tidak didorong oleh kondisi likuiditas yang mendesak.

Meskipun demikian, Pluang Maju Sekuritas mencatat sejumlah katalis yang perlu dipantau. Ini termasuk konsistensi realisasi pembelian saham selama periode buyback, keberlanjutan pertumbuhan penjualan segmen telepon seluler pada semester II, serta potensi peningkatan EPS seiring berkurangnya jumlah saham beredar.

Risiko utama yang perlu diwaspadai meliputi potensi perlambatan pertumbuhan laba setelah basis yang tinggi pada semester I, tekanan margin akibat kenaikan beban operasional, serta potensi melemahnya daya beli konsumen kelas menengah yang merupakan basis pasar utama Erajaya (ERAA).