— Jakarta – Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul akibat pernyataannya tentang patahan sejarah dan insting yang disebutnya ‘lebih cepat dari 2029’. Budi Arie menekankan bahwa ucapannya bersifat personal dan tidak memiliki kaitan apa pun dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kontroversi bermula dari sebuah video berdurasi 1 menit 47 detik yang beredar luas. Dalam video tersebut, Budi Arie terlihat duduk di samping Jokowi dalam sebuah pertemuan. Ia menceritakan bisikannya kepada Presiden mengenai instingnya yang merasa ada potensi percepatan sejarah sebelum tahun 2029.

Budi Arie dalam video tersebut menyampaikan kekhawatirannya jika terjadi percepatan sejarah di saat masyarakat masih fokus pada Pemilu 2029. Ia juga menyinggung adanya ‘anomali-anomali variabel di masyarakat’ yang membuat dirinya berpendapat telah terjadi ‘patahan sejarah’. Ia membandingkan situasi dengan tahun 1997 yang kemudian disusul Pemilu 1999, serta melihat potensi serupa akibat keresahan sosial dan kondisi ekonomi yang kurang memuaskan masyarakat.

“Saya… insting aktivis saya mengatakan ini ada sesuatu yang… lebih cepat dari yang kita bayangkan. Makanya itu saya coba mau membuka wacana aja ke temen-temen, supaya berpikir, jangan hanya sekedar berpikir 29. Harus ada pikiran lain, alternatif, manakala terjadi percepatan… sejarah. Terima kasih,” ucap Budi Arie dalam video tersebut.

Menanggapi viralnya pernyataan tersebut, Budi Arie pada Rabu (26/8/2026) memberikan klarifikasi dalam tiga poin. Ia menegaskan bahwa ucapannya tentang potensi percepatan sebelum 2029 sama sekali tidak terkait dengan Presiden Joko Widodo yang hadir di acara tersebut.

“Pernyataan tersebut tidak ada hubungan dan kait… dan mengkaitnya, dengan Bapak Joko Widodo,” kata Budi Arie dalam keterangan video yang dibagikan kepada wartawan.

Ia juga menyampaikan permintaan maafnya secara lengkap, menyatakan bahwa analisis dan pernyataannya adalah pandangan pribadi. “Sehubungan dengan viralnya, pernyataan dan analisa saya dalam sebuah pertemuan di Jakarta baru-baru ini yang menimbulkan spekulasi dan berbagai salah penafsiran, saya Budi Arie Setiadi memohon maaf kepada pihak-pihak yang kurang berkenan dan nyaman dengan pernyataan saya tersebut,” tulisnya.

Budi Arie menambahkan, dirinya siap bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi atas analisis dan pernyataannya tersebut. Ia menutup pernyataannya dengan ajakan untuk menjaga persatuan Indonesia.

Menyikapi hal ini, Ketua DPP PSI Bestari Barus menegaskan bahwa Presiden Jokowi tidak mengetahui maupun menyetujui pernyataan Budi Arie. “Pak Jokowi hadir karena diundang ingin bertemu dengan relawan, di situ ada orang yang nyolong ngomong gitu. Tanpa tedeng aling-aling seakan-akan mengisyaratkan hal-hal yang potensial perpecahan bagi bangsa ini,” ujar Bestari pada Selasa (25/6). Ia menambahkan, “Dan saya kira seribu persen saya menggaransi bahwa tidak ada persetujuan Pak Jokowi untuk hal-hal seperti apa yang disampaikan kemarin pagi itu.”