— Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memutuskan untuk mempercepat pengakhiran Kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di kawasan Sudirman-Thamrin. Keputusan mendadak ini diambil menyusul terdeteksinya sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah mencapai wilayah Jakarta.

Pantauan di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu pagi, menunjukkan petugas Satpol PP dan Dishub telah mengimbau para peserta CFD untuk segera menepi. Mereka bekerja cepat untuk memastikan Jalan Sudirman-Thamrin kembali bersih dari aktivitas pejalan kaki dan pesepeda.

Erwansyah, Pengawas HBKB Sudirman-Thamrin, menjelaskan bahwa memburuknya kualitas udara akibat abu vulkanik menjadi alasan utama percepatan penghentian CFD. “Tadi sudah diputuskan dipercepat pembukaannya. Biasanya jam 10.00, sekarang jam 09.00. Tapi ini sudah disosialisasi masyarakat untuk segera pinggir dari ininya, dari jalur HBKB,” ujar Erwansyah.

Ia menambahkan bahwa percepatan pengakhiran CFD ini sesuai dengan peraturan yang berlaku, khususnya terkait kondisi darurat atau force majeure. “Ya, sesuai dengan Pergub 12, di dalam pasalnya itu ada force majeure kalau terjadi sesuatu itu bisa dievaluasi. Baik itu distop maupun ditiadakan,” ungkapnya.

Petugas gabungan dari Dishub dan kepolisian terlihat melakukan penyisiran di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, baik menggunakan kendaraan patroli maupun imbauan melalui pengeras suara.

Tidak hanya di Sudirman-Thamrin, Dishub juga segera menghentikan CFD di kawasan Rasuna Said. Sebagai langkah antisipasi, petugas membagikan masker kepada warga yang masih beraktivitas di luar ruangan. “Jadi tadi semua baik di Sudirman-Thamrin maupun yang di Rasuna Said, kita dari pagi sudah sosialisasi untuk masyarakat menggunakan masker. Dan kita juga anggota kita sudah hampir setiap lini, setiap pos-pos itu membagikan masker,” kata Erwansyah.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan mengenai sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. BMKG melaporkan bahwa abu vulkanik tersebut telah teridentifikasi mencapai wilayah Lampung hingga sebagian Jakarta.

Berdasarkan data sebaran abu vulkanik per pukul 04.00 WIB pada Minggu, 6 September 2026, BMKG mengidentifikasi dua klaster utama sebaran abu. Klaster pertama bergerak ke arah timur laut-selatan, meliputi sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya, dengan ketinggian mencapai 20 ribu kaki dari permukaan.

Sementara itu, klaster kedua teramati bergerak ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, perairan Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat wilayah tersebut. Sebaran ini teramati dari permukaan hingga ketinggian 50 ribu kaki.