Koridor.co.id — Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Ketua Panitia Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menegaskan bahwa mekanisme pengusulan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sudah diatur secara jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Peraturan Perkumpulan NU. Ia mengimbau seluruh peserta Muktamar Ke-35 NU untuk berpegang teguh pada ketentuan organisasi dan tidak terpengaruh oleh berbagai opini yang berkembang menjelang pelaksanaan muktamar.
“Mengenai usulan AHWA sudah tertera cukup jelas di dalam AD/ART dan Peraturan Perkumpulan,” kata Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8/2026).
Gus Ipul menjelaskan bahwa setiap Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang berstatus sebagai peserta muktamar diwajibkan mengusulkan sembilan nama AHWA saat proses registrasi. Sembilan nama tersebut harus merupakan hasil dari Rapat Harian Syuriyah di masing-masing tingkatan kepengurusan.
“Setiap PC dan PW yang merupakan peserta muktamar mengusulkan sembilan AHWA pada saat registrasi sebagai hasil dari Rapat Harian Syuriyah di tingkatan masing-masing. Ini aturan organisasi,” ujar Gus Ipul.
Menurut Gus Ipul, ketentuan yang ada sudah sangat jelas sehingga tidak perlu dikembangkan menjadi berbagai spekulasi yang justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di kalangan peserta.
“Tidak perlu kita beropini atau mengembangkan hal-hal yang membuat bias dan membuat banyak pihak salah paham,” tuturnya.
Ia menambahkan, jika terdapat aspirasi dari peserta untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan organisasi yang ada, hal tersebut dapat dibahas melalui forum resmi muktamar.
“Kalau nanti ingin mengubah aturan-aturan itu, bisa dilakukan pada saat muktamar. Tetapi kali ini yang menjadi pedoman adalah AD/ART dan Peraturan Perkumpulan yang telah diputuskan melalui proses-proses di dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama,” jelasnya.
Gus Ipul juga meminta agar para peserta tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang menggambarkan seolah-olah terdapat situasi genting atau tidak kondusif menjelang pelaksanaan muktamar.
“Tidak perlu kita terpengaruh isu-isu di luar yang seolah-olah ada situasi yang gawat atau situasi yang tidak kondusif. Yang penting bagi kita sekarang adalah mengikuti seluruh prosedur dan aturan yang ada,” tegasnya.
Terakhir, ia mengajak seluruh peserta muktamar untuk lebih bersikap kritis terhadap berbagai informasi dan opini yang beredar, terutama yang tidak memiliki dasar yang kuat pada ketentuan organisasi.
“Saya mengajak seluruh peserta muktamar untuk tidak mudah terpengaruh oleh pendapat-pendapat yang mungkin tidak sesuai dengan ketentuan di lingkungan jam’iyah Nahdlatul Ulama, atau memang sengaja dibentuk menjadi opini-opini yang menyesatkan,” pungkasnya.
Ikuti Koridor.co.id
