— Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon memaparkan perkembangan revitalisasi museum di Indonesia, termasuk pengenalan inovasi baru berupa Museum Passport yang dirancang khusus untuk menarik minat Generasi Z.

Dalam wawancara eksklusif, Fadli Zon menjelaskan bahwa Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan filantropis, untuk mendukung revitalisasi museum. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, hingga swasta dan filantropis.

“Jadi emang ini harus kerja sama dari semua pihak, ya, stakeholder pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan juga beberapa kementerian/lembaga terkait, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan juga swasta dan filantropis,” ujar Fadli Zon.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan swasta diharapkan dapat mencontoh praktik di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Eropa, di mana kontribusi sektor swasta seringkali diakui secara resmi. “Nah, ini kita ingin memulai tradisi itu,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari upaya ini, Kemendikbud telah membentuk Dewan Penyantun (Board of Trustees) yang terdiri dari para pengusaha yang memiliki kepedulian terhadap budaya. Dewan ini berperan dalam membantu mengoptimalkan pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan museum. Bantuan dari Dewan Penyantun ini telah dirasakan dalam pemugaran situs seperti Candi di Muara Jambi dan Plaosan, serta revitalisasi Museum Nasional yang terdampak kebakaran.

Fadli Zon menggarisbawahi bahwa revitalisasi museum tidak dapat sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Karena kalau kita tanggung semua dari APBN agak repot. Ya, terlalu banyak. Nah, jadi kita libatkan juga swasta, korporasi, dan individu-individu. Di sini saya kira penting untuk memulai tradisi itu. Jadi, semua bertanggung jawab, gitu, untuk memajukan kebudayaan kita,” jelasnya.

Menanggapi fenomena ‘museum date’ yang populer di kalangan generasi muda, Fadli Zon menyatakan kegembiraannya dan dukungan penuh terhadap tren tersebut. “Iya, ini kabar gembira memang (museum date), ya, bukan hanya terpantau, kita mendorong ke arah situ,” katanya.

Lebih lanjut, Fadli Zon mengungkapkan peluncuran Museum Passport sebagai salah satu inovasi terbaru. Inisiatif ini disambut antusias oleh Generasi Z, terbukti dengan ludesnya 20.000 eksemplar dalam waktu singkat. Museum Passport ini hadir dalam bentuk buku fisik, bukan digital, dan dijual seharga Rp 89.000 di toko buku maupun platform daring.

“Jadi, paspor museum. Jadi, dalam bentuk buku, ya. Jadi, ini material culture, bukan digital,” tutur Fadli Zon. Ia menjelaskan, “Kalau tidak salah harganya Rp 89.000. Dalam waktu singkat, 20.000 eksemplar habis. Dan yang membeli ini banyak Gen Z.” Dengan Museum Passport ini, pengunjung muda dapat memperoleh cap di setiap museum yang berkolaborasi dalam program tersebut, memberikan pengalaman yang unik dan terstruktur saat mengunjungi berbagai museum.