Di kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, air datang pelan-pelan.
Minggu, 23 November, hujan mulai turun. Awalnya biasa saja. Hujan akhir tahun, kata orang kampung. Esoknya hujan masih turun, lalu hari berikutnya, dan berikutnya lagi. Sampai akhirnya, dini hari tanggal 26, angin kencang ikut datang. Pohon-pohon besar tumbang. Saat itu, air sudah naik.
“Jam 3 pagi kami bangun, air sudah masuk,” kata Hammim Siddiq Alkhafizh, pemuda Aceh Tamiang yang hari-hari berikutnya akan menjalani peran ganda sebagai korban sekaligus relawan.
Di desanya, banjir tidak datang sekaligus. Ia naik berangsur-angsur, tapi konsisten. Tanggal 25 mulai terasa, tanggal 26 air masuk rumah, lalu bertahan. Tujuh hari. Seminggu penuh air menggenang di ruang tamu, kamar, dapur. Lemari kayu lapuk, perabot hancur perlahan, bukan karena dihantam arus, tapi karena terlalu lama terendam.
Di kecamatan lain ceritanya berbeda. Di Bandar Pusaka dan Sekerak, air datang tiba-tiba di malam hari. Banyak warga tidak sempat bersiap. Yang datang bukan hanya air, tapi lumpur dan kayu-kayu besar, susulan dari hulu sungai yang rusak. Di tempat Hammim tinggal, keadaan diperparah oleh tanggul yang jebol. Air menyerbu dari arah sawah di belakang rumah.
BACA JUGA: Ulasan Utama Koridor – BENCANA
Tak ada sirene. Tak ada peringatan untuk mengungsi.
Yang ada hanya rilis BMKG soal hujan berkepanjangan. Tidak ada yang membayangkan banjir akan masuk rumah, apalagi bertahan selama itu. Ketika air naik dan sinyal menghilang, orang-orang terputus dari dunia luar. Mereka bertahan dengan apa yang ada, tanpa tahu kondisi kampung lain, tanpa tahu bantuan akan datang atau tidak.
Kerugian datang serentak.
Sawah-sawah yang baru ditanam sepuluh hari ludes tak bersisa. Di Aceh Tamiang, itu berarti ekonomi berhenti. “Di sini mayoritas petani,” kata Hammim. Kebun sawit tertutup lumpur. Nelayan tak bisa melaut. Kendaraan terbenam lumpur. Banyak lembu mati. Kerugian satu desa bisa ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Rumah Hammim termasuk yang terparah di desanya. Air datang dari belakang, dari sawah, dari tanggul yang jebol. Ia melapor ke perangkat desa. Tak pernah ada yang datang mengecek. Setelah banjir surut, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Yang paling menyiksa bukan hanya air, tapi terputusnya akses. Tiga jalur keluar masuk desa tak bisa dilewati. Hampir seminggu orang-orang terkurung. Bahan makanan habis. BBM habis. Minimarket dijarah.
“Awalnya kami heran, kenapa harus ada penjarahan,” ujar Hammim. “Tapi ternyata memang tidak ada makanan.”

Leave a Reply