Cerita dari Aceh Tamiang: Saat Warga Menolong Diri Sendiri

Ia sendiri menerjang banjir untuk mencari beras dan bensin.

Beberapa hari kemudian, Hammim dan abangnya berhasil keluar dari kecamatan Seruway. Apa yang mereka lihat di tempat lain membuat banjir di desanya terasa kecil. Di Desa Opah, Kecamatan Bendahara, rumah-rumah bergeser dari pondasinya. Jalan hancur. Di tempat-tempat itu, bukan hanya air yang datang, tapi kehilangan.

“Ya Allah,” kata Hammim, mengulang apa yang terlintas di kepalanya saat itu. “Saya nggak tahu mau bilang apa.”

Itulah titik ketika keluarganya memutuskan membantu, meski mereka sendiri korban. Rumah mereka masih berdiri. Sawah memang rusak, tapi masih ada tempat berteduh. Dibandingkan warga lain yang rumahnya hilang, mereka merasa belum seberapa.

BACA JUGA: Siklon Senyar dan Batas Baru Risiko Iklim Indonesia

Maka dimulailah gerakan yang kelak menjadi pola umum di Aceh Tamiang: warga bantu warga.

Ada yang mengantar nasi dengan sepeda motor, ada yang pakai mobil. Donasi dari keluarga di Medan dan kawan-kawan organisasi dimasak di dapur seadanya, lalu dibagikan ke kampung yang lebih parah. Tak ada komando, tak ada struktur, hanya empati.

Balita di Aceh Tamiang menerima bantuan dari sesama warga (foto: istimewa)

Bantuan resmi belum terlihat.

Relawan baru mulai datang sekitar 30 November. Hammim ingat betul satu nama: Najwa Shihab, yang turun langsung ke lokasi. Dari pemerintah, ia tidak melihat kehadiran berarti di desanya saat bencana terjadi. Posko marinir baru berdiri dua minggu setelah banjir. Akses ke kecamatannya mulai terbuka 1 Desember. Sampai 3 Desember, mereka benar-benar menghabiskan stok yang ada.

Bantuan pemerintah memang datang, tapi pelan. Terlalu pelan bagi orang-orang yang sudah seminggu makan seadanya.

Hari ini, Aceh Tamiang masih berlumpur. Aktivitas belum sepenuhnya normal. Di beberapa kecamatan, listrik baru hidup beberapa hari lalu. Di Banda Mulia, tiang-tiang listrik masih rebah. Banyak warga masih mengungsi. Di Bendahara, Opak, dan Simpang Alur Manis, gubuk-gubuk darurat mulai berdiri dari kayu, sepetak, cukup untuk berteduh.

Kebutuhan paling mendesak sederhana: air bersih, genset, sinyal. Popok, susu bayi, makanan. Dapur umum masih jadi tumpuan. Posko berdiri di rumah warga, kadang di lantai atas.

Soal kehadiran pemerintah pusat, Hammim memilih kata yang hati-hati.

“Hadir, tapi setengah-setengah.”

Ia bercerita, saat Presiden datang, listrik sempat dinyalakan. Setelah rombongan pergi, listrik ikut pergi. Banyak tenda berdiri tapi kosong. Warga menyebutnya tenda siluman. Sekarang memang sudah ada posko TNI AL dan polisi yang bekerja, alat berat dari kementerian juga datang. Tapi luka keterlambatan itu sudah terlanjur ada. Apalagi, ketika membuka medsos, kekecewaan makin menyeruak. “Kek gininya kita dianggap,” kata Hammim.

Yang diharapkan warga sebenarnya sederhana. Rumah yang hilang dibangun kembali. Sawah yang rusak dibantu modal tanam. Pekerjaan dipulihkan. Tidak perlu janji besar, tidak perlu kata-kata yang menyakiti.

Soal masa depan, hampir tak ada yang dibicarakan.

BACA JUGA: Pelajaran dari Siklon Senyar: Jarak Peringatan dan Tindakan

“Orang sudah pasrah,” kata Hammim.

Ia pernah membonceng seorang bapak dan anaknya. Mereka bilang belum makan berhari-hari. Disampaikan dengan nada datar, nyaris tanpa keluhan. “cuma dua hari,” kata mereka.

Ada yang kehilangan anggota keluarga, sampai salah menguburkan jenazah karena mayat tak ditemukan. Akhirnya hanya tahlilan. Itu saja.

Soal penyebab banjir, Hammim tidak ragu.

Ini bukan semata hujan.

Ia menyebut kerusakan hulu sungai sebagai faktor utama. Lumpur dan kayu besar yang datang bersamaan bukan kebetulan. Kawasan hulu telah lama rusak. Sawit ilegal di kawasan hijau, termasuk di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Pembalakan liar yang “semua orang tahu”. Bukan hanya perusahaan, kata Hammim, masyarakat juga ikut tergiur.

“Ini akumulasi,” ujar alumnus jurusan Penyuluhan Perkebunan,Politeknik Pengembangan Pertanian (Polbangtan) Medan.

Penertiban sawit di kawasan konservasi baru belakangan dilakukan. Itu pun, menurutnya, karena dorongan organisasi masyarakat sipil. Jika tidak ada tekanan, kerusakan mungkin terus dibiarkan.

Jika banjir datang lagi, tak ada rencana. Semua orang trauma. Hujan sedikit saja, orang sudah waswas. Saat ini yang ada hanya pemulihan. Membersihkan lumpur. Menata sisa hidup. Yang tidak terlalu parah membantu parah, yang parah membantu yang lebih parah.

Kondisi jalanan utama di Aceh Tamiang (foto: istimewa)

Penyakit mulai muncul, gatal-gatal, batuk-batuk hingga luka kaki yang sering terendam lumpur, sementara belum mewabah. Puskesmas sebagian sudah buka, sebagian belum. Semuanya berjalan tidak merata, seperti banjir itu sendiri.

Di Aceh Tamiang, air mulai surut. Tapi yang tertinggal bukan hanya lumpur. Ada rasa yang tertinggal, rasa pasrah. Juga satu kesadaran pahit: ketika bencana datang, yang pertama bergerak bukan sistem (negara), melainkan sesama warga. (ajqf)

 

Pages: 1 2

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *