— JAKARTA – Rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menutup perlintasan liar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dan Kalideres, Jakarta Barat, menuai penolakan dari sebagian warga. Perlintasan ini menjadi lokasi terjadinya kecelakaan tertemper kereta rel listrik (KRL).

Salah seorang warga sekitar lokasi, Bang Ucin, mengungkapkan bahwa pihak KAI memang telah mendatangi warga untuk meminta pendapat mengenai rencana penutupan tersebut. Namun, warga secara tegas menolak jika perlintasan yang menghubungkan Jalan Asem Baris dan Tebet Timur Dalam ini ditutup.

“Ada sempat ditelpon, ada juga yang ke sini ngobrol minta pendapat katanya gimana kalau ditutup. Warga minta ‘jangan pak, entar jadi masalah’, takutnya malah ada apa-apa,” ujar Bang Ucin saat ditemui di lokasi pada Minggu (24/8/2026).

Menurut Bang Ucin, penutupan perlintasan tersebut akan memicu protes dari banyak warga Asem Baris di Tebet. Ia beralasan, perlintasan itu merupakan akses jalan pintas yang sangat penting bagi aktivitas sehari-hari warga.

“Nanti banyak yang protes kalau ditutup,” ungkapnya.

Warga lainnya, Een, turut menyuarakan penolakannya terhadap rencana penutupan perlintasan KRL. Ia khawatir kebijakan tersebut justru akan memicu demonstrasi dari warga.

“Kita sih mintanya jangan ditutup ya, entar malah demo,” kata Een.

Een menambahkan, penutupan jalan tersebut berpotensi mematikan usaha warung tegal (warteg) miliknya. Oleh karena itu, ia berharap ada solusi lain selain menutup perlintasan.

“Kalau ditutup, nanti susah kita dagang,” keluhnya.

Respons KAI

Menanggapi penolakan tersebut, Manager Humas Daop I KAI, Franoto Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan sosialisasi demi menutup perlintasan liar sebidang. Keputusan penutupan ini diambil atas dasar pertimbangan keselamatan.

“KAI bersama stakeholder terkait tidak akan pernah bosan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi keselamatan bagi masyarakat dan perjalanan Kereta api, sampai masyarakat sadar bahwa perlintasan liar sebidang tersebut sangat membahayakan,” kata Franoto saat dihubungi wartawan pada Senin (24/8/2026).

Franoto menambahkan, pihaknya akan terus berupaya melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Kita akan terus lakukan sampai masyarakat menerima, dan dilakukan penutupan perlintasan liar tersebut,” ucapnya.

Sebelumnya, dua insiden tragis orang tertemper KRL terjadi di Kalideres, Jakarta Barat, dan Tebet, Jakarta Selatan. PT KAI mengumumkan akan menutup permanen kedua perlintasan liar tersebut.

“Segera (ditutup), KAI bersama stakeholder selalu lakukan sosialisasi dan edukasi untuk peningkatan keselamatan, meskipun ada penolakan dari masyarakat,” kata Franoto pada Jumat (21/8).

Ia memastikan bahwa perlintasan liar yang membahayakan perjalanan kereta api dan masyarakat akan ditutup sebagai upaya peningkatan keselamatan.

“Perlintasan liar yang membahayakan perjalanan KA dan masyarakat, kita akan komunikasi dan koordinasi dengan kewilayahan setempat dan juga sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat, untuk dilakukan peningkatan keselamatan yaitu dengan cara di tutup permanen,” ujarnya.

Franoto menjelaskan bahwa kedua perlintasan liar yang menjadi lokasi kecelakaan tersebut memang sudah masuk dalam daftar perlintasan yang akan ditutup oleh KAI. Sosialisasi kepada masyarakat sekitar juga telah dilakukan sebelumnya.

Sebagai informasi, dua korban tertemper KRL adalah seorang pelajar dan seorang pria lanjut usia (lansia). Kedua peristiwa nahas tersebut terjadi pada waktu yang hampir bersamaan, sekitar pukul 06.30 WIB, di dua lintas yang berbeda, yakni Bogor-Jakarta Kota dan Duri-Tangerang.