Koridor.co.id — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih terdeteksinya sejumlah titik panas atau hotspot di berbagai wilayah Indonesia, dengan konsentrasi tertinggi di Pulau Kalimantan. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Berton Suar Pelita Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data dan Informasi (Plt Kapusdatin) BNPB, dalam konferensi pers virtual pada Kamis (27/8/2026), menyatakan bahwa jumlah hotspot di Kalimantan Barat meningkat 215 titik, mencapai total 2.825 hotspot. Kondisi ini berdampak pada jarak pandang yang menurun hingga di bawah 1 kilometer.
Sementara itu, Kalimantan Tengah juga mencatat lonjakan hotspot yang signifikan. “Untuk Kalimantan Tengah, hotspot juga naik sebesar 1.837 menjadi 3.947, jarak pandang sebesar 4 km,” ujar Berton dalam keterangan pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB.
Perkembangan lain dilaporkan dari Kalimantan Selatan, di mana jumlah hotspot bertambah 262 titik dibandingkan hari sebelumnya, sehingga totalnya menjadi 1.079 titik. Jarak pandang di wilayah ini dilaporkan masih di atas 7 kilometer.
Di sisi lain, Sumatera Selatan terpantau mengalami penurunan jumlah hotspot sebanyak 263 titik, menyisakan 1.175 hotspot dengan jarak pandang mencapai 8 kilometer. Penurunan serupa juga terjadi di Riau dan Jambi.
Di Riau, jumlah hotspot turun 157 titik, kini tersisa 68 hotspot. Sedangkan di Jambi, penurunan mencapai 92 titik, sehingga total hotspot yang terdeteksi menjadi 42. “Kita berharap (titik panas) yang ada di Sumatra dan di Kalimantan turun secara signifikan dan bahkan menjadi normal,” tutup Berton, menyampaikan harapan agar kondisi Karlahut segera membaik.
Ikuti Koridor.co.id
