Standupindo lebih dari satu dekade jadi ormas pelipur. Simpulnya terbentang dari Aceh hingga ke luar negeri.

Koridor.co.id

Komunitas Standupindo Palu mengadakan open mic spesial merayakan 11 tahun Standupindo (Sumber: Luqmanul Hakim/Standupindo Palu)

“Selamat datang di kantor, toko, dan studio Standupindo. Sebuah komunitas yang tersebar dari Aceh sampai Papua yang berdiri sejak tahun 2011, tapi baru kali ini punya kantor,” kata Pandji Pragiwaksono saat membuka video berjudul “Jelajah Kantor Baru Standupindo” yang diunggahnya melalui YouTube tertanggal 1 April 2021.

Berselang kemudian Pandji memeluk erat Adjis Doaibu sebagai tanda selamat sekaligus mengekspresikan rasa haru. Beberapa komika, terutama yang turut membidani komunitas ini sejak awal, merasakan hal serupa. Mereka seolah tak menyangka bahwa komunitas kecil yang mereka bentuk mampu melewati berbagai rintangan hingga kemudian berkembang pesat.

Letak kantor Standupindo di mintakat Kemanggisan Raya, Jakarta Barat. Sebuah ornamen yang terbuat dari kayu melekat di dinding sebelah kiri setelah membuka pintu masuk. Tertulis di sana; 13-7-2011. Titimangsa terbentuknya komunitas komedian tunggal Indonesia. Melangkah ke bagian dinding sebelah kanan termuat tulisan dan logo Standupindo.

Bukan hanya difungsikan sebagai kantor, tempat itu juga menampilkan berbagai barang dagangan, mulai dari kaos para komika, tas gendong, buku, hingga gantungan dompet.

Masuk lebih ke dalam ada ruangan yang jadi tempat menyunting konten-konten video sekaligus gudang tempat menyimpan barang dagangan.

Lalu ada ruang santai yang terkadang dijadikan kamar menginap para komika karena dilengkapi televisi dan perangkat permainan videogim. Di sampingnya ada studio yang jadi lokasi syuting video. Tak lupa area pantri.

Peran Standupindo sungguh tak kecil dalam melahirkan sosok-sosok yang kini menjelma sebagai bintang di jagat hiburan Indonesia. Ernest Prakasa, Kiky Saputri, Mamat Alkatiri, Bintang Emon, Dodit Mulyanto, Aci Resti, Arafah, Ardit Erwandha, Indra Jegel, Boris Bokir, Bene Dion, Oki Rengga, Babe Cabita, Marshel Widianto, Uus, Rigen Rakelna-Ananta Rispo-Hifdzi Khoir (dikenal juga sebagai trio GJLS), Awwe, termasuk Adjis yang kini menjabat Presiden Standupindo hanya segelintir nama.

Daftar akan sangat panjang jika ingin dituliskan seluruhnya. Pengecualian berlaku untuk Pandji dan Raditya Dika yang kadung tenar jauh sebelum bergabung dalam komunitas ini.

Beberapa komika yang telah mengecap sukses dengan sukacita menyisihkan uang untuk membelikan alat-alat kebutuhan kantor Standupindo. Ibaratnya sebagai bentuk terima kasih kepada komunitas yang turut andil membesarkan nama mereka hingga seperti sekarang.

Industri hiburan tanah air beberapa tahun belakangan, suka atau tidak, memang tak bisa dilepaskan dari kehadiran para komika. Mereka hadir di berbagai program televisi, kanal YouTube, layar lebar, siniar, iklan luar ruang, bahkan muncul tak sengaja di ruang media sosial kita lantaran memuncaki topik pembicaraan warganet. Belum lagi yang bekerja di belakang layar sebagai penulis naskah dan konsultan komedi.

Fenomena yang demikian terang berbanding terbalik ketika awal Standupindo terbentuk lebih dari satu dekade silam. Ada banyak yang skeptis. Meragukan jenis berkomedi secara tunggal di atas panggung ini akan sanggup bertahan lama, wabil khusus di industri hiburan yang punya siklus dan persaingan ketat.

“Bahkan dari kalangan pelakunya juga ada yang menganggap ini enggak akan works awalnya. Kenapa bisa awet hingga sekarang, menurut gue karena kultur antara stand-up comedy di luar negeri sama di Indonesia beda banget. Kita itu guyub dan solid banget. Sementara yang di luar kalau gue perhatikan mereka jalan sendiri-sendiri. Makanya kami berhasil bikin komunitas yang sudah terdaftar resmi di Depkumham sebagai organisasi masyarakat,” ujar Adjis kepada Koridor, Senin (25/7/2022) malam.

Solidaritas itu terlihat dari panjangnya simpul komunitas Standupindo. Terbentang dari Aceh hingga ke Papua. Bahkan menurut Adjis, sejumlah pelajar dan pekerja asal Indonesia di luar negeri juga sudah menghimpun diri membentuk cabang komunitas ini, semisal di Jepang, Mesir, Rusia, dan New York, Amerika Serikat.

Terdata sekitar 142 simpul komunitas komedian tunggal yang menjadi bagian Standupindo. Jumlah komika ada sekitar 900 lebih sudah terdaftar. Artinya minat orang-orang berkecimpung di ranah ini tak kunjung surut lantaran penonton atau pangsa pasarnya terjaga.

Kesamaan sebagai sesama komika juga menimbulkan solidaritas. Terlihat dari apa yang dilakukan Ernest Prakasa, Radit, atau Pandji ketika menjadi sutradara film. Mereka turut mengajak sejumlah komika sebagai pemain dan konsultan komedi. Saling memberikan kesempatan untuk mencoba peruntungan di panggung hiburan yang lain.

Dari sisi organisasi, Adjis berkata bahwa Standupindo sangat terbuka memberikan bantuan dan arahan kepada anggota komunitas di berbagai daerah. Termasuk memfasilitasi peluang untuk meningkatkan jejaring dan memberdayakan talenta para komika dengan transfer ilmu.

“Kami sudah bikin semacam kurikulum agar teman-teman komika di daerah bisa belajar teknik-teknik dasar stand-up comedy. Contohnya langkah-langkah menulis materi komedi untuk dibawakan saat manggung, tanpa mereka harus ke Jakarta. Salah satunya yang sudah jalan itu Ruang Guyu. Bisa dinonton di kanal YouTube kami,” jelas Adjis.

Pada mulanya, komunitas Standupindo yang kelahirannya dicetuskan oleh Ernest, Ryan Andriandy, Radit, Pandji, dan Isman Hidayat Suryaman dimaksudkan sebagai wadah para komika untuk berkarya. Pendekatan yang dilakukan lebih bersifat kekeluargaan dibanding organisasi formal.

Mengingat kesusahan yang akan dihadapi jika wadah tersebut dibiarkan terlalu lentur, maka diputuskan harus ada garis komando yang tujuannya untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Penunjukan ketua bersama anggota pengurus mutlak diperlukan.

Para pendiri lantas sepakat menunjuk Ernest dan Isman sebagai ketua pertama Standupindo dengan periode jabatan hingga 2012. Tongkat estafet kemudian diteruskan kepada Sam Darma Putra Ginting. Mekanisme pemilihan waktu itu menggunakan sistem penunjukan langsung lantaran organisasinya masih sangat kecil.

Ketika masa jabatan Sam berakhir medio 2015, mekanisme pemilihan diubah menggunakan pemilihan suara. Tiap-tiap cabang komunitas yang resmi terdata sebagai anggota berhak mengusulkan satu nama bakal calon. Periode jabatan ditentukan selama dua tahun dengan masa perpanjangan satu periode lagi.

Hasil dari sistem pemilu ini kemudian menahbiskan Andi Wijaya alias Awwe sebagai pemilik suara terbanyak. Jabatan sebagai Presiden Standupindo pun diembannya yang bertahan hingga 2019.

Adjis jadi peraih suara terbanyak saat penyelenggaraan pemilu Standupindo berikutnya. Maka laiknya presiden sebuah negara, pria dengan nama lengkap Abdul Aziz Batubara itu kemudian menunjuk langsung anggota kabinetnya yang terdiri dari Erwin Wu sebagai wakil presiden, Rizky Ubaidilla jadi sekretaris umum, dan tugas bendahara diemban oleh Sigit Sulistyo. Nama lain adalah Rizal Hamidi di bagian humas, juga Sanpras anak Standupindo Jogja yang diandalkan untuk membuat desain dan ilustrasi acara-acara Standupindo.

“Mereka semua gue sendiri yang pilih. Banyak hal yang dicapai Standupindo sekarang terjadi berkat kerja keras mereka semua. Jadi apresiasi harusnya bukan cuma gue doang. Gue sih enggak ada apa-apanya,” ungkap Adjis.

Kepengurusan Adjis lalu “mengamandemen” aturan lama tentang periode jabatan presiden Standupindo. Sebermula hanya dua tahun menjadi lima tahun. Maksudnya untuk memberi kelonggaran waktu kepada siapa pun presiden komunitas ini nantinya menyelesaikan segala program kerja. Waktu dua tahun dirasakan terlalu singkat. Tak ada anggota komunitas mengajukan keberatan perihal perubahan itu.

Sebenarnya masih ada satu impian besar yang hendak diwujudkan Adjis. Ia ingin Standupindo kelak punya kantor tiga lantai yang terdiri dari kafe tempat komika mengasah materi komedinya melalui acara open mic, lalu ada comedy club tempat berlangsungnya semua acara Standupindo, dan lantai terakhir sebagai kantor.

“Istilahnya kami punya stand-up comedy center. Jadi kalau ada orang-orang dari luar negeri mau cari tahu tentang stand-up comedy di Indonesia bisa langsung datang ke stand-up comedy center. Kepengin banget,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terkini