Selamat datang Wednesday. Inilah remaja perempuan antisosial, antimainstream, freak dandanan ala gotik. Tetapi, dia pembela keadilan, dan kaum lemah

Koridor.co.id

Ilustrasi-Foto: Netflix.

“Ksatria adalah instrumen patriaki agar (perempuan) merasa berutang budi,” cetus Wednesday Addams kepada seorang teman sekolahnya di Nevermore.  Karakter yang diperankan Jenna Ortega membuat serial streaming persembahan Netflix bertajuk Wednesday membuat ratusan jutan penonton di seluruh dunia jatuh hati. Dengan posisi #1 di 83 negara, capaian ini juga mengalahkan rekor yang telah dibuat Stranger Things 4.

Jenna yang membuat  penonton terpikat  pada serial komedi horor supranatural yang tayang sejak 23 November 2022. Mengapa? Pertama, Wednesday adalah remaja puber tampil dengan busana dan rias gotik minim gesture.

Pada satu sisi ia terkesan freak, dingin dengan pernyataan-pernyataan penuh sarkas, antisosial, tetapi di sisi lain seram, dan hangat secara bersamaan. Wednesday terkesan tidak jujur dengan perasaannya, namun peka, dan sigap membela siapa pun yang dianggap tak berdaya dari penindasan. 

Berkat kemampuannya melihat apa yang telah terjadi dan akan terjadi dengan memegang tangan obyek, memberikan Wednesday kelebihan untuk bisa bertindak melakukan apa yang dianggapnya benar.

Jenna sejak awal serial pertama mampu secara natural menghidupkan Wednesday.  Prolognya saja sudah meyakinkan. Seorang remaja perempuan berdandan ala gotik (gelap, misterius, eksotis) berjalan dengan tenang dengan mata tajam menatap ke depan, di koridor sebuah sekolah menengah. Ia tak memperdulikan pasangan mata dengan penglihatan mengejek.

Dia menuju kolam renang suatu klub polo air sekolah itu, yang terdiri atas para remaja pria yang mencemoohnya. Namun cemoohan mereka berhenti dan menjadi ketakutan, ketika remaja perempuan itu melepaskan dua kantong piranha berperut merah ke kolam.

Dia kemudian menyaksikan dengan girang dan terpesona saat gerombolan piranha membuat para anak laki-laki berebutan keluar dari kolam renang dan seorang anak laki-laki sempat jadi korban.

Adegan yang terkesan memenangkan perilaku psikopat itu diiringi lagu yang pas dari penyanyi klasik Prancis Edith Piaff bertajuk Non, Je ne Regrette Rien, tetapi mereka tahu alasan akan mendukungnya. Wednesday melakukan balas dendam karena Sang Adik jadi korban bullying para remaja pria yang ada di kolam renang itu. “Hanya aku yang boleh menyiksa adikku!” ucapnya.

Akibat perilakunya, orang tua Wednesday membawanya ke Nevermore, sekolah asrama tempat ayah dan ibunya bertemu dan jatuh cinta, sekolah untuk anak-anak outcast atau orang buangan, orang dengan kelebihan, seperti kutukan daripada anugerah. Morticia atau Tish (Catherine Zeta-Jones) dan Gomez (Luis Guzman), orang tua Wednesday tahu bahwa putri mereka bukan remaja sembarangan

Wednesday awalnya menjadi antitesis dunia modern. Dalam perdebatan dengan Enid Sinclair (Emma Myers) dengan teman sekamarnya, dia menolak menggunakan gawai dan lebih suka menggunakan mesin ketik untuk menyalurkan hobinya menulis. Enid punya keanehan mengeluarkan kuku tajam, tetapi tidak kunjung jadi serigala dan selalu ceria.

“Aku tak mau jadi budak teknologi, buat apa karya vlog-mu ditanggapi dengan simbol-simbol,” sergah Wednesday.

“Itu namanya emoji,” sahut Enid.

Wednesday pun menimpali dengan santai “Satu-satunya emoji aku untukmu ialah tali, sekop dan liang.”

Di Nevermore, Wednesday membela seorang remaja pria yang jadi bulanan-bulanan pemain anggar bernama Bianca Barclay (Joy Sunday) yang disebut lebah. “Fakta yang aku tahu soal lebah ialah kalau dicabut sengatnya dia mati.”

Jenna rela terluka untuk membela orang yang dianggap patut dibela. Sekali lagi penonton dibuat bersimpati dan masih ada lagi.

Karakter itu begitu santai mengklarifikasi tuduhan anak-anak sebayanya, misalnya: Kami dengar kamu membunuh seorang anak di sekolah lama?” Dia jawab dengan tenang: Yang benar dua anak. Lalu yang menuding pun berlalu.

“Kamu terobsesi pada monster?” kata salah seorang teman laki-lakinya.

“Memangnya kamu mau saya suka boybands dan kuda,” katanya santai.

Waktu menimbang ikut ekstra kurikuler memanah, seniornya bertanya: Memangnya kamu pernah memanah. Dia menjawab: “Cuma pada sasaran hidup.”

Tetapi keduanya dengan cepat bersahabat Enid mengajaknya berkeliling dan bercerita tentang klik-klik sosial sekolah yang terbagi menjadi empat yaitu: taring, bulu, batu, dan sisik. Namun sebenarnya Wednesday ingin kabur.

Namun keinginan kabur Wednesday dari sekolahnya perlahan sirna. Dia mendapatkan teman baru yang memahaminya, seperti anak Sherif di luar Enid dan Thing (tangan berjalan yang dikirim orang tuanya menemaninya).

Wednesday kemudian melakukan penyelidikan kematian misterius sejumlah orang yang diduga Sherif terkait dengan Nevermore. Misteri pembunuhan yang secara langsung berkaitan dengan dirinya. Misteri yang  juga menimpa seorang siswa Nevermore yang kemudian membawa misteri pembunuhan lainnya yang terjadi 25 tahun lalu.

Ada tiga sutradara yang menggarap serial yang terdiri atas delapan episode ini, di antara mereka terdapat nama Tim Burton. Pria kelahiran 1958 itu banyak menggarap film berbau dark dan gotik, seperti Batman (1989), Edward Schissorhands (1990),  Night Before Chrismast (1993), Sleepy Hollow (1999),  Corpse Brid (2005), Charlie and The Chocolate Factory (2005), Frankenweenie (2012), Dark Shadows (2012).

Tim berhasil membuat brand dan ikon sendiri dalam pop culture gotik dan dia konsisten untuk hal ini. Tentu saja, dia mampu mengantarkan Wednesday menjadi racikan yang memuaskan.

Artikel Terkait

Terkini