Sejak zaman kolonial, Tangkuban Perahu jadi wisata favorit

Koridor.co.id

Wisatawan ke Tangkuban Perahu 1950-an. Tampak ada tentara berjaga-Foto: https://kumeokmemehdipacok.blogspot.com/2013/06/sejarah-pendakian-gunung-tangkuban.html

Pendaki Tangkuban Perahu pertama  yang tercatat  (di luar warga lokal tentunya) adalah seorang pengusaha kopi bernama Abraham Van Riebeek pada November 1713.  Dia disebutkan tewas setelah mendaki gunung ini karena kelelahan.

Tangkuban Perahu menjadi tempat wisata favorit bagi orang Eropa hingga para priayi yang berkunjung ke Bandung sejak masa Hindia Belanda.  Begitu juga dengan berkemah di Bukit Jayagiri sangat digemari oleh anak-anak Eropa.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-IndiĆ«  9 Mei 1939 memberitakan tentang rombongan Pantekosta bagian Batavia dari Netherlands Indie Natural History Association bertamasya selama 3 hari ke Tangkuban Perahu dan perkemahan di kawasan Jayagiri. Surat kabar itu menyebut Desa Jayagiri sebagai desa komoditas teh yang cukup tua.

Dalam berita disebut rombongan Pantekosta berkemah setelah melalui jalan terjal sejauh 5 kilometer pada ketinggian 1.700 meter. Rombongan mengunjungi Kawah Upas, Kawah Ratu dan Kawah Baru pada hari pertama, kemudian ke Situ Lembang dan Lembang pada hari kedua dan ketiga.

Majalah Mooi Bandoeng edisi 11 Mei 1934 melaporkan Pada 1930-an untuk berkunjung ke tempat wisata ini otoritas memungut bayaran  F 2,5 (Gulden)  per mobil dan satu Gulden untuk mereka yang memakai sepeda motor. Untuk mencapai Tangkuban Perahu dibutuhkan waktu tiga perempat jam dari Bandung.  Pemberitaan ini cukup menjelaskan bahwa hanya orang Eropa dan para menak yang mampu menikmati Tangkuban Perahu,

Pada edisi Januari-Februari 1935, Mooi Bandoeng mengungkapkan Tangkuban Perahu pernah dikunjungi  tamu agung dari  Surakarta. Pada 11 Februari 1935 Susuhunan Surakarta dan Ratu Hemas diberitakan berkunjung. Rombongan melihat keindahan Kawah Ratu didampingi oleh Wedana Lembang.

Pada 16 Mei 1935, Mangkunegara VII didampingi Ratu Timur dikabarkan menginap di Hotel Homman dan Sabtu 18 Mei mengunjungi Tangkuban Perahu ditemani Manager Hotel Homman bernama HR. Vleugees. Rombongan datang dengan 5 mobil kira-kira pada pukul 8 pagi, (Mooi Bandoeng, Juni 1935).

Setelah Indonesia merdeka Tangkuban Perahu terbuka bagi siapa saja. Tetapi setiap tamu agung, kepala negara sahabat jika berkunjung bersama Presiden Soekarno, maka Tangkuban Perahu menjadi tempat kunjungan wajib mulai dari Nehru hingga Presiden Yugoslavia Tito.

Kesempatan naik gunung (trekking) Jayagiri ke Tangkuban Perahu sudah dilakukan sejak 1950-an menurut buku penerangan Djawa Barat yang diterbitkan tahun 1953.  Disebutkan mereka yang trekking  mencapai Kawah Tangkuban Perahu melalui jalan hutan yang penuh dengan pohon-pohon pinus serta bunga-bungaan di bawahnya. Trekking pada masa itu cukup rawan karena ada gangguan gerombolan bersenjata.

Pada awalnya, komplek hutan Gunung Tangkuban Perahu seluas 1.660 hektare telah ditetapkan sebagai hutan tutupan, melalui Besluit Direktur Van Landbouw, Nijverheid en Handel tanggal 13-2-1929 No. 1377/B Sub E bi.

Selanjutnya oleh surat keputusan Menteri Pertanian No. 528/Kpts/Um/9/1974 tanggal 3 September 1974 tentang Penunjukan Hutan Tutupan Gunung Tangkuban Perahu yang terletak di Propinsi Jawa Barat sebagai Taman Wisata seluas 370 Ha dan sebagai Cagar Alam seluas 1.290 ha.

Tangkuban Perahu kemudian dikelola Balai Besar Badan Konservasi Sumber Daya Alam Daerah (BB BKSDA) Jawa Barat sebelum akhirnya diserahkan ke swasta pada 24 September 2009, tepatnya PT Graha Rani Putra Perkasa (GRPP).

Artikel Terkait

Terkini