Pinocchio, film anak-anak dengan pesan moral nan tak usang. Suara hati yang diabaikan kebanyakan orang di dunia

Koridor.co.id

Salah satu adegan di remake live action film Pinocchio
Salah satu adegan di remake live action film Pinocchio. (Foto: disney.co.uk)

Malam itu Geppetto (Tom Hanks), pria tua kesepian baru saja menyelesaikan pembuatan sebuah boneka kayu anak laki-laki yang dipahat mirip mendiang anak laki-lakinya. Seperti biasa, dia ditemani Figaro, kucingnya dan Cleo, ikan di akuarium. 

Malam itu dia juga menolak permintaan Signore Rizzi seorang kaya yang ingin membeli jam kukuknya yang ditaksir bernilai seni tinggi. Namun Geppetto tidak mau menjualnya karena jam itu disukai anak laki-lakinya dulu.

Malam itu ada saksi lain Jimmy Cricket (diisi suara oleh Joseph Gordon Livett), seekor jangkrik pengelana. Saat bintang harapan melintas, Gepetto ingin agar boneka itu hidup menemaninya. Hasilnya peri biru (Cynthia Erivo) datang dan menhidupkan boneka itu.

Prolog kisah Pinocchio (artinya pinus putih) tidak jauh beda dengan pakemnya yang sudah banyak dibuat versi filmnya, termasuk di Indonesia menjadi operet legendaris Sanggar Sangrilla setelah Cinderella pada 1980-an awal.

Pinocchio versi remake live action berbeda dengan film Disney klasik remake lainnya yang mendapat perilisan di bioskop, Pinocchio langsung rilis pada streaming platform Disney+. Versi ini menggunakan teknik CGI, menggabungkan animasi 3D dengan orang sungguhan.

Dalam versi anyar ini, sebelum menjadi anak laki-laki sungguhan, Pinokio (Benyamin Evan Aisworth) diberi masa percobaan agar menjadi manusia yang punya hati nurani, jujur, berani dan tidak egois. “Untuk mengetahuinya bagaimana?” tanya Pinokio. “Tanyakan sama hati nuranimu?” jawab Peri Biru.

Karena masih belajar, maka Peri Biru meminta Jimmy jadi hati nuraninya. Si Jangkrik pun dilantik jadi duta pengetahuan yang benar dan salah.

“Menjadi nyata tidak ditentukan dari apa kau terbuat, tetapi apa yang ada di dalam hatimu?”

Godaan untuk Pinokio sudah datang di hari pertama sekolah. Ada tokoh rubah hingga Stromboli (Giuseppe Battiston), pemilik sebuah sandiwara boneka, yang ingin memanfaatkan boneka kayu hidup. Pinokio dan anak-anak lain dijual jadi pekerja tambang garam dan diubah jadi keledai.

Seperti pakemnya, sekalipun agak tergesa-gesa dan kurang dramatis, hilangnya Pinokio dan pencarian Geppetto berakhir di perut ikan paus raksasa. Di sini Robert Zemeckis sang sutradara membuat ending berbeda. Apakah Pinokio menjadi anak manusia?

Situs IMDb (Internet Movie Database) memberikan rating 5.1/10, berbeda dengan Pinocchio versi 1940 yang mendapat nilai 7.5/10. Itu berarti netizen menganggap versi original merupakan yang terbaik daripada versi anyar. Secara naratif, emosional, dan tematis, Pinocchio versi terbaru mungkin merupakan remake live-action Disney terlemah

Apa istimewanya Pinokio (ejaan Indonesia)? Dongeng untuk anak-anak yang bukan saja menanamkan moral agar bisa membedakan yang baik dan buruk, tetapi juga mengajarkan bahwa perbedaan manusia dan binatang terletak pada hati nurani. 

Bagian cerita Pinokio kerap jadi metafora karikatur. Misalnya, jika orang berbohong, hidungnya memanjang. Itu pernah digambarkan media massa di Indonesia saat menggambarkan pejabat publik yang dinilai berbohong. Bisa juga digambarkan telinganya seperti keledai, ditemukan di versi terbaru ini.

Selain itu tokoh-tokoh antagonis seperti rubah dan Stromboli sebetulnya bisa jadi merupakan gambaran manusia yang licik dan suka mengeksploitasi sesama manusia.

Perspektif Pinokio dan Dongeng Anak lainnya

Pinokio merupakan dongeng dari Italia karya Carlo Collodi (nama peran Carlo Lorenzeni) ditulis 1883. Ceritanya sebetulnya menggambarkan kritik penulis terhadap pemerintah otoriter, membela kelas pekerja, perbedaan tajam antara si kaya dan si miskin. 

Dunia yang digambarkan dalam Pinokio antibangsawan, tetapi juga borjuis, tokoh Rizzi gambar borjuis. Pinokio dan Geppeto adalah orang bersahaja yang berjuang untuk hidup dengan kerja keras. 

Bandingkan dengan Cinderella yang diangkat juga Disneyland dan tidak kalah populer di Indonesia menggambarkan bahwa diselamatkan pangeran adalah jalan keluar dari kemiskinan seorang perempuan. Kebetulan, atau tidak, berwajah cantik. 

Dongeng ini ditulis oleh penulis Prancis, Charles Perrault pada 1697, jelas istana sentris. Cinderella kerap dikritisi para feminisme. Sang putri digambarkan perempuan pasif, tidak mandiri dan tidak membuat keputusan penting untuk hidupnya, selain pertolongan peri, tikus-tikus hingga pangeran. Cinderella tidak memperlihatkan perjuangan hidup keras, seperti Pinokio.

Kalau dilihat dari kemandirian perempuan, masih lebih baik cerita Waltdisney, seperti The Beauty and The Beast, tokoh Bella berani membuat keputusan membela ayahnya. Apalagi Rapunzel dan Mulan merupakan gambaran perempuan mandiri.

Begitu juga dari segi moralitas Pinokio jauh lebih kuat dari Cinderella. Pinokio mengdepankan bahwa keselamatan hidup adalah dengan berbuat baik. Tidak berkata bohong dan kejujuran. Pinokio juga mengajarkan pendewasaan bisa didapat melalui kesalahan, pembelajaran dan pendewasaan.
Sedangkan Cinderella mengajarkan hanya dengan masuk menjadi bagian keluarga bangsawan, bisa hidup terpandang di mata masyarakat.

Artikel Terkait

Terkini