Pelukis Hardi Akhirnya Bersimpuh Juga di Hadapan Yang Maha Kuasa (5)

Koridor.co.id

Oleh Wina Armada Sukardi, kolektor lukisan Hardi

Lukisan Potret Diri Wina Armada Sukardi karya Hardi

Hari ini (Rabu, 3/1/2024) tepat tujuh hari pelukis dan budayawan Hardi wafat. Berikut bagian terakhir dari lima tulisan serial In Memorium Tujuh Hari Wafatnya Pelukis Hardi karya wartawan senior Wina Armada Sukardi. Selamat menyimak.

Jakarta, Koridor.co.id – Tiga bulan sebelum Hardi jatuh sakit, saya masih sempat datang ke rumahnya.

Dia bercerita, sedang mempersiapkan penerbitan buku soal keris yang kedua.

“Koleksi keris kakak Anda yang langka-langka itu, nanti dapat dibuat di buku itu,” terangnya.

Kedua kakak saya memang kokektor keris. Saya cuma tersenyum saja.

Sewaktu saya pulang, Hardi memberikan sebungkus keju berwarna. Rupanya kakak atau adiknya dari Belanda membawa keju itu.

”Ini saudara saya bawa keju dari Belanda,” katanya.

“Saya tahu, Anda orang kaya, tapi ini dari saudara saya yang bawa dari Belanda. Enak,” tambahnya.

Sambil tersenyum, saya menerima keju itu. Saya sangat paham, pemberian keju tersebut bukan sekadar pemberian biasa. Lebih dari itu, pemberian keju tersebut merupakan simbol persahabatan antara saya dan Hardi. Begitu pula pemberian itu merepresentasikan hati Hardi yang baik. Jadi, bukan sekadar kejunya belaka.

Jika saya menolak pemberian itu, pastinya hati Hardi bakal terluka. Niat dia baik. Berbagi rasa. Maka saya menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih kepadanya. Saya bawa pulang keju ke rumah.

Istri Cinta Sejati

Kesehatan Hardi mulai langsung melorot setelah Susan meninggal. Sepeninggal istrinya itu, Hardi bagaikan layang-layang putus. Meski sering melukis wanita cantik dan bahkan tak jarang nude pula, tapi semua itu tak dapat menghilangkan kenyataaan hatinya hanya untuk sang istri, Susan. Tak ada yang mampu menggantikan Susan di hati Hardi.

“Ternyata saya cinta banget lho ke istri saya, Mas Wina, ” ujarnya kepada saya dengan nada melankonis. Tak sekali dia bilang begitu. Berkali-kali dalam berbagai kesempatan.

“Ya iyalah,” jawab saya menghiburnya. Pada saat-saat seperti itu, Hardi saya lihat sudah sering tercenung. Matanya yang dulu garang seperti kehilangan sebagian jiwanya.

Kepergian Susan memang membuat Hardi limbung. Susanlah selama ini yang mendampingi dalam suka dan duka. Susan sebagai istri tidak pernah mengeluh terhadap profesi dan tabiat Hardi. Susan wanita Batak yang tabah dan mampu menjadi tumpuan jiwa Hardi. Dia selalu dan selalu mengerti Hardi. Susan selalu memaklumi Hardi. Susanlah wanita yang paling paham siapa sejatinya Hardi luar dalam.

“Dari saya kenal dan pacaran, dia orang memang sudah begitu,” kata Susan kepada saya dan Hardi manakala kami berbincang-bingang santai.

Waktu itu saya “pancing” Susan apa enggak cemburu pada Hardi yang sering melukis wanita cantik dan sering melontarkan kritik kepada siapa pun. Mendengar jawaban istrinya itu, Hardi cuma tersenyum-senyum.

Terputusnya Aliran Energi dari Sang Istri

Ketika Susan sakit dan sehari-hari harus duduk di kursi roda, Hardi masih belum terpengaruh. Paling Hardi menjadi lebih getol mencari uang untuk ikut membiayai pengobatan Susan. Selebihnya masih biasa-biasa saja. Perkaranya, apa pun yang terjadi, sang istri masih ada di sisinya. Hardi masih dapat melihatnya secara nyata. Sesuatu yang sangat penting bagi Hardi. Selama istri masih ada di sampingnya, dalam keadaan bagaimanapun, Hardi masih tenang. Masih ada energi dari istrinya.

Maka tatkala Susan wafat, jiwa Hardi serasa remuk redam. Sebagian dari jiwanya sendiri seperti ikut melayang.

Tanpa sadar Hardi mulai berubah. Nafsu makannya sedikit demi sedikit berkurang, sampai kehilangan selera sama sekali.

Perlahan-lahan kesehatannya memburuk. Jago silat ini mulai kehilangan banyak tenaga. Energinya seperti telah terkuras. Dan akhirnya dia pun jatuh dari tangga di rumahnya.

Sejak itu praktis Hardi kehilangan dirinya sendiri. Dia mulai dihinggapi demensia, penyakit mudah lupa, sehingga sulit mengenali kawan-kawan dekatnya sendiri. Tubuhnya juga tampak mulai susut. Makanya, meski saya termasuk orang yang sejak awal mengetahui Hardi sakit, saya tak pernah memberitakannya, apalagi memasang foto setelah sakit.

Pertama, pada awalnya itu memang permintaan keluarganya, sakitnya Hardi jangan banyak diekspos, agar tidak terlalu banyak yang bezoek. Kedua, memang menurut saya memasang foto Hardi sedang sakit agak kurang etis.

Meski sedang sakit Hardi, selalu berupaya tetap tersenyum kepada tamu yang membesuknya. Padahal dia sudah tak lagi paham siapa yang di hadapannya.

Ihwal profil pelukis kelahiran Blitar 26 Mei 1951 dengan pendidikan Jan Van Eyck Academie dan ASRI itu telah banyak terungkap dan dapat ditelusuri jejaknya di media digital. Jadi, di sini tak perlu saya mengulang-ulang kembali.

Seniman Pemberani Melawan Kezaliman

Satu hal yang jelas, Hardi seorang yang pemberani. Siapa pun yang menurut penilaiannya keliru, bakal blak-blakan dia kritik atau serang. Hardi hampir tidak pernah memikirkan siapa pihak yang dia serang. Dia memang tidak takut kepada siapa-siapa. Dia orang yang blak-blakan.

Hardi juga seorang yang peka terhadap ketidakadilan. Dia segera sewot luar biasa terhadap ketidakadilan sosial. Dia berani meneriaki siapa pun yang dalam pandangannya berbuat zalim dan berkhianat. Karena itu, dulu pelukis kenamaan itu membuat kartu pos dengan gambar karyanya memaparkan kemiskinan masyarakat dan ketidakadilan sosial.

Sikap antiketidakadilan juga dia terapkan kepada dirinya sendiri. Kalau ada panitia pameran lukisan tidak jujur, pasti dia semprot habis-habisan! Entah menyangkut harga dan pembagian keuntungan atau pembayaran yang tidak beres. Soal ini, saya tidak hanya mendapat cerita dari Hardi tetapi kerap mengetahui sendiri.

Watak dan sikap seperti itu membuat Hardi bagi sebagian orang dikenal sebagai pelukis “bengal.” Kalau dalam benaknya tidak masuk akal, dia terkesan menjadi sulit diatur. Dia bagaikan singa yang siap mengaum.

Berhati Lembut, Mudah Tersentuh

Tetapi sejatinya, di balik semua itu, Hardi ialah seorang yang berhati lembut. Jika mengetahui ada sesuatu yang menyebabkan seseorang tertimpa ketidakadilan, Hardi mudah tersentuh. Beberapa kawan dekatnya sering dia bantu duit tanpa pernah omong ke mana-mana, kecuali kepada satu dua sahabat karibnya seperti saya.

Tidak jarang, Hardi memberikan lukisan karyanya begitu saja kepada para wartawan atau orang yang mewawancarainya. Dia paham benar banyak yang ingin memiliki karyanya tetapi kantungnya tidak cukup tebal. Dengan ikhlas, Hardi sering memberikan lukisan karyanya kepada mereka sebagai hadiah.

Dalam beberapa tahun terakhir sebelum wafat Hardi juga menjadi rajin sholat, sesuatu yang dahulu seperti tak mungkin dia lakukan. Rupanya Hardi mendapat semacam hidayah bahwa pada akhirnya semua akan kembali kepada Pencipta. Hardi di hari tuanya bersedia bersimpuh di hadapan kebesaran Tuhannya Yang Maha Kuasa.

Dari dunia fana ini, saya mengulurkan tangan kepada Hardi sahabatku: Jabat erat, Mas Hardi. (SELESAI)

BACA JUGA:

Lukisan Besar, Keindahan Seni, dan Kepekaan Karya Hardi (1)

Kolektor Sekaligus Pembuka Pasar Lukisan Hardi (2)

Wanita Cantik dan Pesohor sebagai Model Lukisan (3)

Ibu: Pelukis Hardi Bakal Hidup Enak (4)

Artikel Terkait

Terkini