Menjelang Hari Film Nasional 30 Maret,  jumlah penonton film Indonesia tak terlalu menggembirakan

Koridor.co.id

Adegan dalam Waktu Mahrgrib-Foto: Rapi Films

Kecuali film horor Waktu Mahgrib yang penontonnya menembus angka dua juta,  belasan film lainnya tidak mencapai satu juta. Posisi kedua ditempati Jalan Jauh Jangan Lupa Pulang mendapatkan angka lumayan 859 ribu penonton. Cukup mengejutkan, mengingat film ini agak berat dan mampu menerobos genre film horor dan film remaja.

Posisi ke tiga hingga ke lima  jumlah penontonnya tertinggal jauh yaitu dua film horor, Mangkujiwo 2 sekitar 554 ribu, Bayi Ajaib dengan 434 ribu jiwa dan Hidayah dengan 333 ribu penonton.

Yang lain penontonnya jatuh. Termasuk Virgo and The Sparkling yang situasinya mirip dengan Sri Asih hanya ramai di media sosial.

Begitu juga dengan Balada Si Roy dan Gita Cinta dari SMA yang mencoba menghadirkan kembali era 1980-an pada generasi milenial, jumlah penontonnya tidak mengembirakan.

Hal yang tidak terlalu mudah karena cara berpikir generasi milenial sangat berbeda dengan generasi 1980-an di mana media sosial tidak mengendalikan perilaku remaja.

Berbeda dengan Dilan 1990 dan dua sekuelnya, sekalipun menceritakan kisah remaja 1990-an, tetapi ceritanya yang unik sudah populer lewat Wattpad.

Berbeda dengan Balada Si Roy dan Gita Cinta dari SMA yang ceritanya tidak dikenal generasi milenial.  Hal ini sudah diingatkan Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia Djonny Syafruddin seperti ditulis https://koridor.co.id/rehat/tidak-banyak-film-lawas-yang-dirilis-ulang-setelah-25-tahun-masih-ditonton-di-bioskop-satu-di-antaranya-titanic-film-romantis-sejuta-umat-ini-kuat-pada-jalan-cerita-selalu-diingat-dan-membuat-penas/  Titanic , yang merupakan film Hollywood masih populer sekalipun sudah diputar puluhan tahun lalu, karena ada novel yang dibuat dan daya ingat terus ditanamkan dari generasi ke generasi.

Pengamat film Dewi Puspasari mengaku tidak terkejut dengan hasil ini. Menurut dia kalau lihat tren tahun-tahun sebelumnya memang sepertinya penonton relatif sepi pada Januari dan Februari.

Selain itu kata salah seorang pemenang lomba ulas film dari Kemendikbud ini faktor cuaca yang kurang bagus dan pilihan film yang juga kurang menarik.

“Hampir tiap minggu ada film horor yang kualitasnya sayangnya kurang bagus, sehingga mungkin ada kejenuhan penonton. Waktu Maghrib termasuk yang horor cukup bagus dalam membangun cerita, sehingga ia bertahan cukup lama di bioskop,” tutur perempuan yang karib disapa Puspa ini.

Sementara untuk film superhero Virgo and The Sparkling karakter Rianinya beda dengan versi webtoon yang cenderung kalem.

“Di Webtoon fokusnya lebih ke band dan kontrol kekuatan, nggak ada cinta segitiga ala sinetron yang klise seperti dalam film. Ceritanya lebih ke pencarian jati diri,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terkini