Kasus Bandung era 1950 hingga zaman digital selalu ada kenakalan remaja. Dulu ada crossboy kini geng motor. Mereka juga mencari jati diri

Koridor.co.id

Ilustrasi Adegan Filam Dilan 1990-Foto; Falcon Pictures.

Pekan ini kalau tidak ada aral melintang film yang diangkat dari novel karya Gol A Gong Balada Si Roy resmi ditayangkan. Film ini berkisah kehidupan anak SMA di Kota Serang Banten era 1980-an dan merupakan hasil observasi penulis yang bernama asli Heri Hendrayana Haris ini selama enam tahun.

Namun sebetulnya apa yang diungkapkan SBR juga pernah terjadi di masa lalu dan masih relevan di era digital ini dan bukan hanya milik era 1980-an. Hasil riset penulis tentang remaja kota Bandung menemukan bahwa yang namanya kenakalan remaja sejak era 1950-an hingga saat ini sebangun, termasuk juga geng. 

Fajar Melati murid kelas III SMA 3 Bandung dalam cerpennya bertajuk Suasana Peladjar di SMA-XYZ” di Pikiran Rakjat, 25 April 1951, mengungkapkan tentang persahabatan dua siswa fiktif SMA XYZ di kota modern.

Yang satu bernama Hidajat, karakternya pendiam, tidak pernah bercakap-cakap ketika gurunya menerangkan dan sahabatnya Amat bertolak belakang: suka membolos karena tidak suka pelajaran dan gemar mengganggu anak perempuan.   

Di akhir kuartal nilai rapot Hidajat rata-rata bagus, sedangkan Amat hanya Bahasa Inggris mendapatkan nilai 8. Tetapi Amat tetap membolos pulang jam 09.30 karena hendak menonton film Mij Dream is Your’s di Majestic yang dibintangi Doris Day. Sementara Hidajat menampik ajakannya dan tetap di sekolah. 

Cerpen itu tidak menghakimi siapa pun. Lebih tepat menggambarkan dua tipologi remaja masa itu yang satu mencintai budaya bangsanya dan yang kedua menyukai budaya asing.

Setelah Perang Kemerdekaan usai, kehidupan sekolah pulih. Remaja mencari aktualisasi. Ada yang mengikuti gerakan kepanduan dengan keterampilan mengagumkan, seperti meloncat dalam lingkaran pada peringatan Hari Lord Baden Powel, Februari 1951, seperti dikutip Pikiran Rakjat 23 Februari 1951.

Kegiatan lainnya ialah Palang Merah Pemuda (cikal bakal PMR sekarang). Pada hari peringatan PMI 16 September 1951. Pikiran Rakjat edisi 17 September 1951 menceritakan para pemuda dengan menggunakan dua buah truk berangkat dari Jalan Nias Bandung menuju rumah sakit Rancabadak (Hasan Sadikin sekarang) dan Santo Yusuf Cicadas.

Mereka membawa gift boxes sumbangan Palang Merah Pemuda Amerika dari California untuk anak-anak yang sakit. Bingkisan itu berisi potlot untuk menggambar, buku catatan, sabun, sapu tangan, serta kaus kaki.

Kota Bandung menggelar pertandingan olahraga antarsekolah untuk menyalurkan energi berlebih dan menampilkan aktualisasi dirinya. Di antaranya lomba renang antarsekolah yang digelar Perkumpulan Renang Tirta Marta di tempat Permandian Centrum pada 31 Mei 1951 menurut Pikiran Rakjat 1 Juni 1951.  

Foto: Repro Pikiran Rakjat/Perpusnas/Koleksi Irvan Sjafari

Perlombaan renang ini merupakan debutan dari Carla Oen dan Galih Resi yang kelak menjadi atlet nasional Indonesia sampai ke event internasional. 

Pada waktu itu juga kasti menjadi olahraga populer di kalangan pelajar. Selain pertandingan antarsekolah, mereka yang terpilih memperkuat keresidenan masing-masing untuk kejuaraan wilayah.

Bagaimana pada awal 1950-an? Keterlibatan anak-anak dalam beberapa aksi gerombolan bersenjata menjadi hal biasa. Menurut Ketua Perhimpunan Pro Juventute (perkumpulan orang konsen terhadap tindak pidana yang dilakukan anak-anak masa itu) Nyonya Surja Djanegara, sebelum perang perhimpunan Pro Juventute hanya untuk anak-anak orang Belanda, karena anak-anak orang Indonesia jarang yang melakukan kejahatan.  

Namun pada 1950-an sebagai akibat perang banyak anak Indonesia di bawah umur terlantar dan ditangkap polisi karena melakukan kejahatan. Menurut laporan Perhimpunan Pro Juventure Bandung  selama 1951 terdapat 221 anak yang harus diurus oleh Pro Juventure.

Dari jumlah itu 112 di antaranya terlibat tindakan kejahatan. Dalam 1952 jumlah anak-anak yang diurus pro juventute mencapai 200 orang. Kejahatan yang dilakukan pencurian, pencopetan, menodong hingga pencurian.

Bahkan tidak jarang kejahatan juga dilakukan anak-anak orang kaya. Misalnya pada November 1952 seorang anak umur 14 tahun dihukum di Pengadilan Negeri Bandung. Padahal dia adalah putra pegawai tinggi Jakarta yang datang ke Bandung melarikan mobil seorang kawannya, anak seorang Tionghoa.

Sekalipun ada anak nakal secara umum nasionalisme remaja masih tinggi. Mereka berbaris memegang bendera merah putih ketika Bung Karno datang ke Kota Bandung. Mereka menyukai lagu-lagu nasional.

Lihat dan lihatlah/Tentu Engkau ketjewa/Karena Tjita2mu belum terlaksana/Korupsi telah meradjalela di kalangan atasan/ Kursi kedudukan selalu djadi rebutan/ Dan rakjat djelata tetap melarat derita/ Keamanan dan kemakkuran belum djuga tertjipta.

Ini merupakan petikan puisi berjudul Ah Belum Terlaksana Bung, yang ditulis oleh F. Ahir siswa SMP 3 Bandung ini dimuat dalam Kolom Kuntum Mekar, Pikiran Rakjat, 14 November 1951 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan.

Puisi  ini menyiratkan betapa kritis dan pedulinya anak-anak sekolah di Bandung pada 1950-an terhadap Tanah Air dan membuktikan juga masih banyak remaja yang mencari jati dirinya dengan cara positif. 

Pertengahan 1950-an: Maraknya Crossboy

Tapi memasuki pertengahan 1950-an kenakalan remaja lebih serius dengan munculnya apa yang disebut ‘crossboy’ dan kerap disebut ‘cowboy’. Pengaruh film Hollywood seperti A Rebel Without A Cause yang dibintangi James Dean diduga menjadi salah satu pemicunya.

Pada kuartal terakhir  1957 maraknya perilaku para cowboy atau crossboy (dua istilah yang saling berganti tetapi mengacu pada suatu kelompok remaja yang antisosial) akhirnya membuat aparat militer ikut menindak.

Tindakan ini terjadi bersamaan ketika situasi politik nasional kian memanas dan meningkatnya perasaan antiBarat dan yang dianggap berbau Barat. Keberadaan para cowboy atau crossboy rupanya dianggap sebagai efek negatif dari budaya Barat. Sejumlah perilaku para crossboy ini dinilai tidak bisa lagi ditolelir.

Pertengahan Oktober 1957 Polisi Bandung giat melakukan penangkapan terhadap crossboy terutama yang bergabung dengan geng bernama Tiger Mambo dan Jaket Merah. Paling tidak dua anggota Tiger Mambo masuk tahanan.

Menurut Pikiran Rakjat, 22 Oktober 1957 Kepala Reskrim Keresidenan Priangan Raden Imam Supojo mengatakan penangkapan dilakukan karena anak-anak itu melakukan keonaran. Mereka yeng berusia belasan tahun itu meniru-niru apa yang ada dalam film.

Pada 28 Oktober 1957 sebanyak 9 orang crossboy dari Jakarta laki-laki dan perempuan ditangkap ketika naik sepeda motor di Jalan Stasiun Bandung. Kemudian mereka digiring ke kantor polisi Bandung. Pikiran Rakjat 29 Oktober 1957 mengabarkan para pemuda dan pemudi itu memakai celana jengki, jaket merah dan berpakaian cowboy.

Akhirnya militer turun tangan pada November 1957. Kepala Staf Harian Pelaksana Kekuasan Militer KMKB Bandung Mayor T Arumah mengeluarkan pernyataan bahwa crossboy selalu menganggu ketenteraman umum sebenarnya dapat disalurkan guna kepentingan Negara.  

Mayor Arumah menuding crossboy dapat merusak persatuan pemuda. Dia menyatakan akan melakukan tindakan drastis antara lain mencukur habis rambut para crossboy yang berbuat onar, dipotret dan dicatat namanya untuk masuk dokumentasi.  

Para crossboy yang tertangkap akan dibawa keluar kota dengan mobil kemudian diturunkan di tengah jalan untuk pulang jalan kaki. Alternatif lain crossboy yang tertangkap harus menunggang kuda tanpa pelana.

1970-an -1980-an Munculnya Geng Motor

Pada 1970-an dan 1980-an menurut kriminolog dari Universitas Padjadjaran Yesmil Anwar muncul apa yang disebut sebagai kenakalan remaja atau deliquency junevile pada 1970-an, dalam bentuk alap-alap motor. Waktu itu Jalan Dago belum dibelah dua.

“Motifnya awalnya remaja ingin menunjukkan eksistensi di depan kawan sebaya. Sayangnya situasi ini tidak ditanggulangi dengan baik, baik oleh orang tua yang bertanggung jawab, sekolah, masyarakat maupun polisi,” ujar Yesmil seperti dikutip dari https://koridor.co.id/berita/frekuensi-kejahatan-di-kota-bandung-meningkat-korban-maupun-pelaku-rata-rata-berusia-muda-jumlah-manusia-dan-kendaraan-bertambah-penegakan-hukum-kurang/

Memang pemberitaan Pikiran Rakjat pada 1950-an ada klub vespa atau klub motor atau kerap melakukan tur atau mengadakan event. Tetapi perlu kajian apakah klub-klub ini memberi inspirasi pada geng motor atau berdiri sendiri.

Novel karya Pidi Baiq Dilan 1990 dan Dilan 1991 merupakan referensi yang cukup baik tentang bagaimana remaja Kota Bandung yang memilih mengaktualisasikan dirinya di Geng Motor. Dalam cerita Dilan bisa terungkap bahwa geng motor bukan hanya era 1990-an tetapi jauh sebelum itu.

“Ibu cerita tentang waktu dia remaja di Bandung. Katanya, dia juga punya banyak kawan yang aktif di geng motor. Katanya, Bandung memang begitu dari dulu, banyak geng motor, tapi pada dasarnya mereka adalah anak-anak muda yang asyik,” demikian kata tokohnya Dilan pada Milea dalam Dilan 2: Dia Dilanku 1991, halaman 196.

Sastrawan Gol A Gong mengamini hal itu. Katanya kepada Koridor, 1980-an hingga 1990-an ramai sekali dunia nyata. Belum ada internet. Dunia nyata ramai sekali. Semua berekspresi di dunia nyata. Misalnya demam motor geng. Tawurannya bukan kriminal, setelah itu damai. Kadang duel. Tidak ada lagi yang mereka lakukan. Sekarang mereka bersembunyi di dalam rumah dan kafe.

Gol A Gong-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Dia menyebut geng motor juga ada di Serang tahun 1980-an tetapi bukan geng mtor yang konotasinya buruk seperti sekarang, main bacok orang di pinggir jalan. Geng motor itu berdasarkan orientasi anggotanya, ada yang senang musik, maka nama musiknya geng.

“Hanya kenakalan remaja, bukan kriminal. Mereka hanya turing, membolos sekolah,” ujarnya.

Era Milenial

Pada masa digital ini  tak jauh beda dengan masa lalu, masa remaja  merupakan masa mencari jati diri. Menurut Gol A Gong yang membedakan hanya medianya. Kenakalan kini disalurkan melalui gadget.

“Kalau zaman saya masih memakai mesin tik hingga pesawat komputer, kalau sekarang menggunaan laptop hingga ponsel cerdas. Kalau dulu kreativitas dengan menulis menggunakan mesin tik, kalau sekarang menjadi konten kreator,” ungkap dia.

Kalau dulu perundungan dilakukan secara fisik, kalau sekarang dengan cara cyber dengan sasaran mental atau cyberbullying. Remaja semakin mudah mengakses  pornografi. 

Rilis resmi APJII pada Mei 2019 menyebutkan sebagian terbesar pengguna internet pada tahun 2018 dengan persentase 91% adalah remaja pada usia 15 hingga 19 tahun.

Tingginya angka tersebut semakin menguatkan potensi terjadinya penyimpangan sosial secara daring, termasuk di dalamnya fenomena cyberbullying. Tetapi sebaliknya ada yang mencari jati diri dengan konten Youtube, Tik tok yang kreatif.

Kalau dulu anak muda mencari tempat wisata dengan panorama alam menjadi favorit, kalau kini tempat wisata yang disukai kaum milenial yang penting adalah obyeknya yang instagramable.

Bagaimana dengan kejahatan yang melibatkan remaja? Kriminolog Unpad Yesmil Anwar mengatakan. Perilaku yang dilakukan geng motor menjadi kejahatan, ketika minuman keras masuk dan mau tidak mau harus ditanggulangi dengan penegakan hukum.

Sayangnya, penegakan hukum menghadapi kendala seperti peraturan, UU, Perda yang kurang mendukung. Lalu, jumlah polisi masih kurang, fasilitasnya kurang memadai, masyarakat kita yang kurang berpartisipasi tidak melapor hingga budaya masyarakat yang tidak mau diatur hukum.

Artikel Terkait

Terkini