Jalan sunyi publisis film di Indonesia. Tak banyak orang menyadari pentingnya kinerja mereka dalam mengabarkan sebuah film

Koridor.co.id

Suasana pemutaran film Pengabdi Setan 2: Communion untuk kalangan wartawan di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (Foto: Arman Febryan/Poplicist)

Nazira C. Noer jalan tergopoh. Bergegas menyusuri lorong memasuki Studio 4 yang berkelok ke kanan. Ivan Makshara yang mengikuti di belakang coba menyejajarkan langkah.

Ketika tiba di dalam studio yang dipadati jurnalis dari berbagai media yang ada di sekitar Jakarta, sudah ada Tasya Aziza, Muhammad Ghifar, dan Arman Febryan di sana.

Bubu—demikian sapaan akrab Nazira—dengan cergas segera menempelkan kertas bertuliskan nama-nama pada dua baris kursi di depan layar bioskop. Itu kursi yang sengaja diletakkan untuk diisi para pemain, sutradara, dan produser.

Sementara Talitha Mailangkay dan Nova Mochtar sigap duduk mengisi pos meja registrasi para wartawan undangan di bagian luar studio.

Demikianlah secuplik aktivitas para awak Poplicist saat menggelar acara peluncuran trailer dan poster film Noktah Merah Perkawinan produksi Rapi Films yang berlangsung di XXI Plaza Senayan, Kamis (28/7/2022) petang.

Berantara hampir sepekan kemudian, tepatnya Selasa (2/8/2022), mereka kembali menangani kegiatan serupa. Tetapi, kali ini dengan skala dan tingkat kerepotan lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Salah satu film horor paling diantisipasi kemunculannya, Pengabdi Setan 2: Communion, menggelar sesi penayangan terbatas untuk kalangan wartawan (press screening). Lalu dirangkaikan pesta pemutaran perdana alias gala premiere. Tempatnya di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Bagi seorang publisis film, dua sesi yang kerap beriringan dalam sekali penyelenggaraan ini bisa dibilang merupakan saat-saat menentukan. Fase krusial.

“Jadi sesi press screening dan gala premiere itu klimaksnya kami. Makanya kalau sesi begini, nih, gue udah bener-bener senggol bacok, tuh. Ha-ha-ha,” ujar Bubu kepada Koridor.

Lantaran ada lebih banyak orang yang hadir, mulai dari para wartawan dan tamu-tamu undangan lain, pula agenda acara lebih padat, beban kerja otomatis jadi berlipat ganda.

Ada banyak sekali tugas yang harus mereka kawal dalam fase krusial ini. Mulai dari memverifikasi para tetamu, mengadakan konferensi pers dengan kalangan media, memberikan taklimat kepada para pemain dan kru. Lalu, menggelar sesi foto, mendampingi satu per satu narasumber film saat menghadapi sesi wawancara langsung, mengemas jalannya acara karpet merah, hingga meminta testimoni penonton sebagai bahan promosi.

Alhasil Bubu dan timnya tak henti saling berkomunikasi, secara langsung atau melalui perantara protofon (walkie-talkie). Memastikan semua berjalan mulus sesuai rencana.

Maka tak heran Bubu sempat melontar ujaran, “Gue kebelet pipis, nih. Toiletnya bisa geser ke sini, aja, gak?” Jarak toilet yang tak seberapa itu terasa jauh dari jangkauan. Saking sibuknya.

Dalam kesempatan wawancara sambil mencuri-curi waktu ini, beberapa kali ada jeda lantaran Bubu berulang kali harus menerima laporan dari anak buahnya, atau menjawab panggilan telepon yang menanyakan jatah undangan gala premiere.

Sore berganti malam. Angka penunjuk waktu berjalan cepat. Tak terasa makin larut. Satu per satu penonton gala premiere yang terdiri atas tamu undangan melangkah keluar dari dua pintu studio di XXI Epicentrum. Mereka melontarkan pujian sekaligus kepuasan setelah menyaksikan film garapan Joko Anwar itu.

Bagi para wadyabala Poplicist, pemandangan demikian melunturkan seketika rasa capek dan stres yang mendera sedari siang. Kini mereka bisa pulang dan beristirahat sejenak. Esok masih ada kerja-kerja serupa menanti.

Pasalnya Pengabdi Setan 2: Communion hanya satu dari sekian banyak proyek film yang ditangani Poplicist sepanjang tahun ini. Diakui Bubu selaku Head of Publicist Poplicist, ada banyak sekali tawaran dari rumah produksi atau prodser yang menginginkan pihaknya menangani publisitas sebuah film.

“Biasanya publisis yang pitching ke produser, kami ini kebalikannya. Produser yang memberikan penawaran ke Poplicist. Makanya gue dalam setahun cuma mau pegang maksimal 12 film. Tahun ini slot kami sudah penuh. Tahun depan tersisa empat jatah lagi,” ungkap putri dari pasangan sutradara kawakan Arifin C. Noer dan aktris Jajang C. Noer.

Kondisi ini berbanding jauh kala pandemi Covid-19 melanda dua tahun silam. Seturut banyaknya produksi film yang harus berhenti, tentu saja jumlah proyek yang nyantol jauh berkurang. Kala itu beberapa kelompok penyedia jasa serupa terpaksa gulung tikar.

Untuk menyiasatinya, Nazira berusaha mencari celah dengan mengambil proyek-proyek film dan serial yang tayang melalui layanan pengaliran video. Segala agenda konferensi pers dialihkan ke ranah daring (online). “Alhamdulillah napas kami bertahan melewati fase itu,” tambah Bubu.

Nazira C. Noer (kiri) mengawasi jalannya proses wawancara antara Marsha Timothy, pemain film Noktah Merah Perkawinan, dengan sebuah media televisi (Andi Baso Djaya/Koridor)

Mengapa reputasi Poplicist sebagai publisis film yang resmi berdiri 2018 bisa melesat cepat? Salah satunya terang saja lantaran kinerja apik. Pandai meramu strategi komunikasi yang jitu untuk mempublikasikan informasi tentang sebuah film kepada masyarakat luas yang jadi target pasar.

Corongnya melalui media. Jika dahulu hanya ada media konvensional, kini bertambah seturut kehadiran media digital. Oleh karena itu, seorang publisis kudu senantiasa menjalin relasi yang baik dengan media.

“Makanya gue suka enggak setuju kalau orang bilang jadi publisis harus jutek. Menjadi publisis seharusnya fleksibel. Ada waktunya bersikap tegas, tapi sekali waktu juga harus merangkul. Baik-baikin orang. Jangan jadi orang yang jutek terus,” demikian Bubu membeberkan prinsipnya.

Seperti dijelaskan Annalee Paulo yang kini menjabat sebagai President, Entertainment Marketing Division (West Coast) di 42West Publicist, lingkup kerja publisis itu berbeda dengan bagian pemasaran alias marketing.

“Publisis mengkhususkan diri dalam media yang diperoleh. Peran mereka adalah menyampaikan ide dan membujuk orang (media, selebriti, pemengaruh) untuk membantu mereka berbagi informasi secara lebih luas tentang informasi sebuah film,” tutur Annalee yang pernah menjadi publisis personal sineas macam Darren Aronofsky, Aaron Sorkin, dan Martin Scorsese.

Berlandaskan penyampaian Annalee tadi, menjadi sebuah keharusan bagi seorang publisis untuk mempublikasikan informasi film yang akan diputar dengan mempertimbangkan masalah hukum, etika, dan budaya. Termasuk menjawab pertanyaan atau menyediakan bahan-bahan buat informasi untuk para awak media.

Jika ada kontroversi atau masalah berkaitan film yang sedang ditangani, seorang publisis harus sigap menanganinya. Jam kerja laiknya karyawan kantoran pun jarang diterapkan oleh publisis.

“Kami, sih, enggak ada kantor. Semuanya mencar. Tapi, kalau tiba-tiba ada hal penting yang harus dibahas, kami biasanya ketemuan di kafe atau meeting online via Zoom,” jelas Nova Mochtar yang baru sekitar tujuh bulan bergabung di Poplicist.

Akhir pekan yang biasa jadi momen prei bagi pekerja lain bisa berubah jadi periode sibuk penuh kerjaan. Semisal melakoni safari keliling kota untuk menggelar acara nonton bareng bersama para pemain. Lelah sudah pasti.

“Tapi, kerja rasanya seperti liburan. Seru. Jadinya bisa ketemu banyak orang dan pemain-pemain yang selama ini cuma bisa saya lihat di layar televisi,” tambah Talitha Mailangkay. Mahasiswi London School of Public Relation ini sudah sembilan bulan menjadi bagian tim Poplicist. Bersama Tasya Aziza, ia menjabat media relations manager.

Nazira kepada rekan-rekan kerjanya selalu berpesan agar senantiasa belajar dan berinovasi. Jangan pernah memperlakukan film dengan cara yang sama. Sebab masing-masing film pasti berbeda satu sama lain.

Jika obsesi kebanyakan orang memasuki industri film kerap hanya menyasar posisi sutradara, penulis skenario, produser, sinematografer, pemain, atau pembuat ilustrasi musik, maka bidang publisis seharusnya bisa jadi opsi. Belum banyak orang yang menyasar profesi nan menjanjikan ini.

Seorang publisis di Indonesia sejauh ini ibarat mengarungi jalan pedang nan sunyi. Belum banyak orang menyadari betapa besar andil dan kerja keras mereka dalam setiap pemberitaan terkait film yang terbit di media.

Mirip perjuangan Joni dalam film Janji Joni (2005). Pontang-panting mengantarkan roll film dari satu bioskop ke bioskop lainnya agar penonton bisa menonton film hingga tuntas. Pun demikian, Poplicist punya kredo tegas, “Bahwa film harus dipromosikan tuntas.”

Artikel Terkait

Terkini