Jalan panjang menggemakan kembali album perdana Roxx. Sempat terbentur UU Hak Cipta karena masalah kepemilikan hak master rekaman

Koridor.co.id

Kelompok musik Roxx telah lama mengupayakan perilisan ulang album perdana mereka (Foto: Akun Instagram/@roxx_official)

Album perdana Roxx yang memuat 10 lagu itu aslinya meluncur ke pasaran Agustus 1992 di bawah label Blackboard Indonesia. Itu berselang enam tahun sejak awal band ini terbentuk. Sekujur album itu berkelir hitam. Hanya ada tulisan nama band warna merah di bagian depan yang diletakkan vertikal. Publik kemudian lebih mengenal self-titled album itu dengan sebutan album “Hitam”. Polygram International turut pula mendistribusikannya hingga ke Malaysia.

Kemunculan album perdana itu membuat geliat skena metal di Indonesia, terkhusus Jakarta, makin besar. Lagu-lagu semisal “Penguasa”, “5 Cm”, “Gontai”, dan tentu saja “Rock Bergema” menjadi hits. Judul lagu yang dituliskan terakhir kadung populer duluan karena termuat dalam album kompilasi 10 Finalis Festival Rock Se-Indonesia Ke-V (1989).

Benih kemunculan remaja penggemar musik keras ini sebenarnya sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya. Dan nama Roxx lagi-lagi punya andil besar dalam memantiknya. Demam glam/hair metal yang dimotori kelompok macam Motley Crue, Dokken, Stryper, hingga Bon Jovi sedang mencapai puncaknya. Wajah mereka hadir dalam balutan kosmetik dan kostum warna-warni penuh rumbai.

Segelintir remaja mulai jenuh dengan kondisi itu. Mereka mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Pencarian terjawab seturut munculnya Roxx yang beranggotakan Trison Manurung (vokalis), Wijaya (gitaris), Iwan Achtandi (gitatis), Tony “Monot” Agusbekti (bassis), dan Arry Yanuar (drummer).

Alih-alih terus mengikuti arus musik rock populer kala itu, Trison dkk. menyalak di atas panggung dengan suguhan musik thrash metal yang bertempo lebih cepat. Ketukan drum lebih rapat berkat penggunaan pedal ganda berpadu dengan riff-riff gitar yang kompleks. Dari segi penampilan juga tak perlu harus repot. Cukup mengenakan pakaian serba hitam tanpa riasan wajah yang menor.

Kuping pecinta musik cadas di Tanah Air kala itu belum terlalu familiar dengan subgenre thrash metal. Album-album Metallica, Megadeth, Anthrax, Slayer, Testament, atau Death Angel belum mengisi rak-rak toko kaset di Indonesia. Satu-satunya opsi untuk memiliki album dari band-band tersebut dengan membelinya di luar negeri. Tentu tak semua orang bisa.

Maka beruntunglah Roxx memiliki Arry, seorang anak pengusaha kaya yang kerap bertandang ke luar negeri. Pun memiliki lingkaran pertemanan di kalangan siswa Jakarta International School yang isinya melulu bule. Perkenalan mereka dengan Metallica bermula dari Arry.

Adalah Arry pula yang mendesak kawan-kawan bandnya untuk ganti haluan membawakan lagu-lagu beraliran thrash metal—terutama Metallica—dalam setiap kesempatan manggung. Hilang sudah kebiasaan membawakan repertoar lagu-lagu hair metal dengan dandanan mencolok.

Lambat laun berbekal citra baru itu Roxx mulai memiliki basis penggemar. Puncaknya tentu saja terjadi ketika album Hitam yang dicetak dalam format kaset meluncur ke pasaran. Pencarian warna musik baru yang mendobrak kemapanan berakhir sudah. Anak-anak muda dengan pakaian serba hitam memburu album itu ke toko-toko kaset. Menyetelnya berulang kali dengan volume maksimal. Sejak saat itu skena musik metal di Indonesia, khusus Jakarta dan Bandung, tak sama lagi.

Titimangsa Roxx. (Foto: Akun Instagram/@roxx_official)

Berkat pengaruhnya terhadap perkembangan skena musik metal di Tanah Air, Majalah Rolling Stone Indonesia (edisi No. 31, Desember 2007) memasukkannya dalam lis “150 Album Indonesia Terbaik”. Sementara pada edisi No. 56, Desember 2009, majalah yang sama memasukkan “Rock Bergema” sebagai salah satu dari “150 Lagu Indonesia Terbaik”.

Meskipun menempati posisi penting dalam sejarah industri musik Indonesia, kemasan fisik album perdana Roxx itu sulit didapatkan karena tak pernah dirilis lagi.  Dannil Setiawan selaku produser eksekutif album debut Roxx telah lama hilang tanpa jejak. Bahkan hingga saat ini tak ada satu pun yang mengetahui keberadaannya.

Alhasil tawaran dari sejumlah label musik untuk merilis kembali album bersejarah itu selalu mental di tengah jalan. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta jadi pertimbangan utama. Pasalnya segala urusan terkait penerbitan, penggandaan, dan pendistribusian ciptaan harus seizin Dannil Setiawan sebagai salah satu pemegang hak cipta album rekaman itu.

Ikhtiar pihak band menemukan Dannil sebenarnya berlangsung sejak lama. Bahkan sudah dilakukan Jaya ketika masih berstatus personel hingga akhirnya sang gitaris pendiri Roxx itu mengumumkan keluar pada awal 2016.

Usaha serupa kembali muncul tahun ini yang kebetulan bertepatan dengan 30 tahun usia perilisan self-titled album Roxx. Denny MR kali ini mendapat kepercayaan menjadi eksekutif produser melalui labelnya, Kamar Musik, yang turut menggandeng Total Metal Music.

Ihwal penunjukannya sebagai produser eksekutif dalam usaha perilisan ulang album debut Roxx, Denny MR yang mantan wartawan Majalah Hai dan kini mengurusi manajemen God Bless mengaku acara Mandalika Tropical Fest sebagai momentum awal.

Dalam acara yang berlangsung 19-20 Maret 2022 itu, ia terlibat pembicaraan serius dengan Trison. “Waktu itu ketemuan di coffee shop hotel tempat kami menginap. Tiba-tiba obrolan jadi serius dan topiknya mengerucut pada album perdana Roxx,” ungkap Denny saat dihubungi Koridor melalui sambungan telepon (25/6/2022).

Sepulang dari mengisi acara di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, komunikasi antara keduanya terjalin makin intens. Denny meminta Trison turut melibatkan Iwan, Tony, Sany Mirzan mewakili pihak keluarga almarhum Arry, dan termasuk Jaya.

Beres dengan segala urusan internal band, pencarian sosok Dannil kembali dilakukan. Hasilnya tetap nihil. Denny lantas berkonsultasi kepada sejumlah kolega yang mengerti perihal UU Hak Cipta. Mereka tak ingin niat baik melanggengkan album monumental ini tersangkut kasus hukum ke depannya. “Solusi terakhir yang bisa kami lakukan setelah melakukan berbagai konsultasi tadi adalah mengumumkannya di media cetak,” lanjut Denny.

Roxx kemudian memasang iklan berisi pengumuman yang dimuat oleh Koran Harian Terbit edisi 17 Juni 2022. Jika hingga 14 hari setelah penayangan pengumuman itu tak kunjung mendapat respons, maka pihak Roxx merasa berhak mengkomersialisasikan kembali karya mereka yang telah menjadi bagian sejarah musik Indonesia.

Landasan hukum yang mereka gunakan merujuk Pasal 18 dalam UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Isinya berbunyi; “Bahwa ciptaan buku, dan/atau semua hasil karya tulis lainnya, lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks yang dialihkan dalam perjanjian jual putus dan/atau pengalihan tanpa batas waktu, Hak Ciptanya beralih kembali kepada Pencipta pada saat perjanjian tersebut mencapai jangka waktu 25 (dua puluh lima) tahun.

Nah, ternyata dari segi hukum ini Jaya memiliki perspektif berbeda dengan kawan-kawannya. Oleh karena itu, namanya tak tercantum dalam pengumuman sebagai salah satu pihak yang ikut bertanda tangan.

Melalui sebuah unggahan di akun media sosial (24/6), Jaya menulis tidak berani terlibat karena merasa kontrak awal mereka dengan Dannil Setiawan bukan perjanjian jual putus. “Saya juga tidak bersedia menerima atau tepatnya tidak berani menerima transferan uang advance royalty rilis ulang ini yang ditawarkan oleh pihak manajemen Roxx,” sambung Jaya.

Istilah advance royalty merujuk pada sejumlah uang yang pembayarannya diserahkan di depan. Nominalnya tergantung jumlah copy atau salinan yang disepakati bersama.

Pun demikian, tekad Roxx merilis ulang album perdana mereka sudah bulat. Manajemen juga sudah menyisihkan royalti yang menjadi hak Jaya dan Dannil. Mereka bisa mengambilnya kapan pun.

Menurut bocoran Denny MR, proses remaster audio album sudah hampir rampung pengerjaannya. Berhubung tak mendapatkan pita master rekaman asli sebagai bahan penggandaan untuk merilis ulang album lawas ini, mereka kemudian mengumpulkan kaset-kaset album perdana Roxx yang kualitasnya paling terbaik.

Setelah mendengarkan dan membandingkan dengan saksama, akhirnya terpilih satu album hasil distribusi Polygram di Malaysia sebagai bahan baku untuk reissue. Keseluruhan proses perekaman ulang berlangsung di Jakarta dengan Trison sebagai pengawas.

Trison dalam keterangannya menulis perilisan ulang album perdana Roxx dijadwalkan berlangsung pekan kedua Juli 2022. “Album ini menjadi tonggak sejarah musik heavy metal di Indonesia. Supaya anak-anak metal sekarang tahu, mereka bisa menikmati hebatnya musik metal Indonesia saat ini karena perjuangan Roxx yang berdarah-darah 30 tahun lalu.”

Denny MR menambahkan bahwa dirinya sudah lama mendorong para personel Roxx untuk merilis ulang album debut ini. Sebagai salah satu artefak budaya populer, album tersebut harus diselamatkan agar bisa dinikmati dan diakses oleh generasi sekarang. “Tujuan lainnya agar para generasi muda kita paham konstruksi musik rock di Indonesia”.

Artikel Terkait

Terkini